Penulis: Bobby Afif
INDONESIAUPDATE.ID – Depok, kota kecil di selatan Jakarta punya beban ekologi yang berat. Memiliki luas hanya 200 km persegi, kota ini dihuni lebih dari 2 juta penduduk dari berbagai latar belakang ekonomi, pendidikan, suku dan budaya.
Banyaknya penduduk tentu berbanding lurus dengan masalah ekologi yang harus dihadapi: sampah, macet, polusi udara, banjir dan varian-varian lainnya.
Tentunya ragam permasalahan tersebut perlu dicari solusinya untuk meminimalisir kiamat ekologi di Kota Depok.
Gerakan keberlanjutan di Depok sendiri sebenarnya banyak dimulai dari inisiasi warga. Misal, komunitas bank sampah, penyelamatan RTH, gerakan menanam pohon, bike to work serta gerakan bebersih kota.
Kesadaran masyarakat tentang keberlanjutan kota yang mungkin baru dilakukan “segelintir orang” perlu banyak stimulan dari pemerintah agar ekosistem ekologi di Depok tetap terjaga atau kembali menjadi baik.
Bukan hanyak soal teknologi dan infrastruktur penunjang keberlanjutan kota, hal utama dan paling penting yang harus dilakukan pemerintah ialah melakukan social enginering (rekayasa sosial).
Kita ibaratkan sebuah komputer, teknologi serta infranstruktur adalah hardware dan manusia software. Jangan sampai hardware yang canggih tidak didukung software mumpuni. Hanya akan menjadi kesia-siaan belaka.
Terus sadarkan manusia Depok dengan berbagai propaganda yang mengarah cinta lingkungan. Ajak industri, media, ulama serta berbagai elemen tokoh masyarakat sebagai corong serta pillar penting dalam ketahanan lingkungan di Kota Depok.
Namun, perlahan tapi pasti di bawah Walikota Depok Supian Suri, pemerintah secara gamblang mulai merealisasikan semangat pembangunan keberlanjutan di Depok. Contohnya dengan mengajak usaha-usaha yang berada di jalan protokol Margonda untuk melakukan kegiatan penanaman pohon demi menaikkan kualitas udara dan air tanah.
Selain itu dari sisi penanggulangan sampah, Walikota Supian Suri menyatakan Depok siap dijadikan PSN untuk pengolahan sampah menjadi energi listrik.
Depok juga memiliki potensi menjaga keseimbangan ekologis dengan banyaknya setu. Pemkot bersama komunitas lingkungan harus aktif melakukan revitalisasi situ-situ untuk memperbaiki fungsi resapan air dan meningkatkan kualitas udara.
Upaya penghijauan di kawasan perumahan juga mulai digalakkan, termasuk gerakan “Depok Menanam” yang melibatkan warga menanam pohon di lingkungan masing-masing.
Mungkin duet Supian Suri dan Chandra Rahmansyah di Depok baru seumur jagung. Namun harapan warga amat tinggi terhadap kelestarian alam Depok.
Karena saat ini isu lingkungan menjadi perhatian global. Semua harus berjalan bersama. Pemerintah, masyarakat, pengusaha, media hingga komunitas demi terciptanya Depok yang lestari dan nyaman sebagai habitat kita bersama.











