30 Tahun Indonesia Ratifikasi KHA, Wujudkan Indonesia Layak Anak

  • Bagikan

INDONESIAUPDATE.ID – Anak bukan sekadar penerima tongkat estafet penerus kehidupan, lebih dari itu ia adalah subjek atau aktor pembuat perubahan. Mereka merupakan insan yang memiliki pilihan untuk mengembangkan potensi, mendapatkan pendidikan, hingga pilihan untuk lari dari kekerasan.

Tiga puluh tahun Pemerintah Indonesia meratifikasi Konvensi Hak Anak (KHA), empat pilar pembangunan anak, yakni pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan media bersama-sama terus berupaya melaksanakan prinsip KHA untuk menciptakan ekosistem yang mendukung potensi terbesar anak serta dunia yang layak anak.

“Ada 4 (empat) prinsip yang harus kita laksanakan dalam KHA, yakni non diskriminasi, kepentingan terbaik bagi anak, hak anak untuk hidup, tumbuh, dan berkembang, serta harus menghargai hak anak untuk berpartisipasi dan bersuara dalam proses pembangunan bangsa.

Melalui 4 pilar pembangunan anak, yakni pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan media bersama-sama melaksanakan prinsip KHA serta menuju Indonesia Layak Anak (IDOLA) 2030 demi terwujudnya dunia yang layak anak,” ujar Plt. Deputi Bidang Pemenuhan Hak Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), Lenny N Rosalin pada Peringatan 30 Tahun Pemerintah Indonesia Meratifikasi Konvensi Hak Anak (KHA) (19/11).

Puteri Indonesia Lingkungan 2020, Putu Ayu Saraswati percaya bahwa momentum ini semakin memperkuat komitmen, sinergi, dan perjuangan 4 pilar pembangunan anak untuk mewujudkan ekosistem dimana anak dapat tumbuh dan berkembang dengan bahagia dan sesuai dengan potensi terbesar mereka.

Namun, lebih dari itu, Putu Ayu Saraswati mengungkapkan ada 3 (tiga) hal penting yang ia harap diketahui sejak kecil, dan penting untuk diketahui anak-anak.

“Pertama, anak bukan hanya sebatas penerima tongkat estafet saat mereka menjadi dewasa, tapi anak merupakan pelopor dan pembuat perubahan. Oleh karenanya, dari sekarang kita harus melibatkan anak dalam membuat perubahan dan mengambil keputusan positif di masyarakat.

Berita Terkait  PHI Ke-92: Refleksi Perjuangan Perempuan, Gelorakan Kesetaraan

Terbukti, seorang influencer anak, Shanna Shannon sejak berusia 7 tahun sudah berpikir dan tergerak hatinya untuk memberikan les Bahasa Inggris gratis kepada teman-temannya di rumah susun Jakarta. Selain itu, kakak beradik Melati Wijsen (12) dan Isabel Wijsen (10) mampu membuat gerakan “Bye Bye Plastic Bag” di Bali,” cerita Putu Ayu.

Gerakan “Bye Bye Plastic Bag” dilakukan dengan cara meningkatkan kesadaran dan mengedukasi masyarakat terkait dampak berbahaya plastik terhadap lingkungan, hewan, dan kesehatan kita, serta berbagi cara menjadi bagian dari solusi.

Gerakan ini telah mengajak lebih dari 20.000 remaja dan membuat 2 (dua) buku kecil yang ditujukan untuk sekolah dasar di Indonesia.

Hal selanjutnya yang ia sampaikan adalah agar anak-anak percaya tentang kekuatan sebuah mimpi. Sebagai pecinta binatang, Putu Ayu mengaku memiliki mimpi untuk melihat dunia dimana binatang tidak banyak disakiti dan alam tidak dieksploitasi. Ia tahu persis apa mimpinya.

Untuk mewujudkannya, ia berusaha untuk mengenyam pendidikan tinggi, mengembangkan diri berbicara di depan umum, dan bergabung dengan komunitas agar memiliki banyak teman. Ia pun selalu membuat langkah kecil untuk mewujudkannya.

Berkat hal tersebut, akhirnya ia dianugerahi sebagai Puteri Indonesia Lingkungan 2020, sehingga mampu mengajak lebih banyak orang untuk mencintai lingkungan.

“Terakhir, anak-anak punya pilihan. Sayangnya, tidak semua anak memiliki kesempatan itu. Masih ada anak yang tidak sadar tentang hak mendapatkan pendidikan, bahkan mereka tidak sadar sedang dieksploitasi.

Pesan saya untuk anak-anak di Indonesia bahwa kalian punya hak, kalian punya pilihan. Pilihlah untuk bersekolah, pilihlah cita-cita yang tinggi, pilihlah untuk menghindari dan lari dari kekerasan,” pesan Putu Ayu.

Hal tersebut telah diterapkan oleh penyanyi sekaligus influencer anak, Shanna Shannon yang telah memulai karir bernyanyinya untuk membantu banyak orang.

Berita Terkait  KBRI Cairo Gelar “Pass Through Graduation” dan Apresiasi Prestasi Bagi 170 Orang Duta Al-Azhar yang Siap Mengabdi untuk Negeri

“Dulu saya adalah anak yang pemalu. Namun, Ibu saya yakin bahwa saya memiliki potensi untuk untuk bernyanyi, dan dengan bernyanyi saya bisa membantu banyak orang. Dengan alasan tersebut, akhirnya saya memutuskan untuk bernyanyi.

Saya bernyanyi untuk membantu banyak orang melalui kegiatan sosial, seperti memberi akta kelahiran bagi anak-anak di Nusa Tenggara Timur, membantu program air bersih, dan berkunjung ke Lombok setelah bencana gempa bumi. Pesan saya untuk teman-teman, gunakanlah potensimu untuk membantu orang lain,” cerita Shannon.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *