Telkom Pastikan Jaringan Kabel Laut Jayapura Akan Segera Pulih

  • Bagikan

INDONESIAUPDATE.ID – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk melakukan tiga langkah cepat sebagai solusi (disaster recovery plan) untuk memulihkan jaringan komunikasi dan internet di Papua, menyusul terputusnya jaringan kabel laut Sulawesi Maluku Papua Cable System (SMPCS) ruas Biak-Jayapura.

Ketiga langkah itu berupa penyediaan bandwidth melalui jaringan Palapa Ring Timur hingga 500 Mbps, tiga VSAT satelit dengan bandwidth hingga 469 Mbps, penambahan link satelit sebanyak 4×155 Mbps, serta penataan prioritas lalu lintas trafik komunikasi.

Upaya lainnya adalah penambahan satu Gbps melalui link radio IP dan penambahan dari Palapa Ring Timur.

Direktur Utama PT Telkom Ririek Adriansyah menjanjikan, proses pemulihan jaringan kabel laut SMPCS ruas Biak-Jayapura yang terputus pada 30 April lalu akan selesai dalam waktu beberapa hari ke depan.

Dari hasil investigasi sementara, putusnya kabel laut itu akibat faktor alam. Sebagai bentuk upaya pemulihan layanan di Jayapura, Telkom telah memberangkatkan Cableship DNEX Pacific Link (DPL) yang akan melakukan penyambungan kabel laut SMPCS ruas Biak-Jayapura.

Kabel laut SMPCS itu sendiri putus pada kedalaman 4.050 meter pada ruas Biak-Jayapura yang mengakibatkan terganggunya layanan di Jayapura dan sekitarnya.

Kapal DPL merupakan kapal yang dirancang khusus untuk kebutuhan penggelaran dan perbaikan kabel laut.

Kapal yang memiliki berat hingga 7.000 ton itu dilengkapi teknologi terbaik seperti Dynamic Positioning 2 (DP2) untuk sistem otomatisasi dengan full redundanceremote operated vehicles (ROV), dan plough.

Kapal memiliki kemampuan operasi hingga kedalaman 10-6.000 meter dan dapat berlayar nonstop hingga 60 hari. Kapal DPL telah berada di lokasi titik putus sejak 30 Mei 2021 pukul 23.21 WITA dan telah melakukan analisa terhadap kondisi arus, kontur laut, dan pola pelayaran.

Berita Terkait  IPB: Kementan Punya Cara Cerdas Dalam Meningkatkan NTP NTUP

Saat ini kapal sedang melakukan penarikan kabel arah Biak/Sorong, yang kemudian akan dilanjutkan untuk arah Jayapura. Kabel laut SMPCS menggunakan teknologi repeate, dan mengingat jarak yang cukup jauh diperlukan pula tegangan tinggi.

Itulah sebabnya, saat proses penyambungan kabel nantinya, perlu dilakukan pemadaman repeater. Hanya saja,itu tidak akan berdampak pada layanan, karena sistem backup sudah disiapkan.

Proses perbaikan kabel ini dikawal langsung oleh Telkom Infra, salah satu entitas anak usaha Telkom. Ditargetkan, penyambungan kembali kabel laut dapat selesai dilakukan pada awal Juni 2021.

Insyaallah dalam waktu satu atau dua hari ini bisa selesai dan kabel bisa recovery. Sehingga, bisa beroperasi normal kembali seperti biasanya,” ujar Ririek, dalam jumpa pers yang digelar virtual, Senin, 7 Juni 2021.

Dalam kesempatan itu, Ririek Ardiansyah menjelaskan, sejumlah tahapan dilakukan Telkom dalam proses pemulihan jaringan tersebut. Tahap pertama, menyiapkan kapal untuk proses penggelaran kabel.

Persiapan tersebut membutuhkan waktu 18 hari (1–18 Mei), meliputi penyelesaian urusan perizinan, pengisian BBM, penyiapan peralatan, hingga menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang bertugas.

Tahap kedua, pada 19 Mei, kapal yang bersandar di Makassar itu mulai melakukan perjalanan menuju Jayapura. Proses perjalanan tersebut memakan waktu hingga 11 hari. Dan sejak akhir Mei hingga kini, proses penyiapan untuk penyambungan.

Selama proses penyambungan, terdapat sejumlah tantangan yang menghambat pekerjaan  perbaikan.  Antara lain, tersangkutnya kabel saat akan ditarik ke permukaan dan cuaca ekstrem yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.

Ririek  menyampaikan, rencana jangka panjang yang dilakukan Telkom di Papua adalah membangun jalur baru Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) Jayapura-Sarmi-Waisai.

Proyek yang membentang sepanjang 1.141 KM tersebut sedang dalam proses pengerjaan dan ditargetkan selesai pada kuartal pertama 2022.

Berita Terkait  Diresmikan Pemerintah, Begini Protokol Kesehatan Sektor Pariwisata

Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G Plate menegaskan, putusnya jaringan kabel laut SMPCS ruas Biak-Jayapura tidak membuat seluruh wilayah Papua mengalami gangguan atau “black out“.

Dalam jumpa pers di Jakarta, Senin, 7 Juni 2021, Menkominfo mengatakan, total kapasitas yang terdampak akibat putusnya jaringan kabel laut itu sebesar 154 Gbps. Adapun total trafik normal seluruh Papua sebesar 464 Gbps.

“Yang terdampak itu sepertiga dari total trafik. Saya perlu tekankan ini karena ada kesan seolah-olah putusnya kabel tersebut mengakibatkan total ‘black out‘ di Papua. Tidak betul, yang betul terdampak pada 154 dari total 464 Gbps,” ujar Johnny.

Adapun area yang terdampak gangguan tersebut, kata dia, berada di empat titik. Yakni, sambung Menkominfo, di wilayah Jayapura, Abepura, Sentani, dan Sarmi.

Lebih lanjut Johnny mengatakan, pihaknya terus melakukan koordinasi dengan PT Telkom dalam upaya penanganan dan pemulihan jaringan di wilayah terdampak.

Berdasarkan informasi yang dia peroleh, kapasitas link back up yang tersedia seluruhnya sebesar 4,7 Gbps, ditunjang dari pemanfaatan link satelit sebesar 2.662 Mbps, radio long houl Palapa Ring Timur 500 Mbps, dan radio long houl Sarmi-Biak 1.600 Mbps.

“Untuk mengamankan kualitas link pada saat proses penyambungan, Telkom juga menyediakan back up link khusus untuk wilayah Manokwari dan Biak sebesar 40 Gbps melalui Palapa Ring Timur,” kata Johnny.

Jhonny menambahkan, proses pemulihan jaringan kabel bawah laut tidak bisa dilakukan dengan mudah, mengingat kedalaman yang terputus mencapai 4.050 meter. Untuk mengatasinya, dibutuhkan peralatan khusus yaitu penggelaran melalui kapal.

Saat ini, kata dia, PT Telkom tengah melakukan penggelaran kapal untuk mengangkat kabel yang terputus dan menyambungnya kembali.

Berita Terkait  Siswa SMK Ciptakan Light Trap Insect, Ampuh Atasi Hama!
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *