INDONESIAUPDATE.ID – Kabupaten Pesawaran Provinsi Lampung bertekad terus meningkatkan kualitas SDM petani di daerahnya, melalui program Integrated Participatory Development and Management Irigation Projek (IPDMIP). Salah satunya melalui demonstrasi alat dan mesin pertanian (alsintan).
Pekan lalu, puluhan petani di sana digembleng untuk mendapat pemahaman mengenai optimalisasi penggunaan alsintan. Kegiatan dilaksanakan di Desa Banjar Negeri, Kecamatan Way Lima, Kabupaten Pesawaran.
“Jadi demonstrasi Alsintan ini bagian dari kurikulum program SL (Sekolah Lapang) Daerah Irigasi (DI) yang memang bagian dari program IPDMIP,” kata Kadis Pertanian dan Peternakan Kabupaten Pesawaran Fisky Virdous melalui keterangan tertulisnya, Rabu (20/10).
Fisky menjelaskan bahwa SL DI tidak hanya memberikan wadah informasi dan media pembelajaran petani, tetapi juga memberikan kemudahan kepada petani dalam bidang produksi tanaman padi, yaitu pengadaan benih berlabel ungu dan pengadaan alsintan bagi petani.
“Sebagai sektor yang menjadi perhatian utama khususnya bagi pemerintah Kabupaten Pesawaran, Pertanian menjadi ujung tombak perekonomian dimasa pandemi, dan kegiatan IPDMIP menjadi salah satu gambaran perhatian pemerintah terhadap kelangsungan sektor pertanian di Kabupaten Pesawaran,” beber dia.
Fisky menambahkan pada masa pandemi ini hanya pertanian yang relatif tidak berpengaruh. Karenanya momentum ini harus dimaksimalkan untuk memajukan dan mensejahterakan petani. “Ini sesuai cita-cita Menteri Pertanian Bapak Syahrul Yasin Limpo,” kata Fisky.
Manajer Program IPDMIP Kabupaten Pesawaran, Hermanto mengatakan, tujuan kegiatan ini supaya petani tertarik menggunakan alat ini karena harganya relatif murah dan loses-nya rendah. “Sehingga lebih efisien dari sisi biaya,” tambah Hermanto. Adapun kegiatan IPDMIP Kabupaten Pesawaran meliputi 6 Kecamatan; Unduh Pidada, Marga Punduh, Padang Cermin, Way Khilau, Kedondong, Way Lima.
Hermanto mengungkapkan kalau kedua alsintan pengadaan kegiatan IPDMIP ini memiliki banyak keunggulan yang mampu memudahkan petani dalam kegiatan pemanenan. Contohnya alat mesin potong padi yang sangat menguntungkan bagi petani, dengan harga yang relatif lebih murah, yaitu sekitar Rp.1.300.000 mesin potong padi memiliki beberapa keunggulan dari pada alat panen konvensional seperti sabit.
“Salah satunya yaitu mempercepat kegiatan panen, yang biasanya pemanenan padi bisa dilakukan sampai berhari hari, dengan mesin pemotong ini lebih cepat,” lanjutnya.
Dia lantas mencontohkan dalam waktu 60 menit mesin ini mampu memotong sekitar 300 meter luasan lahan. Jika satu hari dengan waktu delapan jam maka sekitar 2400 meter. “Dan keperluan bahan bakarnya untuk 1 hektar hanya 40 liter atau perkiraan satu jam kerja hanya 1 liter. Lebih efektif dibandingkan dengan mengandalkan cara manual yang biasa dilakukan petani,” beber Hermanto.
Keunggulan lain dari power trhesher juga mempermudah kegiatan pemanenan, karena mampu mengurangi kehilangan gabah sebanyak 9% dan padi yang rusak akibat terlalu lama tertimbun yang bisa terjadi apabila petani menggunakan penggebot padi biasa. “Kegiatan dan pengadaan alsintan diharapkan mampu menjadi salah satu cara mempermudah petani dalam segala aspek kegiatan pertanian dan menjadi tonggak keberhasilan peningkatan ekonomi pertanian khususnya di Kabupaten Pesawaran,” pungkasnya.
Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo mengatakan IPDMIP harus berperan dalam mendorong transformasi sistem pertanian tradisional menjadi modern. Transformasi ini dilakukan melalui peningkatan kapasitas SDM pertanian.
“IPDMIP harus berperan mendorong proses transformasi dari sistem pertanian tradisional menjadi modern. Untuk itu, SDM-nya harus digarap lebih dahulu. Mereka adalah petani, penyuluh, petani milenial melalui pelatihan,” kata Dedi Nursyamsi dalam keterangan tertulisnya.
Sistem pertanian tradisional, katanya, dicirikan oleh produktivitas yang rendah, penggunaan varietas lokal, dikerjakan secara manual atau dengan bantuan tenaga ternak. Sistem pertanian ini belum memanfaatkan mekanisasi pertanian serta teknologi informasi dan komunikasi (TIK).
“Pertanian modern dicirikan masifnya varietas berdaya hasil tinggi, menerapkan mekanisasi dan pemanfaatan teknologi era industri 4.0,” kata SYL.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian (Kementan) Dedi Nursyamsi mengingatkan, IPDMIP harus melaksanakan kegiatan-kegiatan yang memberikan dampak output dan outcome signifikan di lahan-lahan pertanian beririgasi. IPDMIP dapat berperan melalui kegiatan Training of Trainer (TOT), Training of Facilitator (TOF), Bimbingan Teknis (Bimtek) bagi Komando Strategis Pembangunan Pertanian (KostraTani) di tingkat provinsi (Kostrawil) dan kabupaten (Kostrada).
Dedi Nursyamsi mengharapkan NPIU dari IPDMIP dalam bekerja mencontoh tim sepak bola yang mengutamakan kerjasama tim, kemampuan individu sehingga dapat menerjemahkan dan melaksanakan arahan pimpinan.
“Tim NPIU juga harus melakukan akselerasi semua kegiatan melalui proses yang cepat, sistematis dan taktis,” pungkasnya.(*)











