INDONESIAUPDATE.ID – Momen istimewa terjadi dalam peringatan HUT ke-17 Partai Gerindra di Sentul International Covention Center (SICC), Bogor, Sabtu (15/2). Presiden Prabowo Subianto memberikan sebilah keris emas kepada Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi).
Pemberian keris itu langsung mengundang berbagai spekulasi mengenai pesan yang tersirat di baliknya.
Keris tersebut diberi nama Kiai Garuda Yaksa, serupa dengan nama padepokan Prabowo di Hambalang.
Salah satu hal yang menarik perhatian adalah jumlah lekukan (luk) sebanyak 13, angka yang kerap dikaitkan dengan berbagai makna, baik positif maupun negatif.
Pemerhati Telematika, Multimedia, AI & OCB Independen, Roy Suryo, menilai bahwa angka 13 dalam budaya populer sering diindentikkan dengan kesialan. Hal ini terlihat dari istilah seperti Friday the 13th atau kebiasaan beberapa hotel yang menghilangkan lantai 13.
“Jadi, apakah keris ini diberikan untuk membuang sial?” kata Roy dalam keterangannya, Minggu (16/2).
Mantan Menpora itu melanjutkan, spekulasi tersebut muncul karena Prabowo kini harus menghadapi tantangan besar setelah menggantikan Jokowi. Salah satunya adalah warisan pemerintahan sebelumnya, yang mendapatkan sorotan tajam di tingkat internasional. Bahkan, Indonesia sempat menjadi finalis dalam laporan Organized Crime and Corruption Reporting Project (OCCRP).
Namun, Roy juga menekankan bahwa dalam perspektif filosofi Jawa, keris berluk 13 justru memiliki makna positif. Senjata tradisional ini sering dikaitkan dengan kepemimpinan, kewibawaan, dan perlindungan.
Nama Kiai Garuda Yaksa juga sarat akan simbolisme. Garuda adalah lambang negara Indonesia, yang merepresentasikan kekuatan, keberanian, dan perlindungan rakyat. Yaksa berarti raksasa atau penjaga, melambangkan tanggung jawab besar dalam menjaga bangsa dan negara.
Dengan demikian, ujarnya, pemberian keris ini bisa dimaknai sebagai simbol persatuan dan legitimasi kepemimpinan. Prabowo dan Jokowi, yang sebelumnya rival dalam beberapa Pilpres, kini berada dalam satu jalur politik sejak Prabowo bergabung sebagai Menteri Pertahanan pada 2019.
“Pemberian keris ini bukan sekadar seremoni, tetapi bentuk penghormatan dari ‘murid’ kepada ‘guru’,” kata Roy.
Sejarah Keris dalam Politik Nusantara
Dalam sejarah Indonesia, keris selalu memiliki peran penting dalam politik dan kekuasaan. Salah satu yang paling terkenal adalah Keris Empu Gandring, yang digunakan Ken Arok untuk merebut kekuasaan di Kerajaan Tumapel pada abad ke-13.
Keris ini dikutuk oleh sang empu dan menyebabkan serangkaian pembunuhan berantai dalam dinasti Singasari. Ken Arok, yang awalnya menggunakan keris tersebut untuk membunuh Tunggul Ametung, akhirnya juga terbunuh dengan senjata yang sama.
Selain itu, ada Keris Kiai Naga Siluman, milik Pangeran Diponegoro, yang pernah tersimpan di Belanda sebelum dikembalikan ke Indonesia pada 2020. Saat itu, keris ini diterima oleh Anies Baswedan, yang kala itu menjabat Gubernur DKI Jakarta. Peristiwa ini pun sempat memicu spekulasi politik.
Roy Suryo menutup analisanya dengan peringatan agar sejarah kelam seperti Ken Arok dan dinasti Singasari tidak terulang dalam politik modern.
“‘Pembunuhan’ juga tidak mesti leterlijk diartikan secara harfiah tetapi bisa juga secara sosial, ekonomi dan politik. Oleh sebab itu waspadalah, waspadalah,” pungkas Roy Suryo.











