Upaya Dalam Masalah Pembangunan Kesehatan Masyarakat Di Indonesia Menurut Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009

  • Bagikan

Oleh: Sofianti

Perkembangan dunia VUCA yaitu karakteristik perubahan yang sangat cepat (Volatility), tidak menentu (Uncertainy), beragam (Comlexity), dan tidak jelas (Ambiguity) (Budiharto, et al, 2019:160) membawa perubahan yang cukup pesat, salah satunya pada aspek kesehatan. Kesehatan diartikan sebagai sebuah investasi untuk mendukung pembangunan ekonomi dan memiliki nilai penting dalam menanggulangi kemiskinan. Pembangunan kesehatan perlu dipandang sebagai suatu investasi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Berdasarkan Survei Kesehatan Dasar tahun 2007, angka kematian ibu di Indonesia masih berada ada angka 228 per 100.000 kelahiran hidup. Sedangkan pada angka kematian bayi berada pada kirasan 26.9 per 1.000 kelahiran hidup (Zahtamal, 2011:9). Hal ini menandakan bahwa angka kematian bayi dan angka kematian ibu masih tergolong tinggi. Kemudian hasil Riskesdas dari tahun 2007 sampai 2018 menunjukkan bahwa prevalansi penyakit tidak menulai terus meningkat yaitu diantaranya kanker, stroke, penyakit ginjal kronis, diabetes melitus, dan hipertensi. Selain itu, masalah kesehatan yang lain yaitu mengenai air bersih masyarakat di Indonesia. Persentasi rumah tangga yang memiliki akses air minum layak baru mencapai 72% yang menandakan masih ada 28% atau setara dengan 90 juta rumah tangga belum memiliki akses air minum layak (Arsyina, et al, 2019:19).

UNICEF memperkirakan, bahwa saat ini terdapat 1.6 juta anak meninggal karena tidak mendapat akses untuk air bersih. Dengan penyediaan air bersih saja dan perbaikan sanitasi, kitadapat menurunkan angka kemiskinan, angka kesakitan, dan meningkatkan pendidikan anak-anak. Demikian halnya dengan masalah cacingan pada anak-anak yang masih tinggi.

Diluar daftar penyakit yang ditanggung pemerintah, pasien harus membayar sendiri. Hal ini menjadi dilema dikalangan masyarakat miskin mengingat hal tersebut merupakan suatu kemustahilan. Kebijakan tersebut justru dapat memperburuk kualitas kesehatan masyarakat miskin. Seharusnya pemberian jaminan kesehatan bagi keluarga miskin dilakukan tanpa syarat dan ketentuan berlaku. Kemiskinan mereka sudah cukup menjadi dasar untuk memperoleh pembebasan biaya layanan kesehatan (Haris, 2016:111).

Berita Terkait  Pandemi Covid-19: Momentum Meningkatkan Kualitas Pendidikan

Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan

Menurut Pasal 1 kesehatan merupakan keadaan sehat, yang dilihat dari fisik, mental, siritual maupun sosial yang memungkinkan setiap individu untuk menjalani hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Dalam pendekatan kesehatan dikenal empat macam yaitu romotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Dalam pasal 2 disebutkan bahwa pembangunan kesehatan dilakukan dengan berasaskan perikemanusiaan, keseimbangan, manfaat, perlindungan, penghormatan terhadap hak dan kewajiban, keadilan, gender, dan nonodiskriminatif dan norma-norma agama.

Secara substantai UU Kesehatan sudah mengatur upaya dan bentuk pelayanan kesehatan yang dilakukan dengan empat pendekatan yaitu promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Upaya tersebut dilakukan untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan seperti yang tertera ada Penjelasan UU Kesehatan. Meskipun pembangunan kesehatan telah dilaksanakan secara bertahap dan berkesinambungan mampu meningkatkan status kesehatan masyarakat dengan cukup, tetapi faktanya dilapangan masih terdapat berbagai masalah dalam pembangunan kesehatan yang terdiri dari :

Status kesehatan masyarakat masih rendah terutama pada masyarakat kurang mampu.

Angka kesakitan dan kemaitan akibat penyakit infeksi dan menular masih tinggi.

Masalah utama lainnya terkait dengan pembangunan kesehatan tentang pemerataan, keterjangkauan atau akses pelayanan kesehatan yang bermutu dan berkualitas masih rendah.

Kurangnya tenaga kesehatan dan penyebarannya yang tidak merata sehingga tidak sesuai dengan kebutuhan juga menjadi masalah yang rumit (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2009).

Seperti yang terteta dalam visi Indonesia Sehat 2025 yaitu bahwa perilaku masyarakat yang dikehendaki yaitu perilaku yang bersifat proaktif untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah resiko terjadinya penyakit, melindungi diri dari ancaman penyakit, sadar hukum, serta berartisipasi aktif dalam gerakan kesehatan masyarakat termasuk masyarakat sehat dan aman.

Kesimpulan

Kesehatan merupakan keadaan sehat, yang dilihat dari fisik, mental, siritual maupun sosial yang memungkinkan setiap individu untuk menjalani hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Dalam pendekatan kesehatan dikenal empat macam yaitu promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif secara masif dan bersinambungan. Faktor penyebab adanya masalah terkait kesehatan di masyarakat yaitu belum maksimalnya langkah konkret yang dilakukan pemerintah, perilaku gaya hidup tidak sehat yang dilakukan oleh masyarakat, serta terbatasnya akses terhadap pelayanan kesehatan karena faktor biaya, jarak, dan transportasi.

Berita Terkait  Perspektif Masyarakat Terhadap Sistem Pelayanan Kesehatan di Era JKN

*) Penulis adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Indonesia Maju Jakarta (STIKIM)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *