Menteri Investasi: Meski Pandemi Ekonomi Tetap Tumbuh

  • Bagikan
Ilustrasi/Pixabay

INDONESIAUPDATE.ID – Pandemi telah berlangsung 1,5 tahun di Indonesia dan selama itu pula pemerintah tidak tinggal diam. Boleh dikata, selama 24 jam 7 hari seminggu, pemerintah selalu bergerak lincah mendeteksi setiap titik yang diperkirakan bakal terdampak oleh virus SARS COV-2 dan mencari jalan keluarnya.

Upaya menjinakkan penyebaran virus corona beriringan dengan aneka stimulus berbalut pemulihan ekonomi nasional.

Percepatan pengiriman jutaan dosis vaksin ke seluruh Nusantara dibarengi semakin gencarnya pemberian vaksinasi sejak awal 2021.

Mengutip laporan Satuan Tugas Nasional Percepatan Penanganan Covid-19, kecepatan penyuntikan vaksin sudah mencapai angka 1.238.380 dosis per hari pada Jumat (6/8/2021).

Ini saling berkejaran dengan terus ditambahnya jumlah fasilitas kesehatan darurat Covid-19 untuk mengimbangi bed occupancy ratio (BOR) agar stabil dan tidak terjadi kekurangan.

Percepatan pengadaan obat-obatan bagi kebutuhan terapi penanganan Covid-19 ditunjang ketersediaan pasokan oksigen, baik yang disediakan oleh produsen dalam negeri atau impor. Tak kalah pentingnya adalah akselerasi testing, tracing, dan treatment (3T) diikuti penerapan disiplin protokol kesehatan.

Aneka stimulus untuk pemulihan ekonomi nasional juga ikut dilakukan. Mulai dari program bantuan perlindungan sosial, diskon listrik, relaksasi kredit konsumer, dan gencarnya program padat karya.

Ini mendorong terjadinya laju konsumsi seiring terkendalinya laju inflasi dan defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) sebagai indikator stabilitas keuangan.

Daya beli masyarakat pun perlahan membaik terutama ketika Ramadan dan Idulfitri. Kondisi ini menghasilkan perbaikan pada pertumbuhan ekonomi year on year seperti terlihat pada triwulan kedua 2021 yakni sebesar 7,07 persen seperti disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik Margo Yuwono di Jakarta, Kamis (5/8/2021).

Di mata Menteri Investasi Bahlil Lahadalia, pengendalian kasus Covid-19 di sektor kesehatan menjadi kunci utama dalam pemulihan ekonomi nasional. Jika sektor ini terkendali dengan baik, maka berbagai sektor lainnya juga akan mengikuti termasuk investasi.

Berita Terkait  Tinjau Vaksinasi, Presiden Jokowi Terbang ke Lampung

“Pemulihan ekonomi itu bilamana isu kesehatan ini bisa ditanggulangi. Kesehatan itu adalah panglimanya, sisanya mengikuti saja,” kata Bahlil dalam webinar “Mengupas Pertumbuhan Ekonomi Triwulan II-2021” di Jakarta, Jumat (6/8/2021).

Menurut pria kelahiran Banda, 7 Agustus 1976, apa yang didapat pada saat ini jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya. Jika merujuk pencapaian di periode sama pada 2020, ekonomi Indonesia berkontraksi sebesar minus 5,32 persen. “Tapi yang ingin saya sampaikan adalah bahwa meski pandemi, prospek dinamika ekonomi nasional mulai ada perbaikan,” kata Bahlil.

Menteri yang dilantik Presiden Joko Widodo, pada 28 April 2021 itu mengakui pencapaian pertumbuhan ekonomi 7,07 persen tak boleh membuat kita berpuas diri. Lantaran hasil itu merupakan realisasi 3 bulan sejak April, Mei, dan Juni 2021. Ditambah lagi, pada periode itu Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) belum diperketat dan penyebaran Covid-19 masih sedikit tertahan.

PPKM Darurat yang diberlakukan pada awal hingga akhir Juli dilanjutkan PPKM level 1-4 akan memberi dampak pada triwulan berikutnya. “Pertumbuhan ini harus diapresiasi tetapi tidak boleh membuat kita terlena. Karena kondisinya memang harus diakui tidak sama baik dengan triwulan kedua,” katanya.

Maka yang harus dilakukan pemerintah, lanjut Bahlil, yakni mengendalikan kasus Covid-19 dengan mengatur rem dan gas sektor ekonomi dan sosial. Selain itu, sambung dia, perlu juga kerja sama sinergi dan kekompakan antara pemerintah dan masyarakat.

Ekonom senior Faisal Basri yang ikut menjadi pembicara pada webinar tersebut mengatakan, ibarat perebutan medali Olimpiade, kita belum melihat tanda-tanda akan mendapatkannya. Sebab, menurut Faisal, masih ada triwulan ketiga dengan ujian yang lebih besar di mana terjadi lonjakan tinggi dalam kasus Covid-19.

Berita Terkait  Sembako Sahara Siap Bantu Pemerintah Jembatani Warung-warung Kecil

Pengajar pada Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia ini juga berharap agar kewenangan Bahlil sebagai menteri investasi diperluas. “Saat ini baru 15 persen investasi yang bisa diserap. Beri kewenangan kepada menteri investasi agar mengelola seluruh peluang investasi di tanah air,” jelasnya.

Menanggapi Faisal, Bahlil mengakui hasil perbaikan pertumbuhan ekonomi triwulan kedua ini belum bisa disebut masuk babak semifinal atau final. Karena hasil akhirnya baru akan terlihat pada Desember 2021. Ia juga menyebutkan, dalam waktu 2 bulan sejak dibentuk, kementerian yang dipimpinnya baru masuk ke sektor riil langsung, investasi asing langsung (foreign direct investment), dan penanaman modal dalam negeri (PMDN).

“Kita memang sedang mengkonsolidasi agar dapat mengelola seluruh bagian investasi termasuk yang memberikan nilai tambah. Kita telah membuat langkah-langkah komprehensif yang terukur untuk investasi di sektor-sektor industri dan pengolahan bahan baku untuk barang jadi. Ini lagi masif kita lakukan,” ungkap Bahlil.

Mantan Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) itu tetap optimistis bahwa ekonomi akan makin membaik ke depannya. Orkestrasi pemerintah dan masyarakat menjadi kunci utama pemulihan ekonomi nasional.

Ini sejalan dengan prediksi Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. Dalam webinar “Strengthening Economic Resilience in the Midst of Prolonged Covid-19 Pandemic”, Jumat (6/8/2021), ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia di akhir 2021 berada di kisaran 3,5-4,3 persen. Begitu juga proyeksi di 2022 bisa berada di kisaran 4,6-5-4 persen. Laju inflasi juga akan dijaga agar di bawah target 3 persen serta CAD di kisaran minus 0,6 persen hingga 1,4 persen dari PDB.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *