Pencegahan dan Penanggulan HIV/AIDS Menurut Permenkes RI No. 21 Tahun 2013

  • Bagikan
Ilustrasi HIV/AIDS. shutterstock

Oleh: Rika Galeindra Prakasd

Awal mula penyebaran HIV muncul pertama kalinya di Kinshasa, sebuah pusat dan kota terbesar Republik Demokratik Kongo. Sebenarnya, virus HIV mulanya terdapat pada hewan. Identifikasi awal yang identik dengan HIV yaitu dengan ditemukannya sebuah rangkaian virus yang dimiliki simpanse. Virus ini disebut sebagai Simian Immunodeficiency Virus atau SIV. Virus SIV ini menyebar ke manusia ketika perburuan terjadi di Afrika. Simpanse yang terjangkit virus mematikan ini dimakan oleh pemburu atau cipratan darah/carian dari tubuh simpanse masuk ke tubuh pemburu melalui luka. Setelah tubuh manusia terjangkit, virus SIV berevolusi menjadi HIV. Penyebarannya terjadi melalui perdagangan manusia (sex trade) dan para imigran.

Pada tahun 1960-an, virus HIV menyebar mulai dari Afrika hingga Haiti dan orang-orang Kepulauan Karibia. Penyebaran berikutnya terjadi satu dekade setelahnya. Virus HIV berpindah dari Kepulauan Karibia ke New York City pada sekitar tahun 1970, lalu ke San Francisco.

AIDS adalah singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome, sementara HIV singkatan dari Human Immunodeficiency Virus. Seperti yang kita semua tahu HIV/AIDS adalah salah satu penyakit menular yang menyerang sistem kekebalan tubuh kita dan dalam jangka panjang umumnya akan berujung pada kematian.

Berdasarkan data WHO, hingga akhir tahun 2017, terdapat 36,9 juta orang hidup dengan HIV, dengan 1,8 juta infeksi baru di tahun yang sama. Berdasarkan Laporan Perkembangan HIV AIDS dan Infeksi Seksual Menular tahun 2017 oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, jumlah kumulatif infeksi HIV sampai dengan Desember 2017 di Indonesia adalah sebanyak 280.263 kasus, dan jumlah kumulatif AIDS sebanyak 102.667 kasus terhitung mulai dari tahun 1987 hingga Desember 2017. Dalam laporan yang sama juga ditemukan bahwa jumlah penemuan kasus infeksi baru HIV/AIDS mengalami peningkatan di setiap tahunnya.

Berita Terkait  Upaya Dalam Masalah Pembangunan Kesehatan Masyarakat Di Indonesia Menurut Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009

Di Indonesia sendiri, pengidap HIV dilaporkan berjumlah sekitar 349.882 jiwa dan AIDS sebanyak sekitar 117.064 jiwa. Jumlah kasus HIV tertinggi berada DKI Jakarta yaitu sebanyak 62.108 jiwa dan AIDS terbanyak adalah Papua yaitu sebanyak 22.554 jiwa.

Bagaimana faktor-faktor resiko HIV/AIDS? Berhubungan seksual lebih dari satu pasangan, menggunakan jarum suntik secara bergantian (yang biasanya sering terjadi pada penggunaan obat suntik/intravenous drug user), dan terlahir dari ibu yang positif menderita HIV.

Bagaimana gejala awal HIV? Gejala awal HIV diantaranya adalah demam tanpa sebab yang jelas, badan terasa lemas, nyeri tenggorokan, dan turunnya berat badan. Orang yang terinfeksi HIV dapat mengalami pembengkakan pada berbagai kelenjar, seperti daerah leher atau selangkangan. Biasanya gejala awal muncul setelah 2–6 minggu terinfeksi virus HIV. Karena gejalanya sama dengan flu biasa, banyak penderita tak menyadari bahwa dirinya sudah terinfeksi HIV. Oleh sebab itu, orang dengan faktor risiko HIV sebaiknya tidak meremehkan jika terkena flu, apalagi jika sudah berkepanjangan

Bagaimana etiologi HIV/AIDS? Retrovirus HIV merupakan agent etiologi yang primer. Penularan terjadi melalui kontak dengan darah atau cairan tubuh yang berkaitan dengan perilaku resiko tinggi yang bisa dikenali antara lain; laki-laki homoseksual dan biseksual, para pemakai obat intravena, neonatus dari ibu yang terinfeksi, resipien darah atau produk darah yang terkontaminasi

Bagaimana cara Penanggulangan HIV/AIDS Serta Pencegahan Penularan HIV/AIDS? Dalam melaksanakan upaya pencegahan dan penangulangan HIV/AIDS sebelumnya dilakukan penyuluhan kesehatan tentang HIV/AIDS mengenai pengertian HIV/AIDS, tanda dan gejala, cara penularan dan cara pencegahan kemudian dilakukan konseling pribadi untuk diminta persetujuan penyampaian informasi untuk screening pemeriksaan HIV/ AIDS pengambilan darah peserta.

Dasar Hukum Permenkes RI No. 21 Tahun 2013 tentang Penanggulangan HIV/AIDS

Berita Terkait  Kurangnya Kesadaran Masyarakat Dalam Tindak Pemalsuan Obat

a. Dasar Pertimbangan

– Peningkatan kejadian HIV/AIDS yang bervariasi mulai dari epidemi rendah, epidemi terkonsentrasi dan epidemi meluas, perlu dilakukan upaya penanggulangan HIV/AIDS secara terpadu, menyeluruh dan berkualitas

– Keputusan Menkes No.1285/Menkes/SK/X/2002 tentang Pedoman Penanggulangan HIV/AIDS dan Penyakit Menular Seksual sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan dan kebutuhan pelayanan kesehatan, dan kebutuhan hukum.

b. Ruang Lingkup

Peraturan Menteri ini meliputi penanggulangan HIV/AIDS secara komprehensif dan berkesinambungan yang terdiri atas promosi kesehatan, pencegahan, diagnosis, pengobatan dan rehabilitasi terhadap individu, keluarga, dan masyarakat.

c. Maksud dan Tujuan

– Menurunkan hingga menghilangkan infeksi HIV baru

– Mengurangi hingga menghilangkan kematian yang disebabkan oleh keadaan yang berkaitan dengan AIDS

– Menghilangkan diskriminasi terhadap ODHA

– Meningkatkan kualitas hidup ODHA

– Menurunkan dampak sosial ekonomi dari penyakit HIV/AIDS pada individu, keluarga dan masyarakat

d. Prinsip penanggulangan HIV/AIDS menurut Bab I Pasal 3

Prinsip yang harus diterapkan dalam penanggulangan HIV/AIDS, yaitu :

– Memperhatikan nilai-nilai agama, budaya, dan norma kemasyarakatan

– Menghormati harkat dan martabat manusia, memperhatikan keadilan dan kesetaraan gender

– Kegiatan ditujukan untuk mempertahankan dan memperkokoh ketahanan dan kesejahteraan keluarga

– Kegiatan terhubung dengan program pembangunan di tingkat nasional, provinsi dan kabupaten/kota

– Kegiatan dilakukan secara sistimatis dan terpadu, mulai dari meningkatkan perilaku hidup sehat, pencegahan penyakit, pengobatan, perawatan dan dukungan bagi yang terinfeksi HIV (ODHA) serta orang-orang terdampak HIV/AIDS

– Kegiatan dilakukan oleh Pemerintah dan masyarakat berdasarkan kemitraan

– Melibatkan peran aktif populasi kunci dan ODHA serta orang-orang yang terdampak HIV/AIDS

– Memberikan dukungan kepada ODHA dan orang-orang yang terdampak HIV/AIDS agar dapat mempertahankan kehidupan sosial ekonomi yang layak dan produktif.

Berita Terkait  Kebijakan Pemerintah Dalam Mengatasi Stunting di Indonesia, Sudahkah Optimal?

e. Strategi Penanggulangan HIV/AIDS menurut Bab I Pasal 4

– Meningkatkan pemberdayaan masyarakat dalam penanggulangan HIV/AIDS melalui kerjasama nasional, regional, dan global dalam berbagai aspek diantaranya aspek legal, organisasi, pembiayaan, fasilitas pelayanan kesehatan dan sumber daya manusia

– Memprioritaskan komitmen nasional dan internasional

– Meningkatkan advokasi, sosialisasi, dan mengembangkan kapasitas

– Meningkatkan upaya penanggulangan HIV/AIDS secara rata, terjangkau, bermutu, dan berkeadilan serta berbasis bukti, dengan mengutamakan upaya preventif dan promotif

– Meningkatkan jangkauan pelayanan kelompok masyarakat berisiko tinggi, daerah tertinggal, terpencil, perbatasan dan kepulauan serta yang bermasalah pada kesehatan

– Meningkatkan pembiayaan penanggulangan HIV dan AIDS

– Meningkatkan pengembangan serta pemberdayaan sumber daya manusia yang merata dan bermutu dalam penanggulangan HIV/AIDS

– Meningkatkan ketersediaan dan keterjangkauan pengobatan, pemeriksaan penunjang HIV/AIDS serta menjamin keamanan, manfaat, mutu sediaan obat dan bahan/alat yang diperlukan dalam penanggulangan HIV/AIDS

– Meningkatkan manajemen penanggulangan HIV/AIDS yang akuntabel, transparan, berkemampuan dan efektif

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *