Budidaya Cabai di Musim Hujan, Kementan Minta Petani Terapkan 2 Hal Ini

  • Bagikan
Ilustrasi/Shutterstock

INDONESIAUPDATE.ID – Cuaca dan iklim merupakan merupakan factor alam yang sangat berpengaruh dalam usaha pertanian. Namun kondisinya yang terkadang tidak sesuai prediksi perlu disiasati dengan penerapan teknologi-teknologi agar usaha pertanian tetap memberikan hasil yang menguntungkan.

Seperti halnya teknologi rain shelter dapat menjaga produktivitas tanaman cabai di musim hujan.

Rain shelter merupakan atap sungkup dari plastic UV yang dipasang menggunakan kerangka bambu, besi dan sejenisnya diatas pertanaman cabai.

Penggunaan rain shelter pada pertanaman cabai di musim hujan memberikan banyak manfaat diantaranya petani menjadi lebih tenang karena tanamannya terlindungi dari guyuran air hujan secara langsung sehingga bunga tidak rontok. buah tidak busuk.

Kelembabannya pun terjaga sehingga dapat mencegah serangan penyakit yang sangat ditakuti petani yakni antraknosa dan phythoptora.

Bambang Nuryono, petani cabai asal Purbalingga telah melakukan budidaya cabai menggukana rain shelter sejak tahun 2007. Sepanjang pengalamannya beliau hampir tidak pernah gagal.

Saat diwawancara via telephon pada sabtu (25/7) pihaknya menjelaskan bahwa Budidaya cabai menggunakan rain shelter ini pada umumnya sama dengan budidaya cabai biasa.

Namun disarankan dalam satu bedengan hanya satu baris tetapi jarak tanamnya lebih rapat. Tujuannya untuk mengurangi populasi hama thrips.

“Salah satu kelemahan budidaya cabai dengan rain shelter memang serangan thripsnya lebih banyak makanya tetap perlu penyiraman dan 20 hari sekali plastic UV harus digulung.

Tapi bagi saya mengendalikan thrips lebih gampang dibandingkan antraknose, makanya saya suka budidaya cabai dengan rain shelter ini,” ujar Yoyon sapaan akrabnya.

“Pengendalian thrips lebih mudah, disemprot dengan air biasa juga bisa. Sekaligus untuk penyiraman.” imbuhnya.

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Tommy Nugraha menghimbau agar tekmologi-telnologi seperti di Purbalingga ini bisa disebarluaskan sehingga produksi cabai tidak terkendala oleh musim. Petani bisa menanam cabai tanpa khawatir merugi meskipun musim hujan.

Berita Terkait  Anies Ungkapkan 3 Kunci Hadapi Musim Penghujan

“Dilihat dari segi biaya, modalnya memang terlihat lebih besar dibanding budidaya tanpa sungkup. Namun sebenarnya sama saja. Penggunaan sungkup ini dapat menekan pengeluaran biaya pestisida dan biaya tenaga kerja semprot serta sanitasinya.

Selain itu potensi hasilnya juga lebih banyak karena buah tidak kena patek. Pun biasanya harga cenderung lebih menguntungkan dimusim-musim tersebut,” jelas Tommy.

Senada, Dessy Rahmaniar, Kasubdit Aneka Cabai dan Sayuran Buah menambahkan, penggunaan pestisida kimia untuk pengendalian hama di musim kemarau bisa diganti dengan pestisida nabati sehingga biayanya lebih efisien.

Pestisida nabati dapat dibuat sendiri dengan menggunakan bahan-bahan yang mudah diperoleh dilingkungan sekitar seperti daun cengkeh, daun sirsak, daun mimba, dan daun papaya.

“Dengan cara di ekstrak dan hasilnya dicampurkan dengan air untuk penyemprotan,” ujar dia.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *