Lebih Dari Dua Pekan Swab Massal di Suramadu, 843 Orang Positif Covid-19

  • Bagikan

INDONESIAUPDATE.ID – Jembatan Suramadu menjadi ajang pertaruhan. Penyekatan dilakukan pada ujung jembatan ke arah Kota Surabaya.

Sejak 5 Juni lalu, petugas gabungan tanpa henti melakukan pemeriksaan atas semua pelaku perjalanan yang akan masuk ke Surabaya.

Mereka harus berbekal dokumen resmi bebas dari Covid-19 atau bersedia menjalani tes antigen dan dinyatakan nonreaktif agar dapat melanjutkan perjalanan.

Situasi pandemi dianggap sudah cukup gawat. Hanya yang sehat yang boleh lewat di atas jembatan penghubung Pulau Madura dengan Surabaya itu.

Kebijakan tidak populer tersebut sangat terpaksa diambil, setelah lonjakan kasus Covid-19 terjadi di Kabupaten Bangkalan, bagian paling barat Madura yang persis berhadapan dengan Kota Surabaya.

Bukan hanya kasus positif Covid-19 yang meningkat, di Bangkalan juga ditemui strain baru Delta B-1617.2, asal India yang cepat menular.

Bangkalan adalah episentrum baru. Ia menjadi satu-satunya zona merah di Jawa Timur. Tidak heran Pemprov Jatim mencoba membendungnya dengan melakukan penyekatan di Suramadu.

Bila bobol, virus akan masuk ke Surabaya dan sulit dibendung penyebarannya ke banyak daerah lain di Jatim.

Potensi penyebaran itu nyata. Dalam 15 hari pertama, sekitar 48 ribu pengguna jalan menjalani tes cepat swab antigen. Hasilnya, sekitar 1.500 orang menunjukkan gejala reaktif.

Ketika kepada mereka dilakukan tes swab PCR, 843 dinyatakan positif Covid-19. Situasi belum beranjak membaik. Pada hari Selasa (22/6/2021), 506 pelaku perjalanan kembali dites usap antigen, dan 24 di antaranya reaktif.

Penyekatan itu tak urung menimbulkan protes. Proses pemeriksaan itu memakan waktu dan tentu menimbulkan antrean panjang.

Pemakai jalan yang umumnya ialah kaum pekerja atau pelaku usaha kecil mikro (UKM) merasa dirugikan, karena merasa kehilangan waktu dan bila menolak menjalani tes usap diminta putar balik. Kalau hasil tes reaktif mereka diminta menjalani karantina.

Berita Terkait  Vaksinasi Covid-19 di Indonesia Sudah 27 Juta Suntikan

Protes itu sempat bergulir menjadi demonstrasi, pada Senin (21/6/2021). Ratusan warga Bangkalan melakukan berunjuk rasa dengan kendaraan bermotor yang berhiaskan beragam poster.

Massa demo sempat dikawal menemui Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi. Mereka menyampaikan keberatan atas tindakan penyekatan yang disebut merugikan, tidak efisien, dan diskriminatif karena tak berlaku sebaliknya.

Bukan hanya demo, sebelumnya massa sempat mengobrak-abrik sebagian dari deretan meja di pos pemeriksaan. Namun, aksi itu cepat bisa dikendalikan satuan TNI-Polri yang menjaganya.

Massa pun diarahkan menemui Wali Kota Surabaya. Sebagian yang tak puas, melakukan aksi lanjutan pada esok harinya. Sekitar 50 orang melakukan keributan,  ada yang menyerang petugas dengan mercon. Toh, aksi itu tak berlanjut.

Wali Kota Surabaya menyatakan, penyekatan itu akan terus dilakukan hingga situasi pandemi lebih aman.

“Sebetulnya, kebijakan ini diambil oleh Pemprov Jawa Timur. Penanggung jawab operasi penyekatan ini TNI-Polri. Kami dari Pemkot Surabaya hanya bertugas menyediakan petugas medis,’’ ujar Wali Kota Eri Cahyadi. Tenda-tenda dan meja petugas penyekatan memang terus dipasang.

Pemkab Bangkalan sendiri terus berjuang menekan penyebaran Covid-19 yang kini sudah disusupi oleh varian Delta asal India itu.

Selama periode 5–20 Juni 2021 tercatat ada 1.104 kasus baru, dan kini menyisakan 890 kasus aktif Covid-19, dengan catatan 107 kasus kematian. Padahal, pada 5 Juni itu baru ada 56 kasus aktif. Terjadi kenaikan kasus aktif 16 kali.

Hasil surveilans genom sequencing juga menunjukkan bahwa dari 19 varian Delta kasus yang ditemukan di Jawa Timur, semua dari Bangkalan.

‘’Wajar kalau Covid-19 melonjak di sana, karena varian Delta itu sangat menular,” kata Joni Wahyuhadi dari Satgas Covid-19 Provinsi Jawa Timur. Penyekatan keluar masuk Bangkalan terpaksa harus dilakukan untuk melokalisasi penyebarannya

Berita Terkait  Kemendes Targetkan Program Afirmasi Kepala Desa Berjalan Tahun Ini

Tak pelak, Bangkalan menjadi sorotan. Kasus aktif Covid-19 per 21 Juni di Jawa Timur adalah 4.808, yang 18,5 persen disumbang dari Bangkalan.

Sejauh ini, di Pulau Madura sendiri, hanya Bangkalan yang mengalami lonjakan, sementara di tiga kabupaten yang lain, yakni Sampang, Pamekasan, dan Sumenep, penyebaran Covid-19 relatif terkendali. Bahkan, di Kabupaten Sumenep kondisi pandemi relatif beranjak ringan, dan bergerak dari zona kuning mendekati zona hijau.

Dalam kondisi lonjakan Covid yang tinggi di Pulau Jawa, kondisi Jawa Timur relatif lebih terkendali. Kasus aktifnya per 22 juni 2021 yang tercatat  4.808 kasus jauh di bawah tetangganya Jawa Tengah (18.804 kasus), bahkan Daerah Istimewa Yogyakarta mencapai 6.471 kasus.

Sementara, Jawa Barat kasus aktifnya sudah mencapai 32.582 kasus, berbeda tipis dari DKI Jakarta yang 32.191 kasus.

Bila Jawa Timur jebol, maka Pulau Jawa akan merah membara. Tak heran bila situasi di Bangkalan pun menjadi perhatian besar banyak pihak.

Lonjakan Covid-19 di Jawa Tengah tidak bisa lepas dari munculnya varian Delta di Kudus yang diperkirakan merembes ke daerah sekitarnya. Yakni, ke Jepara, Pati, Grobokan, Sragen, Demak dan Kota Semarang. Rembesan semacam itu yang perlu dicegah.

Dokter Joni Wahyuhadi dari Satgas Covid-19 Jawa Timur meyakini, varian Delta itu masuk ke Bangkalan berbarengan dengan mobilitas orang menjelang lebaran, hal yang serupa dengan Kudus.

‘’Tentu ada yang membawanya tanpa sengaja. Varian Delta itu tak mungkin sampai di sana bila tak ada yang membawanya,” kata Joni. Menyekat Suramadu ialah tindakan mengontrol penyebarannya.

Kontrol yang efektif tak sempat dilakukan di Kudus. Dengan banyak jalur darat, termasuk jalan tikus,  dari dan ke wilayah sekitarnya, lonjakan kasus di Kudus itu cepat menyebar ke wilayah tetangganya. Penyekatan untuk Kudus cukup terlambat. Hal tersebut tak boleh terulang di Bangkalan.

Berita Terkait  Presiden Jokowi Terbitkan Keppres Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia

Untuk menuju ke Surabaya dari Bangkalan, Jembatan Suramadu adalah urat nadinya. Jalur lewat laut praktis tak ada lagi sejak jembatan sepanjang  5,4 km dengan sekitar 2 km di atas air itu diresmikan pada 2009.

Maka, tindakan penyekatan paling efektif ialah di lokasi itu. Langkah tersebut akan terus dijalankan meski pun banyak menuai protes. Ada pertaruhan besar di sana terkait penyebaran Covid-19.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *