Landasan Hukum Penggunaan APD Kepada Nakes Dalam Penanganan Virus Covid-19

  • Bagikan
Tes diteksi Covid-19 oleh tenaga kesehatan (Foto ANTARA-FB Anggoro)

Oleh: Halimatus Sa’diyah

Sebagai garda terdepan dalam melawan Covid-19 tenaga medis membutuhkan Alat Pelindung Diri (APD) untuk menjaga keselamatan diri mereka. Semakin bertambahnya jumlah pasien menyebabkan APD semakin terbatas. Tak hanya Pemerintah, masyarakat pun ikut mengulurkan tangan dengan memberikan bantuan agar APD dapat tersedia baik di klinik, rumah sakit maupun puskesmas. Sebab mereka yang bertugas menangani pasien COVID-19 akan lebih rentan ikut terinfeksi.

Alat pelindung diri (APD) adalah alat yang digunakan untuk melindungi pekerja dari luka atau penyakit yang diakibatkan adanya kontak dengan bahaya yang bersifat kimia, biologis, virus, radiasi, fisik, elektrik, mekanik, dan lainnya, OSHA (Occupational Safety and Health Administration). Alat pelindung diri (APD) adalah suatu alat yang mempunyai kemampuan untuk melindungi seseorang yang fungsinya mengisolasi sebagian atau seluruh tubuh dari potensi bahaya di tempat kerja, Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No 08/MEN/2010.

Memantau perkembangan adanya topik terkait krisisnya APD hingga masyarakat tergerak untuk gerakan kemanusiaan tersebut. Berdasarkan pantauan sejak tanggal 17 Maret – 02 April 2020 selama periode tersebut ditemukan 124.1 K terkait topik krisis APD yang disuarakan kian bertambahnya jumlah kasus Covid-19 di Indonesia.

Perbincangan masyarakat terkait terbatasnya APD terus memuncak sejak tanggal 17 Maret 2020. Masyarakat berharap penanganan Covid-19 menjadi fokus utama pemerintah agar rantai penyebarannya dapat terputus. Selama periode tersebut terlihat beberapa puncak cuitan terkait APD.

Pada tanggal 21 Maret ditemukan sebanyak 31,278 perbincangan masyarakat terkait krisis APD. Pada tanggal tersebut masyarakat tengah membicarakan mengenai surat yang diberikan oleh pihak IDI dan terdapat pula 4 organisasi profesi kesehatan lainnya meminta terjaminnya Alat Perlindungan Diri (APD) yang sesuai untuk setiap tenaga kesehatan. Bila hal tersebut tidak terpenuhi maka anggota medis untuk sementara tidak ikut melakukan perawatan penanganan pasien Covid-19 demi melindungi diri dan menjaga keselamatan diri. Akan tetapi, beberapa media kedapatan memelintir isi surat tersebut dengan “ancaman mogok kerja pada tim tenaga medis”. Adapun yang dimaksud oleh organisasi kesehatan tersebut untuk tidak menangani itu kepada petugas kesehatan dalam kondisi tidak ada APD. Tetapi yang pakai APD tentu saja boleh merawat pasien Covid-19.

Berita Terkait  Babak Baru Pengelolaan Lobster Indonesia

Puncak perbincangan lainnya ditemukan Netray pada tanggal 29 Maret 2020. Pada tanggal tersebut bertepatan dengan viralnya video terkait 2 orang yang mengenakan APD lengkap tengah berbelanja di supermarket hingga menjadi perhatian publik. Sontak hal tersebut membuat masyarakat geram, pasalnya ditengah krisis APD untuk tenaga medis masih ada orang yang mengenakannya untuk kegiatan yang kurang tepat. Perbincangan masyarakat terkait topik tersebut didominasi bersentimen negatif.

Oleh :

Halimatus Sa’diyah

Undang-undang No.1 tahun 1970 :

Pasal 3 ayat 1 (f) : Dengan peraturan perundangan ditetapkan syarat-syarat dalam pemberian APD.

Pasal 9 ayat 1 (c) : Pengurus diwajibkan menunjukkan dan menjelaskan pada tiap tenaga kerja baru tentang APD.

Pasal 12 (b) : Dengan peraturan perundangan diatur kewajiban dan atau hak tenaga kerja untuk memakai APD.

Pasal 14 (c) : Pengurus diwajibkan menyediakan APD.

Permenakertrans No.Per.01/MEN/1981 :

Pasal 4 ayat 3 berbunyi kewajiban pengurus untuk menyediakan alat pelindung diri dan wajib bagi tenaga kerja untuk menggunakannya agar mencegah terjadinya penyakit akibat kerja.

Permenakertrans No.Per.03/MEN/1982 :

Pasal 2 (1) menyebutkan memberikan nasehat mengenai perencanaan dan pembuatan tempat kerja, pemilihan alat pelindung diri yang diperlukan dan gizi serta penyelenggaraan makanan ditempat kerja.

Permenakertrans No.Per.03/Men/1986 :

Pasal 2 ayat 2 menyebutkan tenaga kerja yang mengelola Pestisida harus memakai alat-alat pelindung diri yg berupa pakaian kerja, sepatu las tinggi atau sepatu boots, sarung tangan atau handscoon, kacamata pelindung atau kacamata google, pelindung muka atau face shield dan pelindung pernafasan atau masker.

Masker

Ada 2 jenis masker yang umumnya digunakan sebagai APD dalam penanganan pasien COVID-19 atau orang yang dicurigai terinfeksi virus Corona, yaitu masker bedah dan masker N95.

Pelindung mata

Pelindung mata atau google terbuat dari bahan plastik transparan yang berfungsi untuk melindungi mata dari paparan virus yang dapat masuk ke dalam tubuh melalui mata.

Berita Terkait  Lindungi Generasi Bangsa Dari Pengguna Narkotika Dikalangan Remaja

Pelindung wajah

Sama halnya dengan pelindung mata, pelindung wajah juga terbuat dari bahan plastik jernih dan transparan seperti face shield.

Gown

Gown atau hazmat digunakan untuk melindungi lengan dan area tubuh dari paparan virus selama tenaga medis melakukan prosedur penanganan dan perawatan pasien.

Berdasarkan penggunaannya, terdapat dua jenis gown, yaitu gown sekali pakai dan gown yang bisa dipakai ulang. Gown sekali pakai adalah gaun yang dirancang untuk dibuang setelah satu kali pakai. Jenis gaun ini terbuat dari bahan serat sintetis, seperti polypropylene, poliester, dan polyethylene, yang dikombinasikan dengan plastik.

Sarung tangan medis

Sarung tangan medis atau handscoon digunakan untuk melindungi tangan para petugas medis dari cairan tubuh pasien selama merawat pasien COVID-19. Sarung tangan yang sesuai standar penanganan COVID-19 harus terbuat bahan lateks atau karet, polyvynil chloride (PVC), nitrile, dan polyurethane.

Head cap

Head cap berfungsi untuk melindungi kepala dan rambut para petugas medis dari percikan air liur atau dahak pasien selama mereka merawat atau memeriksa pasien. Head cap harus terbuat dari bahan yang dapat menahan cairan, tidak mudah robek, dan ukurannya pas di kepala. Jenis APD ini umumnya bersifat sekali pakai.

Sepatu pelindung atau sepatu boots

Sepatu pelindung atau sepatu boots digunakan untuk melindungi bagian kaki petugas medis dari paparan cairan tubuh pasien COVID-19. Sepatu pelindung atau sepatu boots umumnya terbuat dari karet atau kain yang tahan air dan harus menutup seluruh kaki hingga betis.

Akibat adanya virus COVID-19 hampir semua tenaga medis atau kesehatan memakai APD dalam melayani pasien baik yang di rumah sakit serta di klinik ataupun di puskesmas. Penggunaan APD tersebut sesuai dengan SOP yang telah di tentukan serta penggunaan APD tersebut dapat mengurangi resiko terpaparnya virus COVID-19. Akan tetapi Indonesia pernah mengalami krisis APD untuk para tim medis yang sedang bertugas hingga semua kalangan masyarakat menggolongkan dana bantuan untuk pembuatan APD agar tim medis bisa terus melayani pasien yang terjangkit virus COVID-19.

Berita Terkait  Pembumian Pancasila dan Generasi Milenial

Jangan lupa mematuhi protokol kesahatn ingat pesan Ibu 3M : 1. Memakai masker 2. Mencuci tangan pakai sabun dan menggunakan air mengalir 3. Menjaga jarak.

*) Penulis adalah Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Indonesia Maju (STIKIM)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *