Penyalahgunaan Psikotropika Berdampak Pada Kesehatan

  • Bagikan

Oleh: Linda Fitrianingsih

Dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan menyatakan bahwa kesehatan adalah keadaaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomi Setiap orang berhak atas kesehatan. Didalam artikel ini membahas tentang penyalahgunaan psikotropika berdampak pada Kesehatan. Penyalahgunaan dan peredaran gelap psikotropika akhir-akhir ini telah menimbulkan rasa kekhawatiran yang mendalam pada masyarakat. Berbagai implikasi dan dampak negatif yang ditimbulkan merupakan masalah yang sangat kompleks baik di tingkat nasional maupun internasional. Dalam penjelasan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997 disebutkan bahwa masalah psikotropika tidak saja dapat merugikan bagi penyalahguna, tetapi juga berdampak pada kegiatan sosial, ekonomi dan keamanan nasional,sehingga hal ini merupakan ancaman bagi kehidupan bangsa dan negara. Perbuatan penyalahgunaan obat-obat jenis psikotropika khususnya di Indonesia saat ini, tentunya menyalahi ketentuan yang diatur dalam UU Psikotropika.

Adapun dalam Penjelasan Pasal 2 ayat (2) UU Psikotropika mengatur tentang penggolongan psikotropika antara lain golongan I, jenis psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan, tidak dapat digunakan untuk terapi serta berpotensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan. Golongan II, jenis psikotropika yang digunakan untuk pengobatan, terapi dan untuk tujuan ilmu pengetahuan serta memiliki potensi yang kuat yang mengakibatkan sindroma ketergantungan. Golongan III, jenis psikotropika untuk pengobatan dan banyak digunakan untuk terapi atau ilmu pengetahuan, memiliki potensi sedang yang mengakibatkan sindroma ketergantungan dan golongan IV, jenis psikotropika untuk pengobatan dan sangat luas digunakan untuk terapi serta untuk ilmu pengetahuan, memiliki potensi ringan mengakibatkan sindroma ketergantungan.

Berdasarkan Penjelasan Pasal 2 ayat (2) UU Psikotropika yaitu telah diatur mengenai beberapa macam penggolongan psikotropika, sehingga apabila terjadi penyalahgunaan obat-obatan jenis psikotropika maka hal tersebut telah melanggar ketentuan UU Psikotropika. Berlakunya UU Psikotropika bertujuan untuk menjamin ketersediaan psikotropika sebagai kepentingan pelayanan kesehatan serta dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan, untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan psikotropika serta untuk mencegah peredaran psikotropika secara illegal.

Berita Terkait  Serba - Serbi Vaksinasi Covid-19 di Indonesia

Psikotropika memang seperti mata uang yang memiliki dua sisi, di satu sisi psikotropika bermanfaat dalam bidang pengobatan, pelayanan kesehatan,dan pengembangan ilmu pengetahuan. Namun,disisi lain psikotropika dapat sangat berbahaya apabila digunakan tanpa adanya pengendalian dan pengawasan.

Dampak Psikotropika

1). Dampak psikotropika terhadap kesehatan fisik tubuh akan dapat merubah banyak sel-sel dan organ-organ tubuh menjadi tergantung pada obat itu hanya untuk bisa berfungsi normal. Namun, bila penggunaan dihentikan, akan mengubah susunan dan keseimbangan kimia tubuh. Selain ketergantungan pada sel-sel tubuh, organ-organ vital dalam tubuh seperti liver, jantung, paru-paru, ginjal, dan otak juga akan mengalami kerusakan akibat penggunaan jangka Panjang narkoba seperti kebocoran katup jantung, paru-paru yang bolong, gagal ginjal, dan rusaknya liver.

2). Dampak psikotropika terhadap psikis, Secara psikis orang yang kecanduan psikotropika akan mengalami kelambanan dalam bekerja, ceroboh kerja, sering tegang dan gelisah, hilang kepercayaan diri, apatis, pengkhayal, penuh curiga, Agitatif (menjadi ganas dan tingkah laku yang brutal), sulit berkonsentrasi, perasaan kesal dan tertekan.

3). Dampak psikotropika terhadap sosial Orang mengalami ketergantungan narkotika, maka orang tersebut dalam hidupnya mengalami gangguan jiwa sehingga tidak mampu lagi berfungsi secara wajar dalam masyarakat. Kondisi tersebut dapat dilihat dari rusaknya fungsi sosial, pekerjaan, dan ketidakmampuan mengendalikan diri.

4). Dampak psikotropika jangka pendek dan panjang Efek jangka pendek dari penyalahgunaan psikotropika antara lain: memperlambat fungsi kerja otak, memperlambat denyut nadi dan pernapasan, merendahkan tekanan darah, konsentrasi yang lemah, kekacauan, kecapaian, rasa pusing, berbicara cadel, demam, perasaan malas, gangguan visual (penglihatan), pupil mata yang membesar, disorientasi, kelemahan koordinasi, depresi, kesulitan atau ketidakmampuan membuang air kecil, adiksi (kecanduan). Sedang efek jangka panjang dari penyalahgunaan psikotropika antara lain: depresi, kelelahan kronis, kesulitan bernapas, masalah seksual dan masalah tidur.

Berita Terkait  HAM Dalam Pelayanan Kesehatan 

Contoh kasus

kasus penyalahgunaan obat yang tergolong psikotropika yaitu kasus X, X tidak dapat menunjukkan bukti kepemilikan 30 butir obat dengan menyertakan resep dokter, sehingga bagi pelaku penyalahgunaan obat-obatan yang tidak sesuai dengan syarat peraturan perundang-undangan dianggap bersalah dan selanjutnya diberikan sanksi pidana sesuai dengan perbuatannya yang tercantum dalam Pasal 62 UU Psikotropika.

Kesimpulan

Peraturan perundang – undangan yang sudah memiliki ketentuan – ketentuan yang harus dipatuhi dan ditaati.

Saran

Agar diberikan penyuluhan tentang psikotropika dan dampak buruknya, sehingga meningkatkan kesadaran Masyarakat akan dampak yang bisa ditimbulkan.

Keluarga dan masyarakat selalu memberi dukungan untuk penyalahguna berhenti menyalahgunakan psikotropika dan mengarahkan ke hal-hal yang postitif.

*) Penulis adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Indonesia Maju (STIKIM)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *