KOLOMHEADLINES

Pengaruh Lingkungan terhadap Pemerolehan Bahasa ‘Language Acquisition’ pada Anak

2486
×

Pengaruh Lingkungan terhadap Pemerolehan Bahasa ‘Language Acquisition’ pada Anak

Sebarkan artikel ini
Harries Marithasari, Dosen Program Studi Komunikasi Sekolah Vokasi IPB

Oleh : Harries Marithasari*

INDONESIAUPDATE.ID – Terkadang, setiap orang tua tiba- tiba menyadari dan terkejut, kenapa anak- anak mereka pintar berbicara dengan kosa kata baru. Para orang tua bertanya- tanya, dari mana mereka mendapat kosa kata tersebut ?

Kenapa mereka bisa pintar berbicara dengan kosa- kata seperti itu? Padahal kami tidak mengajarkan.
Bahkan sebaliknya, terkadang orang tua marah Ketika mengetahui anak- anak mereka mengeluarkan kata- kata yang kurang baik untuk didengar.

Dari mana mereka belajar kata- kata kasar tersebut? Padahal kami dirumah tidak pernah mengeluarkan kata- kata kasar.

Pemerolehan Bahasa atau language acquisition pada anak sangatlah berbeda- beda. Itu tergantung pada kondisi setiap anak. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah lingkungan pergaulan. Pada kondisi tertentu, ada anak yang memiliki keseharian hanya tinggal di rumah, pergi ke sekolah dan kembali ke rumah lagi setelah selesai sekolah.

Namun ada anak yang memiliki keseharian dengan aktifitas yang bermacam- macam di lingkungan yang bebeda- beda. Kehidupan mereka bukan hanya di lingkungan sekolah dan di rumah bersama keluarga, namun lingkungan lain yang secara otomatis akan mempengaruhi kemampuan pemerolehan Bahasa mereka.

Pemerolehan Bahasa pada anak yang memiliki lingkungan pergaulan yang banyak, pasti akan lebih tinggi dibandingkan dengan pemerolehan Bahasa pada anak yang memiliki lingkungan pergaulan yang sedikit. Semua ini berhubungan dengan interaksi yang dilakukan oleh anak tersebut dengan orang lain.

Semakin banyak lingkungan , maka secara otomatis akan semakin banyak interaksi yang mereka lakukan.

Sebagai contohnya, seorang anak memiliki beberapa lingkungan interaksi: lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan komplek rumah atau tentangga bahkan mungkin ada lingkungan keagamaan/ masjid. Maka secara otomatis, anak tersebut akan banyak mendapatkan kosa- kata baru dikarenakan interaksi social, social interaction, yang dia alami.

Berita Terkait  PPKM Mikro Mulai Berlaku Besok

Setiap lingkungan memiliki karakteristik dalam memberikan kosa- kata pada anak. Sebagai ilustrasinya, ada seorang anak yang selalu aktif melakukan kegiatan/ interaksi di masjid. Secara otomatis, kosa- kata yang mereka dapatkan pasti sesuai dengan situasi lingkungan masjid.

Ketika anak tersebut berkomunikasi dengan ustad atau guru yang mengajarkan mengaji, makan anak tersebut akan mendapatkan kosakata baru terkait keagamaan. Seperti contohnya, “sholat, berdoa, mengaji, wudhu, berbakti kepada orang tua, dan lain sebagainya.”

Kemudian, pada hari atau waktu yang lain, anak tersebut setiap sore memiliki interaksi dengan teman dikampung atau komplek rumah. Secara otomatis, pasti anak tersebut akan mendapatkan kosa- kata baru dari lingkungan tersebut. Seperti contohnya kosa- kata “bermain, bersepeda, jatuh, tertawa, melompat, dan lain sebagainya”.

Sebagai simulasi tambahan, misalnya seorang anak memiliki orang tua yang bekerja sebagai penjual di pasar. Sepulang sekolah, anak tersebut sering membantu kedua orang tuanya di pasar, maka secara otomatis anak tersebut akan melakukan social interaction dengan para pedagang pasar.

Kemudian hal terebut akan berbanding lurus dengan pemerolehan Bahasa pada anak tersebut. Anak tersebut akan mendapatkan kosa kata baru seperti contohnya : “menawar, membeli, menjual, memilih barang, dan lain sebagainya”.

Lantas, apakah dengan semakin banyak lingkungan interaksi berarti bagus untuk pemerolehan Bahasa pada anak ?

Boleh dikatakan “iya” dalam konteks pemerolehan Bahasa yang dia kuasai. Semakin banyak lingkungan interaksi yang dia miliki, maka kosa- kata yang dia milikipun akan semakin beragam.

Namun , secara penggunaan atau fungsi, kita harus berhati- hati. Karena terkadang anak belum menyadari bahwa kosa- kata yang dia pakai itu baik atau kurang tepat untuk diujarkan.

Kita mungkin terkadang mendengar anak- anak usia belasan “teenager” menggunakan kosa kata kasar atau kurang enak didengar dan itu memberikan kesan kurang baik terhadap anak tersebut. Kembali lagi kita hubungkan dengan pemerolehan Bahasa. Anak tersebut mendapatkan kosa- kata tersebut mungkin saja bukan dari lingkungan keluarga, namun mereka dapatkan dari lingkungan luar yang tanpa mereka sadari bahwa otak mereka menangkap kosa- kata baru tersebut.

Berita Terkait  Program CSA Tingkatkan Kesejahteraan Petani

Akan sangat berbahaya apabila seorang anak memiliki pergaulan dengan lingkungan yang kurang terpantau oleh orang tua, sehingga memperolehan kosa- kata yang kurang baik untuk diujarkan dan secara otomatis itu akan berpengaruh terhadap karakter anak tersebut. Anak tersebut bisa mendapatkan image yang kurang baik oleh lawan bicara dikarenakan menggunakan kosa-kata yang kasar atau kurang enak untuk di dengar.

Dikaitkan dengan era sekarang, terutama pada saat kondisi pandemik dan post pandemic, dimana banyak anak menghabiskan waktu mereka dirumah. Aktifitas dirumah banyak mereka gunakan untuk mengakses social media dan menonton film di platform seperti Netflix, Viu dan Disney Chanel. Aktifitas tersebut juga dapat meningkatkan pemerolehan Bahasa mereka dan ini bukanlah suatu hal yang buruk.

Namun disisi lain, aktifitas ini juga harus menjadi perhatian orang tua. Seperti contohnya Ketika mereka melihat sebuah film dan pada scene tertentu sang aktor menggunakan kosa kata yang kurang pantas untuk diujarkan oleh seorang anak, itu akan memberikan efek buruk terhadap karakter dan citra anak tersebut.

Oleh karena itu, penting bagi orang tua dalam mengawasi lingkungan pergaulan atau social interaction pada anak- anak mereka. Apabila setiap anak memiliki lingkungan yang baik, secara otomatis pemerolehan Bahasa pada anak akan baik.

Namun sebaliknya, apabila seorang anak memiliki lingkungan pergaulan yang buruk, maka secara otomatis, pemerolehan Bahasa pada anak tersebut akan diisi oleh kata- kata negatif atau kurang baik diucapkan oleh seorang anak.

*Dosen Program Studi Komunikasi, Sekolah Vokasi IPB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *