INDONESIAUPDATE.ID – Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Beni Prihatatno mengungkapkan anggaran yang dikucurkan untuk program IPDMIP memberikan dampak yang besar bagi sektor pertanian di daerahnya.
Pada program pengelolaan dan pengembangan irigasi partisiaptif terpadu tersebut, Dinas Pertanian Kabupaten Kuningan mendapat alokasi hibah sebenar Rp8.020.000.000.
Kucuran dana tersebut berasal dari International Fund for Agricultural Development (IFAD), salah satu badan bentukan PBB yang fokus pada pengembangan pertanian. “Sejak 14 Februari 2018 (mulai digunakan anggarannya) sampai nanti 30 September 2023,” ujar Beni melalui keterangnan tertulisnya, Kamis (18/11).
Beni mengatakan sejak adanya program IPDMIP, pengetahuan dan keterampilan para petani dalam budidaya meningkat. Mereka lebih memahami bagaimana cara memanfaatkan lahan yang produktif, sehingga pengeolaan usaha taninya lebih baik.
“SDM petani Kabupaten Kuningan makin berkualitas. Kepercayaan diri para petani meningkat. Mereka lebih mandiri dalam usaha taninya,” kata Beni.
“Dan tentu yang paling penting, produktivitas mereka meningkat. Dari sebelumnya sebelumya rata-rata 5,6 ton/ha sekarang menjadi 6,2 ton/ha,” lanjut Beni.
Kabupaten Kuningan total mendapat Rp.38.960.000.000. Selain dari IPAD, mereka juga mendapat bantuan dari ADB (Asian Development Bank) serta ASEAN Infrastructure Fund (AIF), masing-masing Rp.25.780.000.000 dan Rp.5.160.000.000.
Ditambahkan Beni, dengan adanya Program IPDMIP yang menyediakan anggaran yang cukup besar, akan menjadi tantangan untuk semakin meningkatkan peningkatan kapasitas pengetahuan bagi seluruh ekosistem pertanian di Kabupaten Kuningan, sehingga diharapkan keseriusan dalam mengelola program IPDMIP ini guna meningkatkan pendapatan petani.
“Karena visi Bapak Menteri Pertanian (Syahrul Yasin Limpo) jelas, bagaimana terus meningkatkan kesejahteraan petani,” tambah dia.
Menurut Beni, anggaran dari IFAD yang notabene leading sector-nya adalah Kementerian Pertanian, diperuntukan untuk banyak hal. Yakni Rekrutmen Staf Lapangan, Pelatihan Penyuluh Swadaya, Sekolah Lapang (I & II), Buku Catatan Petani, Forum Berbagi Pengalaman Antar Petani, Kunjungan Lintas Desa, Pertemuan Bulanan Penyuluh, Penghargaan Petani, Penghargaan Penyuluh, Penyimpanan Benih, Peralatan Demonstrasi, Rantai Nilai, Koordinasi dan Monitoring Evaluas, hingga Peralatan Pendukung Manajemen.
“Sekarang sudah berjalan tahun ketiga,” tambah Beni.
Selama tiga tahun tersebut, pihaknya sudah melaksanakan kegiatan Pelatihan Penyuluh Swadaya sebanyak 30 Orang dari 8 Daerah Irigasi yang dilaksanakan pada tahun 2019. Dampak dari kegiatan tersebut penyuluh Swadya lebih efektif, efisien, meningkatnya pengetahuan, keterampilan teknik penyuluhan pertanian, dan teknik pertanian.
“Kami juga melaksanakan rekrutmen staf lapangan pada tahun 2019. Sebanyak 11 orang yang ditugaskan di 8 Wilayah Daerah Irigasi Kesepakatan dan setiap tahun perpanjangan kontrak, adanya staf lapangan sangat membantu untuk kelancaran program IPDMIP. Karena di Kabupaten Kuningan jumlah penyuluh pertanian belum ideal. Harapan kami 1 Penyuluh 1 Desa,” beber Beni.
Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo mengatakan IPDMIP memiliki peran mendorong proses transformasi dari sistem pertanian tradisional menjadi modern. Untuk itu, SDM-nya harus digarap lebih dahulu.
“Mereka adalah petani, penyuluh, petani milenial melalui pelatihan,” kata dia.
Sistem pertanian tradisional, katanya, dicirikan oleh produktivitas yang rendah, penggunaan varietas lokal, dikerjakan secara manual atau dengan bantuan tenaga ternak. Sistem pertanian ini belum memanfaatkan mekanisasi pertanian serta teknologi informasi dan komunikasi (TIK).
“Pertanian modern dicirikan masifnya varietas berdaya hasil tinggi, menerapkan mekanisasi dan pemanfaatan teknologi era industri 4.0,” tutup SYL.
Adapun kunci dari peningkatan kesejahteraan petani adalah memperkuat hilirisasi pertanian dan mengembangkan pertanian modern.
Dijelaskan SYL ada beberapa ciri pertanian modern. Di antaranya penggunaan varietas unggul dengan potensi hasil tinggi (High Yiedling Variety), Pemanfaatan sarana prasarana pertanian modern (Alsintan), Pemanfaatan IOT melalui smart agriculture dan SDM pertanian yang unggul yang mampu menggenjot produktivitas;
“Maka dari itu, pengelola dan penyuluh pendamping di lokasi IPDMIP harus mempunyai semangat untuk meningkatkan kapasitas penguasaan teknologi bagi penyuluh maupun petani. Manfaatkan segala media informasi untuk dapat mempublikasikan keberhasilan kegiatan IPDMIP,” jelas dia.
“Saya mengharapkan segenap pengelola dan penyuluh pendamping di lokasi IPDMIP untuk mengembangkan kapasitas usaha poktan dan gapoktan untuk menjadikannya korporasi petani,” tutup SYL.
Terpisah, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, Dedi Nursyamsi mengatakan pertanian harus diarahkan kepada bisnis. Artinya tidak sekadar mencukupi pangan sendiri.
“Tapi pertanian harus mengahasilkan uang. Ini yang menjadi salah satu core dari IPDMIP, menguatkan kapasitas dan SDM petani maupun penyuluh melaui berbagai program,” ujar Dedi.
Dedi lantas menyinggung pentingnya membangun sistem agribisnis yang kokoh. Yakni melalui pemanfaatan teknolgi berbasis 4.0. Menurutnya, hal tersebut bisa memberikan keuntungan yang masif bagi para petani.
“Penerapan teknolgi dalam aspek usaha tani jelas meningkatkan kualitas, menekan biaya produksi, dan menjamin produktivitas pertanian. Kita optimis pembangunan pertanin terus melangkah ke depan,” ungkap alumnus IPB University itu. (*)











