INDONESIAUPDATE.ID – Perekonomian dunia tahun ini oleh sejumlah kalangan diprediksi masih bakal diselimuti awan gelap. Penyebabnya, masih terjadinya konflik yang berkepanjangan di daratan Eropa, yang kemudian berimbas terjadinya krisis pangan dan energi.
Kondisi dunia yang diprediksi tidak baik-baik saja itu juga dikonfirmasi oleh Dana Moneter Internasional (IMF). Wajar jika kemudian lembaga itu memberikan prediksi pertumbuhan ekonomi dunia hanya di kisaran 2,7 persen pada tahun ini. Angka itu mencerminkan bahwa sepertiga ekonomi dunia akan menghadapi technical recession.
Iklim perekonomian dunia yang suram itu juga berimbas terhadap Indonesia, termasuk ke sektor investasi. Seperti disampaikan Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia, 2023 akan menjadi tahun yang berat bagi Indonesia untuk meraup potensi penanaman modal.
Menurutnya, kinerja investasi tahun ini akan dipengaruhi oleh dua hal. Pertama, terkait dengan kondisi global tentang ancaman resesi yang akan dihadapi oleh sejumlah negara. Kedua, kondisi domestik Indonesia yang mulai memasuki tahun politik.
“Beberapa lembaga dunia menyatakan bahwa potensi resesi global sangat besar. Nah, persoalannya adalah seberapa dalam resesi itu. Kedalamannya apakah dalam sekali atau tidak terlalu dalam,” ujarnya di Jakarta, Selasa (24/1/2023).
Menurut Bahlil, perkembangan kondisi global saat ini telah menjadi instrumen penting karena Foreign Direct Investment (FDI) atau bisa disebut Penanaman Modal Asing (PMA), berkontribusi besar terhadap realisasi investasi di tanah air.
Bahlil melanjutkan, di tengah ketidakpastian ekonomi dan pentingnya PMA bagi Indonesia, hampir semua negara berkembang berburu modal asing. Padahal, kondisi uang beredar saat ini sangat terbatas. Hal ini yang kemudian menciptakan persaingan antarnegara.
“Jadi, di satu sisi kondisi global sedang tidak bagus sementara di sisi lain terjadi kompetisi maksimal antarsesama negara untuk menarik FDI, khususnya negara berkembang,” kata Bahlil.
Bagaimana Menteri Investasi/BKPM itu melihat ekonomi dalam negeri di 2023? Dari sisi domestik, Bahlil menyatakan, 2023 merupakan tahun politik. Harus diakui, tahun politik acapkali memosisikan para pebisnis untuk mengambil sikap wait and see.
Oleh karena itu, dia menilai, stabilitas politik akan menjadi kunci dalam mengurai persoalan ini. “Ketika kita berdebat tentang hal-hal yang tidak substantif, maka mohon maaf investor itu akan melahirkan keraguan untuk bisa mempertahankan kita,” ujarnya.
Mungkin laporan dari World Economic Forum (WEF) berkaitan dengan risiko global 2023 dapat memperoleh perhatian tersendiri. Lembaga itu menyebutkan, polarisasi sosial yang kerap membayangi pada saat tahun politik, dinilai dapat menghambat penyelesaian masalah kolektif untuk mengatasi risiko global.
Hal tersebut juga dinilai mampu menyebabkan perselisihan yang lebih besar, terutama saat menavigasi prospek ekonomi di tengah ketidakpastian pada tahun-tahun mendatang. Fenomena itu menjadi relevan dengan laporan WEF karena di sejumlah negara yang tergabung di G20, seperti Amerika Serikat, Afrika Selatan, Turki, Argentina, Meksiko, termasuk Indonesia, akan menyelenggarakan pemilihan nasional.
Menjadi sebuah kewajaran dan relevan pernyataan Bahlil di awal yang menyebutkan bahwa 2023 sebagai tahun yang berat bagi Indonesia. “Benar, jujur saja, tahun 2023 adalah tahun yang berat bagi Indonesia,” ujarnya.











