Ada Kontribusi Varian Covid-19 Delta B-1617.2, Pelaksanaan Vaksinasi Dipercepat

  • Bagikan
ilustrasi vaksin sinovac (Foto: Ahmad Fachry/WMG)

INDONESIAUPDATE.ID – Kurva penambahan kasus baru Covid-19 di Indonesia menunjukkan tren yang tak menggembirakan pada dua pekan pertama di Juni 2021.

Ada kenaikan yang cukup terjal, dari rata-rata harian 5.700-an menjadi 8.000-an, lalu meloncat menyentuh level 9.944 pada 15 Juni, dan melambung ke 12.624 pada 17 Juni. Kontribusi yang terbesar dari Jawa, terutama Jawa Tengah, DKI Jakarta, dan Jawa Barat.

Perkembangan ini bukannya tidak terduga. Jauh-jauh hari, pemerintah telah meminta semua pihak waspada melewati hari-hari libur lebaran. Bahkan, ada pelarangan perjalanan mudik lebaran.

Arus mudik jauh berkurang. Namun mobilitas lokal tak mudah dicegah. Kerumunan tak terhindarkan di hari-hari lebaran, termasuk dari acara-acara keluarga, rekreasi, dan wisata.

Transmisi virus terjadi di tengah situasi libur lebaran dan berlanjut melalui arus balik. Walhasil, laju penularan terus meningkat dengan melibatkan strain virus baru asal India, yakni varian Delta B-1617.2, yang daya tularnya 2 hingga 2,8 kali lipat lebih cepat dibanding varian lama.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengakui, varian Delta B-1617.2 muncul dalam peristiwa lonjakan kasus Covid-19 di DKI Jakarta, Kudus, dan Bangkalan, Madura, tiga episentrum ledakan pandemi di Jawa, pascalebaran.

“Sudah terkonfirmasi, varian Delta ini yang mendominasi kasus-kasus baru di Jakarta, Kudus, maupun Bangkalan,’’ ujarnya, dalam konferensi pers pada Senin, 14 Juni 2021.

Betapa besar dominasi varian Delta tampak dari hasil pemeriksaan genome sequencing atas 34 sampel virus yang diambil secara acak di antara pasien Covid-19 di Kudus.

“Dari 34 sampel itu yang varian Delta ada 28,” ujar Menkes, seraya menekankan bahwa daya tular yang tinggi itu tak berarti mengakibatkan persentase kematian atau case fatality ratio (CFR) yang tinggi pula.

Statistik Covid-19 di India menunjukkan, amukan varian Delta, di sepanjang Maret–Mei 2021 juga tak mengerek CFR. Pemerintah India justru mencatat angka kematian gelombang satu Covid-19 (September 2020) lebih tinggi, yakni ketika varian Delta belum merebak.

CFR pada gelombang 1 sebanyak 1,6-1,7 persen. Sedangkan pada tsunami Covid gelombang II yang terjadi pada Maret–Mei 2021, yang melibatkan varian Delta, CFR-nya malah turun ke level 1,1–1,2 persen.

CFR Tinggi di Bangkalan   

Varian Delta ini pula yang dianggap membuat angka kasus Covid-19 meletus di Kudus. Pada 10 Mei 2021, baru ada 116 kasus aktif di Kudus. Usai lebaran, yakni pada 16 Mei, angkanya bergerak naik ke 151 kasus.

Berita Terkait  Terdakwa Penyiram Novel Hanya Divonis 2 dan 1 Setengah Tahun

Yang mencengangkan, kasus aktif itu bergerak secara eksponensial menjadi 1.190 kasus pada 30 Mei, dan berlipat lagi menjadi 2.342 pada 13 Juni. Selama lonjakan berlangsung, lebih dari 360 tenaga kesehatan (nakes) terinfeksi, dan dilaporkan satu di antaranya meninggal.

Adanya nakes yang terinfeksi itu pula yang membuka kisah lonjakan Covid-19 di Bangkalan, Madura. Pada awal Juni beredar berita 29 nakes dari dua puskesmas di Kecamatan Arosbaya positif Covid-19.

Kisah berlanjut dengan penutupan sementara IGD RSUD Bangkalan setelah dua di antara nakes  terjangkit Covid-19 itu meninggal dunia.

Sebelumya dilaporkan pula, ada 15 pasien (dengan reaksi positif atas tes antigen), dan 10 di antaranya meninggal dalam waktu kurang dari 24 jam di RSUD Bangkalan.

Dari kejadian itu kemudian Bangkalan menjadi sorotan. Kejadian berlanjut dengan adanya 25 kasus baru pada 5 Juni. Esok harinya, Dinas Kesehatan Jawa Timur menggelar operasi penyekatan di Jembatan Suramadu, yang menghubungkan Kota Surabaya-Bangkalan. Dari pelaku perjalanan dari Bangkalan ke arah Surabaya, yang menjalani tes swab antigen, didapati 90 reaktif. Mereka diisolasi dan diperiksa lagi dengan tes PCR.

Selama 10 hari penyekatan, ada sekitar 30 ribu pelaku perjalanan diskrining, mula-mula dengan tes antigen dan berlanjut ke PCR. Hasilnya, 386 orang positif Covid-19. Sebagian mereka dari Bangkalan, sedangkan sebagian lain dari kabupaten sekitar. Skrining masif juga dilakukan di Madura.

Hasilnya, pada 15 Juni 2021 tercatat ada 539 kasus aktif. Secara keseluruhan, Bangkalan telah mencatat 2.219 kasus selama pandemi, dengan 222 kematian. Angka CFR-nya cukup besar, 10 persen, lebih tinggi dari Kudus yang 8,1  persen. Sedangkan angka CFR nasional adalah 2,8 persen.

Tanggap Darurat

Kudus dan Bangkalan hanya dua dari sekian banyak daerah yang bergulat menahan lonjakan Covid-19. Dari Jawa Tengah dilaporkan adanya lonjakan yang cukup tinggi dari Kabupaten Demak, Sragen, Brebes, Tegal, Banyumas, dan Kota Semarang.

Di Jawa Barat, lonjakan terasa di Kota Bekasi, Depok, Kabupaten Karawang, Cirebon, Bandung Barat, dan Kota Bandung, sementara beberapa daerah lainnya menyimpan kasus aktif cukup tinggi, seperti Tasikmalaya dan Garut.

Lima kota administratif di DKI Jakarta juga tergolong zona merah. Dari 267 kelurahan di DKI Jakarta, 264 di antaranya memiliki kasus aktif. Untuk seluruh wilayah DKI Jakarta kini tercatat hampir 20.000 kasus aktif.

Berita Terkait  Istri Walkot Depok Positif Covid-19, Jubir Gugus Tugas: Sudah Lakukan Isolasi di Rumah Sakit

Rumah-rumah sakit rujukan kebanjiran pasien. Tingkat keterisian tempat tidur atau bed occupancy ratio (BOR) secara rata-rata sudah di atas 70 persen.

Meski tidak setinggi di Jawa Tengah, Covid-19 juga menggeliat di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Di Kabupaten Gunung Kidul dalam sepekan terakhir kasus baru bertambah 70-80 orang per hari,  dan kini tercatat kasus aktif 745 orang.

Di Kabupaten Sleman dan Kota Yogyakarta, kasus aktif meningkat. Tak heran bila BOR di rata-rata rumah sakit di DIY telah mencapai 75 persen, sedangkan BOR di ICU 58 persen.

Provinsi Banten juga masuk dalam radar Satgas Covid-19 sebagai daerah yang mengalami kenaikan kasus harian.

Kemudian di sejumlah kabupaten di Provinsi Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, dan Kepulauan Riau juga masih menunjukkan situasi yang belum stabil. Kondisi itu membuat secara nasional angka insidensi Covid-19 meningkat.

Secara umum, pemerintah daerah (pemda), bekerja sama dengan pemerintah pusat dan didukung TNI-Polri, melakukan tindakan tanggap darurat. Dengan dukungan Kementerian Kesehatan, pemda-pemda memastikan bahwa segala alat kesehatan, obat-obatanan, test kit, dan nakes bisa tersedia.

Bila ada kekurangan piranti dan tenaga, Kemenkes melakukan mobilisasi dan melibatkan TNI-Polri. Targetnya, semua pasien mendapat perawatan yang baik dan tempat isolasi bagi yang tanpa gejala cukup tersedia.

Dalam rangka tanggap darurat itu,tracingtestingtreatment (3T) digencarkan. Penyekatan dengan skrining dilakukan seperti di Jembatan Suramadu dan sejumlah tempat di Jawa Tengah.

Berbarengan dengan itu semua PPKM Mikro dijalankan. Di Kudus, Jepara, Pati, dan Demak, ratusan RT di-lockdown. Satgas Covid-19 yakin, penegakan PPKM Mikro di Kudus dan sekitarnya bisa mencegah varian Delta bergulir lebih jauh.

Percepatan Vaksinasi

Namun, PPKM Mikro dan tanggap darurat hanyalah langkah sementara yang tidak dapat melindungi warga dalam jangka panjang. Presiden Joko Widodo selalu menekankan pentingnya vaksinasi secara masif.

Percepatan vaksinasi tak bisa dielakkan menghadapi situasi pandemi yang tak pasti ini. Maka, Presiden Jokowi sering hadir ke mana-mana meninjau pelaksanaan vaksinasi.

Senin, 14 Juni 2021 pagi, Presiden Jokowi pun meninjau vaksinasi di Rusun Tanah Tinggi, Johar Baru, Jakarta Pusat, didampingi Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dan Gubernur Anies R Baswedan.

Berita Terkait  Perpres 10/2021, UMKM Diuntungkan

Presiden menyatakan, permukiman padat seperti kompleks rusun perlu diprioritaskan karena kontak dan interaksi antarwarganya sangat tinggi.

‘’Bayangkan, kalau di rusun ini satu saja ada yang terkena, menyebarnya akan cepat sekali, sehingga vaksinasi sangat diperlukan di kawasan ini,” ucapnya.

Karena begitu banyak yang perlu mendapatkan prioritas, percepatan vaksinasi adalah keharusan. Presiden Jokowi pun memerintahkan ke Menteri Kesehatan agar kecepatan vaksinasi, yang antara 400  ribu suntikan per hari, bisa ditingkatkan menjadi 1 juta suntikan per hari,  pada Juli nanti.

Pemprov DKI juga diinstruksikan untuk mempercepat vaksinasi, dengan 100 ribu suntikan per hari, supaya target 7,5  juta warga DKI bisa selesai divaksin pada Agustus.

“Ini memang target yang sangat ambisius. Tapi, mau tidak mau, kita harus ke sana, untuk mencapai kekebalan komunal,” tutur Presiden Jokowi.

Per 15 Juni, realisasi vaksinasi  dua suntikan (genap) sudah menjangkau 11,7 juta orang (6,4 persen dari target), sementara itu yang sudah menjalani setidaknya satu suntikan ada 20,7 juta orang (11,5 persen dari target). Vaksinasi memang terbukti bisa menekan kasus baru.

Amerika Serikat (AS) adalah salah satu contoh keberhasilan vaksinasi. Kini di AS kasus baru Covid-19 harian ada di sekitar 11-12 ribu. Pada masa puncaknya, AS pernah membukukan 260 ribu kasus baru dalam 24 jam seperti yang terjadi awal Januari 2021.

Per 14 Juni, vaksinasi dua suntikan (genap) telah menjangkau 45 persen populasi di AS, dan 53 persen untuk yang setidaknya telah menerima 1 kali suntikan.

Inggris juga berhasil mengendalikan Covid-19 dengan vaksinasi. Pada puncaknya, awal Januari 2021, kasus baru mencapai 60.000 per hari.

Dengan vaksinasi yang masif, kasus aktif Covid-19 terus susut hingga di bawah 4.000 kasus per hari mulai Maret hingga Mei. Angka kematian yang pernah 1.250 orang per hari, pun menciut menjadi di bawah 10 orang per hari.

Namun, varian Delta berjangkit di Inggris, dan kasus harian pun kembali merambat naik, dan sampai ke level 7,000-an pada pertengahan Juni ini. Varian ganas itu bisa menyebabkan warga Inggris, yang di pertengahan Juni ini 46 persen telah menerima dosis lengkap vaksin, terinfeksi tapi tidak terlalu parah. Angka kematian yang ditimbulkan tetap di bawah 10 orang per hari.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *