Entrepreuneur Sosial Berbasis Religi Solusi Membangkitkan Ekonomi Masyarakat

  • Bagikan

Oleh: Hudi Santoso*

INDONESIAUPDATE.ID – Menjadi entrepreuneur merupakan salah satu solusi untuk mengurangi jumlah pengangguran. Di Indonesia, pada Februari 2019 tingkat pengangguran terbuka mencapai 5,01 persen.

Angka tersebut menurun dari tahun sebelumya yang mencapai 5,13 persen (BPS 2018). Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) merupakan salah satu penggerak roda pembangunan ekonomi masyarakat di Indonesia.

UMKM perlu dikembangkan bahkan perlu ditangani secara serius oleh stakeholder (para pemangku kepentingan) terutama di desa-desa.

Jumlah wirausaha di Indonesia sendiri masih mencapai angka 3,1 persen dari total penduduknya.

Meskipun rasio tersebut sudah melampaui standar internasional, yakni dua persen dari total penduduknya, Indonesia masih perlu meningkatkan jumlah wirausahanya agar dapat bersaing dengan negara tetangga (Siregar 2018).

Di Kabupaten Bogor banyak kelompok pemuda wirausaha yang berhasil menggerakkan ekonomi.

Mereka terbilang sukses dalam melakukan pemberdayaan masyarakat dengan pemanfaatan teknologi internet sebagai sarana komunikasi pemasaran salah satunya melalui website dan media sosial.

Berdasarkan data Ashoka Foundation yang berada di Indonesia, keberadaan wirausaha Indonesia terus meningkat. Hal tersebut dapat dilihat dari peningkatan jumlah data wirausaha sosial di Indonesia yang tergabung Ashoka Foundation.

Kelompok pemuda wirausaha memahami betul pentingnya filosofi enterpreuner berbasis religi sebagai landasan di dalam menggerakkan dan mengembangkan usahanya.

Menurutnya yang pertama menghidupkan kembali sholat lima waktu secara berjamaah di Masjid. Kedua senantiasa konsisten di dalam sedekah yang dilakukan setelah sholat shubuh.

Ketiga membangun komitmen bersama dalam teamwork. Tiga hal tersebut yang menjadi dasar dalam mengerakkan dan mengembangkan usaha bisnisnya.

Kelompok pemuda wirausaha juga menerapkan 4 nilai utama karakter yang dimiliki sociopreneur yaitu: social value (nilai sosial), civil society (lingkungan masyarakat), inovation (inovasi), dan economic activity (kegiatan ekonomi).

Berita Terkait  Pandemi Covid-19 Dalam Perspektif Sosial dan Ekonomi

Hal tersebut sejalan dengan apa yang disampaikan Hulgard (2010) dalam tulisannya yang menjelaskan bahwa elemen kewirausahaan sosial terdiri dari nilai sosial, masyarakat sipil, inovasi, dan aktivitas ekonomi.

Sociopreneurship merupakan solusi gerakan sosial di bidang ekonomi yang dapat memberikan peluang usaha terutama di lingkungan sekitar terutama di pedesaan.

Selain perbaikan ekonomi mikro, karakter sociopreneur harus mampu meningkatkan daya beli masyarakat untuk perekonomian berkelanjutan.

Disinilah, alasan mengapa sociopreneurship mampu menjadi solusi, karena selain bersifat sustainable pada perekonomian, sociopreneurship mampu memberikan solusi efektif dan taktis terhadap permasalahan perekonomian terutama di tengah pandemi dan ekonomi yang sulit seperti ini.

Keberadaan kewirausahaan sosial dianggap sebagai sarana mengatasi masalah sosial kritis secara global (Nicholls 2006).

Pengembangan UMKM di Kabupaten Bogor sangat potensial dan sesuai dengan kondisi dan karakter masyarakat setempat.

Kelompok pemuda wirausaha tersebut mampu menyediakan lapangan pekerjaan, khususnya bagi tenaga kerja berpendidikan rendah yang banyak terdapat di lingkungan desa.

Bisa memberdayakan ibu-ibu rumah tangga sebagai tenaga pemasaran digital professional, membangun nilai sosial, serta memperkokoh jiwa religi.

UMKM juga menyediakan berbagai kebutuhan yang dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat dan mendukung kedaulatan konsumen. Banyak kontribusi yang dapat diberikan UMKM, terutama bagi sektor sosial dan ekonomi, namun kontribusi ini belum terealisasi secara optimal.

Pembeda antara kewirausahaan dengan kewirausahaan sosial adalah kewirausahaan sosial muncul dari inovasi-inovasi untuk menyelesaikan masalah sosial, sementara pada kewirausahaan komersial pada umumnya inovasi muncul sebagai upaya untuk menghasilkan keuntungan (Prayogo 2016).

Dalam menjalankan usahanya, seringkali UMKM mengalami berbagai kendala, terutama dalam hal memasarkan produknya di media sosial. Hal tersebut disebabkan penerapan pajak dari pemerintah sebesar 10 persen.

Berita Terkait  Pengembangan Food Estate Kalimantan Tengah Sentuh Solidaritas Masyarakat

Penerapan pajak10 persen dalam beriklan di media sosial berdampak besar terutama bagi UMKM. Sementara di era globalisasi di tengah pandemi ini, UMKM juga harus menghadapi persaingan dengan usaha sejenis lainnya, juga dengan usaha besar, baik dari dalam maupun luar negeri.

Untuk itu, UMKM dituntut untuk memiliki daya saing usaha yang baik, agar mampu bertahan dan berkontribusi secara optimal bagi masyarakat.

Apa yang dilakukan oleh mereka akan membantu pembangunan yang berkelanjutan. Ini sesuai dengan studi komunikasi pembangunan yang diarahkan serta dilakukan oleh orang harus memberikan nilai keberlanjutan.

Kehadiran kelompok pemuda wirausaha ini membuat orang di lingkungannnya semakin semangat untuk bergerak. Hal tersebut seperti yang ada dalam Al Qur’an “burung yang berangkat terbang dari sarangnya itu dalam kondisi kosong, namun karena mempunyai semangat untuk bergerak, berikhtiar dalam menjemput rezeqi, maka pulangnya akan mendapatkan hasil dari usahanya tersebut”.

Riset-riset komunikasi mengingatkan semua orang bahwa apa yang seharusnya menjadi perhatian kita semua bukan hanya ekonomi saja. Karena kalau ekonomi, dampaknya ke konglomerat, orang-orang kaya.

Kelompok pemuda wirausaha seperti mereka bisa menggerakkan usaha, ekonomi, terlebih bidang sosial dan religi. Untuk itu perlu keberlanjutan dalam hal pendampingan dan pembinaan agar tumbuh gerakan-gerakan sosiopreuner di Indonesia yang bisa diberdayakan serta menjadi stimulan masyarakat.

*) Dosen Prodi Komunikasi, SV IPB University, Mahasiswa S3 KMP IPB

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *