Pandemi Covid-19: Momentum Meningkatkan Kualitas Pendidikan

  • Bagikan
Wahyu Budi Priatna

Oleh: Wahyu Budi Priatna*

INDONESIAUPDATE.ID – Setahun wabah covid19 menerpa bidang pendidikan. Kebijakan pendidikan di semua tingkatan diarahkan dengan sistem daring.

Model pendidikan ini memang bukan hal yang baru, UT salah satu PTN yang telah lama menerapkannya sebagai bagian dari model hybrid.

Rektor IPB pun, Prof Arif Satria semenjak 2018 sangat aktif mempromosikan model pendisikan daring ini. Namun demikian, daring baru benar-benar dilaksanakan oleh sebagian besar dunia pendidikan ketika pandemi tidak kunjung teratasi.

Upaya-upaya pendidikan secara offline, pernah dicoba-coba. Protokol kesehatan di tempat-tempat pendidikan, dan skenario kegiatan pendidikan secara bertahap di zona tertentu telah dipersiapkan dan disosialisasikan.

Apa daya, penyebaran virus berdasarkan cluster dari pengamatan Petugas Satgas Covid-19 menunjukkan penyebaran yang lebih cepat. Sampai saat ini, daring pilihan utama meskipun masih ada yang tetap merasa perlu off line dengan berbagai pertimbangan atau alasan.

Kemendikbud terus berupaya mencari terobosan-terobosan proses pendidikan yang bisa menghasilkan lulusan dengan kualitas terbaik dan terserap di lapangan pekerjaan.

Dunia pendidikan diperkenalkan dengan program Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka (MBKM), Mitras DUDI, kompetisi-kompetisi Hibah, CoE, IKU bahkan dipopulerkannya kembali sistem link and match.

Batasan-batasan yang menghambat kesempatan peserta didik yang potensial, dicairkan dengan adanya progran afirmasi pendidikan. Penyebaran input pendidikan pun supaya lebih merata ditentukan dengan zonasi (pro – kontra itu biasa).

Penanganan peserta didik yang berlokasi di 3T diberikan program-program khusus. Anis Baswedan pernah punya program bagus untuk pendidikan di wilayah 3T.

Kebutuhan pendidikan dengan memanfaatkan daring, tidak saja membutuhkan ketersediaan peralatan dan akses internet. Kuota harus selalu tersedia dalam jumlah yang memadai. Maka diluncurkan pula kuota internet selama 4 bulan bagi pengajar dan para peserta didik, yang nilainya sampai triliyunan.

Proporsi kuota lebih ditujukan untuk pendidikan secara video yang penggunaannya memerlukan dukungan kekuatan sinyal internet yang baik dan stabil. Kenyataan di lapangan, itu belum terjadi baik di perkotaan apalagi di pedesaan apalagi pegunungan.

Berita Terkait  Serba - Serbi Vaksinasi Covid-19 di Indonesia

Selain itu, banyak peserta didik dan pendidik yang tetap mengalami kendala lainnya. Meskipun penggunaan hp dan komputer sudah banyak dimiliki oleh masyarakat, tapi penggunaan aplikasi untuk pendidikan memerlukan persiapan yang tidak mudah.

Bukan hanya anak-anak yang merasa belum nyaman, pendidik juga masih banyak merasakan mengalami hambatan.

Pendidik pada usia di atas 50-an adalah yang paling terdampak, mereka generasi yang lahir di tahun 60-an, bukan millenial.

Pelatihan dan webinar tentang pendidikan secara daring dilaksanakan oleh banyak pihak, ada yang gratis dan yang berbiaya. Semua ingin berkontribusi untuk mensukseskan model daring, yang tiba-tiba harus dilakukan serentak oleh stakeholder dunia pendidikan.

Hasilnya, pada saat ini relatif sudah bisa dilaksanakan di hampir semua tingkatan pendidikan, kecuali pra sekolah karena memang seharusnya mereka bermain dengan riang gembira.

Kesiapan mental stakeholder pendidikan dan budaya keluarga di rumah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam pendidikan sistem daring.

Budaya komunal di luar rumah (sekolah, kampus dan tempat kos/kamar kontrakan) berubah jadi belajar mandiri atau bersama keluarga inti.

Luas atau banyak ruangan, kondisi lingkungan sekitar rumah dan jumlah yang menggunakan daring jadi fenomena tersendiri. Ketersediaan jaringan internet yang handal sebagai keniscayaan yang memungkinkan semua terjadi, meskipun PLN tentu jadi kunci utamanya.

Keterlibatan orang tua dan anggota keluarga inti merupakan kekuatan sekaligus bisa menjadi kelemahan daring.

Pemindahan tempat daring di luar rumah akan lebih berisiko pada faktor kesehatan, protokol kesehatan menjadi rentan dan ketika kembali ke rumah bisa sebagai sumber malapetaka dalam keluarga, jadi OTG. Belum keselamatan fisik yang bisa terluka karena kecelakaan yang tidak seharusnya terjadi.

Banyak orang tua menjadi ujung tombak pendidikan putra-putrinya, khususnya Ibu ketika anak-anaknya masih belum menginjak sekolah menengah. Anak-anak memang yang paling banyak menderita, terutama dari sisi sosialisasi dengan teman sebaya.

Berita Terkait  Inalillahi, Positif Covid-19 Sekda DKI Saefullah Meninggal Dunia

Pertemanan diantara peserta didikpun diuji dalam distribusi berbagai pengumuman dan penyelesaian tugas-tugas dari pendidikan daring.

Untungnya teknologi mesin pencari informasi sudah sangat mumpuni, seolah-olah tahu kebutuhan tidak saja perserta didik tapi juga pendidiknya, apapun itu.

Namun demikian, masih banyak yang mengeluh karena kehilangan suasana sosialisasi, dan merasa kualitas yang menurun.

Anak-anak memang perlu ruang bersama untuk mengekplorasi dirinya, dan belajar banyak dari lingkungan. Keragaman proses pendidikan pun ternyata masih tetap terjadi, seolah-olah hanya berpindah dari tatap muka menjadi daring saja.

Bahkan katanya yang memerlukan keterampilan tangan, menilai daring sebagai yang tidak tepat. Meskipun sudah ada aplikasi dan teknologi yang lebih baik, tapi memerlukan biaya yang besar dan pelatihan yang tidak sebentar.

Pendidik yang tadinya hanya berfokus pada bahan ajar, kini harus update dengan teknologi daring. Bahkan untuk sekedar tanda tangan berkas dan presensi.

Semua memiliki kesibukan yang relatif baru, dengan perencanaan yang minimal, mendadak bukan tergesa-gesa karena pandemi mengharuskan semua orang melaksanakan protokol kesehatan.

Momentum Standarisasi Kualitas Pendidikan

Bila kita melihatnya agak berjarak, sebenarnya ini kesempatan yang sangat baik bagi pemerintah sebagai pembuat kebijakan dan pengelola anggaran untuk menstandarisasi proses pendidikan, guna mendapatkan multihasil dari model daring.

Dulu Kemendikbud pernah meluncurkan buku ajar elektronik, namun nampaknya kurang mendapat sambutan baik karena pihak sekolah merasa lebih mudah jika ada fisik buku ajarnya dan guru-guru mungkin menyepakatinya.

Tim penulis dan penerbit buku pun bahagia karena masih bisa mencetak dan menjual buku-bukunya. Pokoknya semua tetap tak banyak berubah.

Pendidikan daring pun sebenarnya hampir tak mampu merubah apa yang lazim terjadi. Namun, kondisi ekonomi masyarakat yang terus merosot dan telah menurunkan daya beli, cukup jadi rem tangan yang cukup handal.

Memang ada keragaman, apalagi untuk sekolah-sekolah yang telah memiliki paket buku ajar dari perolehan program BOS.

Ini saat yang tepat bagi Kemendikbud untuk menyusunkan materi pendidikan yang berkualitas terbaik di semua tingkatan pendidikan. Yang paling sesuai untuk membangun karakter bangsa.

Berita Terkait  Upaya Dalam Masalah Pembangunan Kesehatan Masyarakat Di Indonesia Menurut Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009

Yang link and match dengan kebutuhan lapangan pekerjaan. Soft skill dan hard skill yang saling menguatkan. Pendidik yang menyampaikan materi bisa dipilihkan yang terbaik secara nasional atau per wilayah.

Teknologi pengajaran bisa “diramu” yang paling sesuai dengan kondisi bangsa, dengan sistem pendidikan yang komprehensif.

Mata ajaran atau mata kuliah yang sama harus memiliki materi pendidikan dengan kualitas terbaik untuk jenjang pendidikan yang sama, setidaknya sampai jenjang S1 atau D4.

Semua stakeholder pendidikan ikut gerakan “belajar bersama”, dengan menikmati konten pendidikan dan pemanfaatan teknologi (platform), yang disampaikan oleh pendidik terbaik.

Kemudian hari, bisa diarahkan untuk sekolah dan universitas on line/hybrid berkualitas tinggi (SDGs 4), yang lebih terjangkau oleh masyarakat luas, bahkan gratis (memanfaatkan teknologi AI pendidikan).

Proses pendidikan pun harus bisa dilakukan pada berbagai kondisi, tidak hanya yang memiliki kuota namun tersedia juga dalam bentuk rekaman.

Kemendikbud tentu sangat mumpuni untuk memilih semua yang terbaik bagi pendidikan putra-putri generasi Indonesia maju, sekaligus menyebarluaskannya, meski tak harus selengkap fasilitas yang disediakan untuk siswa atau mahasiswa di 3T.

Kerjasama bisa dilakukan Kemendikbud dengan banyak pihak yang paling kompeten bagi dunia pendidikan dan teruji dalam waktu yang panjang.

Bahkan bisa lintas kementrian sebagai dukungan pada dunia pendidikan, SDM NKRI berkualitas.

Proses pendidikan memang bukan pekerjaan mudah dan bisa cepat, mungkin sama sulitnya dengan mewujudkan ketahanan pangan dan pengembangan industri kebanggaan nasional.

Namun, setiap ada peluang perlu diraih, setiap ada tantangan harus dijawab, setiap ada rintangan selalu tersedia terobosan. Gotong royong dan niat baik untuk kemajuan SDM NKRI bisa menjadi modal bangsa untuk memulainya. (*)

*Penulis adalah Dosen Departemen Agrisbisnis, FEM, dan Ketua Program Studi Komunikasi, Sekolah Vokasi, IPB University

 

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *