Penyembelihan Hewan Kurban Menurut Sains

  • Bagikan
Ilustrasi sapi (shutterstock)

INDONESIAUPDATE.ID – Saat peringatan Idul Adha, umat Islam yang mampu disyariatkan menyembelih hewan kurban kambing, domba, atau sapi. Ada penjelasan yang menarik terkait hewan kurban dari sisi sains.

Penyembelihan hewan kurban bagi sebagian kalangan dipandang sebagai ritual pembantaian hewan yang biadab dan menuai kontroversi. Sebelum terhidang makanan dengan menu daging, hewan memang akan melalui tata cara penyembelihan. Namun tata cara penyembelihan dalam Islam tidak menyakiti hewan tersebut.

Memang benar, ketika darah mengalir dari tenggorokan, hewan akan terlihat berontak, namun seperti dikutip dari website Mustaqim Islamic Art & Literature, penyembelihan sesuai syariat Islam tidak menimbulkan rasa sakit pada hewan yang dikurbankan.

Kita disuruh untuk berbuat baik kepada seluruh makhluk, tidak boleh berbuat aniaya (zalim), termasuk kepada hewan kurban. Maka, pada saat akan menyembelih hewan kurban, kita diwajibkan mengasah pisau setajam mungkin untuk meringankan beban hewan yang disembelih. Proses penyembelihan pun harus diawali dengan membaca basmallah (Bismillahirrohmanirrohim).

Dari Syadad bin Aus RA, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah memerintahkan agar berbuat ihsan (baik) terhadap segala sesuatu. Jika kalian hendak membunuh, maka bunuhlah dengan cara yang baik. Jika kalian hendak menyembelih (hewan), maka sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaklah kalian menajamkan pisau kalian untuk meringankan beban hewan yang akan disembelih.” (HR Muslim no 1955)

Fakta sains hewan kurban

Peneliti Profesor Wilhelm Schulze dan rekannya Dr Hazim dari University of Hannover di Jerman, membuktikan klaim ini dengan membandingkan penyembelihan hewan secara syariat Islam dan metode konvensional.

Dalam syariat Islam, penyembelihan dilakukan dengan membuat sayatan cepat dan dalam dengan pisau yang sangat tajam di leher. Pisau tersebut memotong tiga saluran pada leher, yaitu saluran makan, saluran napas serta dua saluran pembuluh darah, yaitu arteri. Sedangkan hewan lainnya menggunakan metode konvensional yakni dilumpuhkan terlebih dahulu dengan pistol listrik.

Berita Terkait  Efek Corona, Unej Tunda Wisuda 900 Mahasiswanya

Agar valid, perbandingan dua metode ini dicatat oleh EG (Elektroensefalografi) dan EKG (Elektrokardiogram). Beberapa elektroda ditanamkan melalui pembedahan di berbagai titik tengkorak semua hewan yang digunakan dalam percobaan.

EEG merekam aktivitas elektrik di sepanjang kulit kepala dan mengukur fluktuasi tegangan yang dihasilkan oleh arus ion di dalam neuron otak. Sedangkan EKG merekam aktivitas jantung dalam waktu tertentu.

Hasil perekaman memperlihatkan, penyembelihan sesuai syariat Islam pada 3 detik pertama setelah hewan kurban disembelih, tidak ada perubahan pada grafik EEG yang mengindikasikan tidak ada rasa sakit.

Pada tiga detik berikutnya, EEG pada otak kecil merekam adanya penurunan grafik secara bertahap yang sangat mirip dengan tidur. Setelah itu, EEG pada merekam adanya penurunan grafik secara bertahap hingga hewan benar-benar kehilangan kesadaran.

Setelah 6 detik pertama, EKG pada jantung merekam adanya aktivitas luar biasa dari jantung untuk menarik sebanyak mungkin darah dari seluruh anggota tubuh dan memompanya keluar. Hal ini merupakan refleksi gerakan koordinasi antara jantung dan sumsum tulang belakang (spinal cord).

Karena darah tertarik dan terpompa oleh jantung keluar tubuh secara maksimal, maka dihasilkan daging yang sehat. Jenis daging dari hasil penyembelihan semacam ini sesuai prinsip Good Manufacturing Practise (GMP) yang menghasilkan makanan sehat.

Sedangkan penyembelihan secara konvensional, setelah dilakukan proses stunning (pemingsanan), hewan terhuyung-huyung kemudian roboh dan tidak bergerak sehingga mudah dikendalikan. Karenanya, hewan dengan mudah disembelih tanpa meronta-ronta dan tampaknya tanpa mengalami rasa sakit.

Pada saat disembelih pun darah yang keluar hanya sedikit, tidak sebanyak jika disembelih tanpa proses pemingsanan. Namun setelah proses pemingsanan, terlihat adanya peningkatan grafik EEG yang signifikan yang mengindikasikan rasa sakit.

Berita Terkait  Antisipasi Puncak Musim Kemarau, Jambi Percepat Pelaksanaan Penanganan Dampak Perubahan Iklim

Di pengujian EKG, grafik pun menunjukkan penurunan grafik yang mengakibatkan jantung kehilangan kemampuan untuk menarik darah. Karena darah tidak terpompa keluar tubuh secara maksimal, darah tersebut membeku di dalam urat atau pembuluh darah dalam daging hewan sehingga menghasilkan daging yang tidak sehat. Hal ini menyebabkan daging menjadi tidak layak dikonsumsi. (detik)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *