Pembangunan Pertanian Berorientasi Kesejahteraan, Aspek SDM dan Teknologi Jadi Kunci

  • Bagikan

INDONESIAUPDATE.ID – Meningkatkan kesejahteraan petani menjadi visi besar Kementerian Pertanian. Maka dari itu, di bawah komando Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, seluruh kebijakan berorientasi pada aspek peningkatan kualitas SDM para petani.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM (BPPSDMP) Kementerian Pertanian (Kementan), Dedi Nursyamsi mengatakan bahwa ada banyak tantangan dalam membangun pertanian. Karena ketika bicara pembangunan pertanian, maka secara langsung dihadapkan pada upaya menyediakan pangan 267 juta jiwa penduduk Indonesia, meningkatkan kesejahteraan petani dan meningkatkan ekspor komoditas pertanian.

“Untuk mewujudkan tujuan tersebut, bukan pekerjaan yang mudah, kita perlu konsentrasi dan bergerak bersama karena kita dihadapkan berbagai tantangan pembangunan pertanian diantaranya; dampak perubahan iklim yang akan berbengaruh terhadap produksi dan produksivitas hasil pertanian, krisis energi dan pangan dunia, perkembangan pasar bebas yang menuntut adanya persaingan terhadap produk-produk pertanian,” jelas Dedi saat memberikan arahan pada kegiatan bertajuk ‘Sosialisasi Pengembangan Teknologi Informasi dan Forum Koordinasi Penyuluh Pendamping Regional 1. Kegiatan dilangsungkan di Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (14/10).

Menurut Dedi, semua ini diperlukan pendekatan yang komprehensif agar semua aktivitas pembangunan pertanian dapat sesuai dengan kondisi yang ada dan agroklimat masing-masing daerah.

“Salah satunya melalui pendekatan teknologi. IPTEK dan Sarpras (Sarana dan Prasarana) ini satu dari tiga faktor kunci pengungkit produktivitas pertanian selain regulasi dan aspek SDM penyuluh,” beber alumnus Institut Pertanian Bogor tersebut.

Semua itu, lanjut Dedi, dimulai dengan pembangunan SDM yang mumpuni. SDM yang mampu meguasai seluk beluk pengembangan usaha tani dari hulu sampai hilir, SDM yang tidak bergantung pada bantuan tetapi Berdikari, dan SDM yang berdayasaing.

“Kita harus bisa mengubah mindset bahwa pertanian itu bukan sekedar kewajiban, kebiasaan atau pekerjaan warisan, namun pertanian dapat menguntungkan dan menjadi bisnis yang berkelanjutan,” papar Dedi.

Berita Terkait  Wajib Tahu! Ini Tombol Rahasia Whatsapp Desktop

Adapun kunci dari peningkatan kesejahteraan petani adalah memperkuat hilirisasi pertanian dan mengembangkan pertanian modern. Dijelaskan Dedi, ada beberapa ciri pertanian modern. Di antaranya penggunaan varietas unggul dengan potensi hasil tinggi (High Yiedling Variety), Pemanfaatan sarana prasarana pertanian modern (Alsintan), Pemanfaatan IOT melalui smart agriculture dan SDM pertanian yang unggul yang mampu menggenjot produktivitas.

“Maka dari itu, pengelola dan penyuluh pendamping di lokasi IPDMIP harus mempunyai semangat untuk meningkatkan kapasitas penguasaan teknologi bagi penyuluh maupun petani.
Manfaatkan segala media informasi untuk dapat mempublikasikan keberhasilan kegiatan IPDMIP,” jelas dia.

“Saya mengharapkan segenap pengelola dan penyuluh pendamping di lokasi IPDMIP untuk mengembangkan kapasitas usaha poktan dan gapoktan untuk menjadikannya korporasi petani,” tuutp Dedi.

Sementara Staf Khusus Menteri Pertanian Bidang Kebijakan Pertanian, Prof Imam Mujahidin Fahmid menegaskan bahwa di era 4.0, penguasaan teknologi menjadi hal yang mutlak diperlukan. Tak terkecuali untuk sektor pertanian.

“Tidak ada tawar menawar lagi, pembangunan pertanian mengarah kepada proses transformasi digital,” ujar Prof Imam.

Prof Imam memaparkan, dunia pertanian mengalami perubahan yang signifikan seiring dengan kian masifnya penetrasi teknologi dan internet. Terlebih di tengah pandemi sekarang, dimana menjadi tantangn tersendiri untuk memilih metodologi dan strategi baru dalam konteks mengembangkan pertanian.

“Itu yang kemudian melatari lahirnya Aplikasi Cerdas Pertanian. Ini adalah bentuk komitmen kami membangun pertanian berbasis teknologi. Makin memudahkan bagi para penyuluh maupun petani,” beber Prof Imam.

Menurutnya, kehadiran Aplikasi Cerdas Pertanian merupakan sebuah inovasi dan lompatan besar, karena memberikan kemudahan-kemudahan pada petani dan penyuluh. “Tidak lagi terhalang jarak, proses transfer pengetahuan dari pusat ke daerah lebih efektif,” jelas dia.

Berita Terkait  Oknum TNI Pukul Pegawai SPBU di NTT Berakhir Damai

“Harus dijadikan momentum, khususnya kepada para petani milenial. Bagaimana masuk pada arena pengetahuan melalui pendekatan teknologi seperti halnya aplikasi ini,” lanjut Prof Imam.

Dia berharap adanya partisipasi penyuluh yang masif untuk mengoptimalkan sosialisasi dan implementasi aplikasi Cerdas Pertanian ini. Termasuk menguatkan peran ‘Komando Daerah’ yang notabene menjadi mata dan telinga pemerintah dalam hal ini Kementan.

“Karena peran mereka sangat besar untuk mempercepat transformasi pertanian tradisional menuju digital. Jaringan Pertanian Nasional kita sudah terbentuk di seluruh daerah, harus dimaksimalkan,” pungkasnya.(*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *