Lindungi Generasi Bangsa Dari Pengguna Narkotika Dikalangan Remaja

  • Bagikan
ilustrasi. shutterstock

Oleh: Riani Angelica

Permasalahan di negara Indonesia sendiri masih banyak yang menjadi penyalahgunaan narkoba. Penyalahgunaan terhadap narkotika serta obat-obat terlarang lainya sudah tersebar luas kepenjuru indonesia mau di desa ataupun di kota. Maka dengan menyebar nya ke semua golongan masyarakat seperti golongan atas, golongan menegah serta golongan bawah kemungkinan bisa saja menjadi penyalahgunaan narkotika tanpa pandang bulu. Dalam hal ini pengguna narkotika sangat berdampak kepada anak remaja (produktif) jika tidak ada pengawasan denganorang tua nya. maka dalam kehidupan sehari- hari masyarakat masih banyak dijumpai remaja yang masih melakukan penyalahgunaan narkoba. Dalam kasus ini maka sangat berpengaruh kepada penerus generas bangsa pada masa yang akan mendatang. Dampak yang akan terjadi jika penerus generasi bangsa menayalah gunakan pengguna obat keras seperti narkoba.

Pada usia muda (produktif) memang masih banyak yang ingin mengetahui semua hal tidak terkecuali dalam hal yang buruk, jika seorang anak yang terlalu bebas dalam segala hal dan ingin melakukan segala nya tanpa memikirkan baik atau buruk akan berdampak pada masa yang akan datang.

Pada Undang–undang Nomor 22 tahun 1997 tentang Narkotika tersebut di dorong untuk lebih meningkatkan pengendalian dan pengawasan serta meningkatkan upaya mencegah dan memberantas penyalahgunaan dan peredaran narkotika, diperlukan pengaturan.(Zainal 2013)

Oleh karena tu peran orang tua dan sekitar sangat penting, kenapa karena agar orang dewasa bisa menjaga dan melindungi anak remaja agar tidak menjerumus ke hal-hal yang buruk.Anak yang tidak diperhatikan oleh orang tua atau lingkungan sekitar maka sang anak akan sangat binggung dalam hal kehidupan maka dimulai dari situlah anak remaja mulai mencari kehiduan melalui semua hal. Masa remaja adalah fase perubahasan perkebangan antara anak-anak ke masa yang membentuk perkembangan diri orang, Pada usia muda (produktif) kita sebagai generasi penerus bangsa yang sangat diharapkan untuk menjadi memajukan negara, jika seseorang tersebut semakin hari semakin rapuh dikarenakan digerogoti oleh zat-zat adiktif penghancur syaraf. Sehingga pemuda tersebut tidak dapat berpikir jernih.

Berita Terkait  Serba - Serbi Vaksinasi Covid-19 di Indonesia

Undang–undang Nomor 22 tahun 1997 tentang Narkotika tersebut di dorong untuk lebih meningkatkan pengendalian dan pengawasan serta meningkatkan upaya mencegah dan memberantas penyalahgunaan dan peredaran narkotika, diperlukan pengaturan dalam bentuk Undang–undang baru yang berazazkan Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, manfaat, keseimbangan, keserasian dan keselarasan dalam perikehidupan, hukum serta ilmu pengetahuan dan teknologi, dengan mengingat ketentuan baru dalam konvensi Perserikatan Bangsa – bangsa tentang pemberantasan narkoba

Untuk obat seperti Narkotika ini memang sudah mengatur mengenai upaya pemberantasan terhadap tindak pidana narkotika melalui ancaman pidana denda, pidana penjara, pidana seumur hidup, dan pidana mati dan mengatu

hal ini mari kita membendakan menjadi kategori yang termasuk jenis narkotika adalah: Papaver, opium mentah, memasak opium (candu, debu opium, Jicingko), opium obat, morfin, kokain, ekgonina, tanaman ganja dan resin ganja.Garam dan turunannya dari morfin dan kokain, serta campuran dan persiapan yang mengandung bahan di atas

Sedangkan untuk jenis-jenis narkotika jika dilihat dari penggolongannya dapat dibedakan menjadi 3 (tiga), yaitu:

Narkotika Golongan satu

hanya dapat digunakan untuk pengembangan ilmu pengetahuan; tidak digunakan dalam terapi. Potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan. Contoh: opium, jicing, jicingko, koka (daun+tanaman), kokain, ganja.

Narkotika Golongan dua

Pada golongan kedua ini, narkotika berkhasiat untuk pengobatan sebagai pilihan pilihan terakhir serta dapat digunakan dalam terapi dan atau ilmu pengetahuan. Potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan. Contoh: morfina.

Narkotika Golongan tiga

Narkotika golongan 3 berkhasiat untuk pengobatan, bisa digunakan dalam terapi dan atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan. Potensi ringan mengakibatkan ketergantungan. Contoh: Asetil dihidrokodeina, kodeina.

Berdasarkan data Badan Narkotika Nasional (BNN) mencatat jumlah penyalahguna narkoba di Tanah Air mencapai 3,5 juta orang pada 2017. Hampir 1 (satu) juta orang di antaranya bahkan telah menjadi pecandu, selain itu, lebih dari 12 ribu kematian terkait narkoba setiap tahunnya. Para pengedar dalam aksinya juga telah menyasar, pelajar, perempuan dan anak-anak. Sehingga masalah narkoba telah menjadi masalah bangsa, terkait dengan kelangsungan hidup bangsa Indonesia.

Berita Terkait  Tindakan Aborsi Ilegal

dampak sebagai berikut:

Pemakai narkoba akan tidak sadarkan diri

Seseorang pemakai narkoba akan berhalusinasi

Seseorang yang menggunakan narkoba akan merasa jika dirinya kuat dari situ makan mereka akan menggunakan tenangannya padalah dalam kasus ini maka kerja organ tubuh seperti jantung dan otak akan di paksa untuk bekerja. Jika gan tubuh terus dipaksa bekerja di luar batas normal, maka saraf- sarafnya akan rusak dan bisa mengakibatkan kematian.

Seseorang yang menggunakan narkoba secara berlebih maka akan merasa ketagihan dan ingin terus menerus menkonsumsinya. Jika si pengguna narkotika tidak bisa mendapatkannya, tubuhnya akan berada pada kondisi kritis (sakaw).

Ketentuan Pidana UU No 22 Thn 1997 tentang Narkotika terdapat didalam Pasal 78 sampai dengan Pasal 104 yang mengatur tentang pelarangan, peredaran dan penggunaannya yang diperbolehkan maupun tidak diperbolehkan.

Ketentuan pidana yang diatur dalam Undang-Undang nomor 5 tahun 1997 tentang psikotropika terdapat didalam bab XIV, Undang-Undang nomor 5 tahun 1997 didalam pasal 59 sampai pasal 72 yang didalamnya diatur secara jelas dan lengkap mengenai sanksi-sanksi pelaku tindak pidana psikotropika

Sedangkan yang mengatur tentang narkotika diatur didalam Undang-Undang Nomor 22 tahun 1997. Yang ketentuan pidananya diatur didalam pasal 78 sampai dengan pasal 100 bab, XII Undang-Undang nomor 22 tahun 1997 tentang Narkotika. mengatur tentang ketentuan pidana saja terbukti banyaknya pasal yang diatur didalam bab-bab Undang-Undang Psikotropika dan Narkotika.(Enterprises et al. 2020)

UU No 5 tahun 1997 Tentang Psikotropika,bab XIV, pasal 59 hal 24

UU No 22 Tahun 1997 Tentang Narkotika,bab XII ,pasal 78-100

KESIMPULAN: Narkotika yaitu zat atau obat yang sangat bermanfaat dan diperlukan untuk pengobatan penyakit tertentu. Namun, jika disalahgunakan atau digunakan tidak sesuai dengan standar pengobatan dapat menimbulkan akibat yang sangat merugikan bagi perseorangan atau masyarakat khususnya generasi muda. Hal ini akan lebih merugikan jika disertai dengan penyalahgunaan dan peredaran obat terlarang yang dapat mengakibatkan bahaya yang lebih besar bagi kehidupan dan nilai-nilai budaya bangsa yang pada akhirnya akan dapat melemahkan ketahanan nasional. Penegakan hukum terhadap bahaya pengguna narkotika harus dilakukan secara konsisten.Perang terhadap kejahatan narkotika Haruslah dipimpin oleh kepalaNegara. Sebagai pemegang kekuasaan tertinggi kepala Negara haruslah kosisten dan tegas dalam pelaksanakannya.Tanpa itu,upaya pemberantasan yang dilakukan penegak hukum tidak akan memberikan perubahan yang maksimal.

Berita Terkait  BNN Sita 212 Kg Sabu dari 5 Jaringan, Berikut Kronologinya
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *