INDONESIAUPDATE.ID – Nama Taufiq Salim mulai ramai diperbincangkan di kalangan mahasiswa Bogor. Mahasiswa D4 Ekowisata Sekolah Vokasi IPB University itu di dorong penuh oleh Kader HMI Cabang Bogor Komisariat Sekolah Vokasi IPB maju sebagai calon Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bogor periode 2026–2027 dari Komisariat Diploma IPB University.
Bagi Taufiq, dunia organisasi bukan sekadar ruang belajar, melainkan medan pengabdian.“Pencalonan ini bukan soal ambisi pribadi. Ini adalah ikhtiar melanjutkan proses panjang kaderisasi dan pengabdian,” ujar dia melalui keterangan tertulisnya di Bogor, Kamis (29/1).
Mahasiswa ber-IPK 3,72 itu dikenal konsisten bergerak dalam isu lingkungan, pendidikan, serta pemberdayaan masyarakat sejak awal masa studinya. Ketertarikan tersebut berakar sejak masa sekolah di MAN Insan Cendekia Siak, tempat ia aktif dalam Pramuka dan komunitas Green Generation, sekaligus menginternalisasi nilai agama, kepemimpinan, dan kepedulian terhadap alam.
Di tubuh HMI, Taufiq bukan figur baru. Ia pernah menjabat Ketua Umum HMI Cabang Bogor Komisariat Sekolah Vokasi IPB periode 2025–2026. Dalam peran itu, ia memimpin rapat presidium, menyusun struktur kepengurusan, serta mengawal pelaksanaan program komisariat.
Pengalaman kepemimpinan juga ia tempa sebagai Sekretaris Eksekutif BEM Sekolah Vokasi IPB, mendampingi empat biro dan delapan departemen, serta mengantarkan kepengurusan meraih predikat A.
Di luar kampus, Taufiq mendirikan gerakan Patungan Bareng, platform crowdfunding berbasis SDGs yang bergerak dalam isu sosial dan lingkungan di Kota Bogor. Ia juga aktif di lembaga Dedikasi Kita sebagai Kepala Biro Volunteer and Tourism, mengoordinasikan ribuan relawan serta kolaborasi lintas komunitas, termasuk ekspedisi pengabdian ke berbagai wilayah Indonesia Timur.
Lapangan Pengabdian Nyata
Aktivisme Taufiq tidak berhenti di ruang rapat. Ia turun langsung ke lapangan melalui program magang di Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian DKI Jakarta—terlibat dalam pemeliharaan mangrove, pemantauan ekosistem laut, hingga menjadi pemandu wisata edukasi konservasi di Kepulauan Seribu.
Pengalaman serupa ia jalani di PT Godong Ijo Asri dan Museum Bank Indonesia, memperkuat perspektifnya tentang pelayanan publik dan wisata edukatif. Sejumlah penghargaan pun menghampirinya, mulai dari beasiswa prestasi IPB hingga predikat Best Environmental Activist Student.
Dalam kontestasi HMI Cabang Bogor, Taufiq membawa visi menjadikan organisasi lebih responsif terhadap tantangan zaman—tanpa meninggalkan basis nilai keislaman. “HMI Cabang Bogor harus menjadi rumah kader yang progresif, berakar pada nilai keislaman, tetapi juga relevan menjawab persoalan zaman—mulai dari krisis lingkungan, literasi publik, hingga penguatan ekonomi masyarakat,” kata Taufiq.
Ia juga ingin mendorong HMI agar lebih terbuka pada kolaborasi lintas kampus dan komunitas. “Saya ingin HMI hadir bukan hanya di ruang diskusi, tetapi juga di tengah masyarakat. Kita harus turun langsung, bekerja bersama warga, dan menunjukkan bahwa kader HMI mampu memberi solusi konkret,” ujarnya.
Penguatan kaderisasi disebutnya sebagai agenda utama. Menurutnya, regenerasi adalah kunci. “Setiap komisariat harus menjadi ruang tumbuh kader—secara intelektual, spiritual, dan sosial—bukan sekadar rutinitas struktural,” tambahnya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya tata kelola organisasi yang transparan dan partisipatif. Ke depan, HMI Cabang Bogor harus dikelola secara kolektif, akuntabel, dan berbasis data. “Kepemimpinan bukan soal figur tunggal, melainkan orkestrasi kerja bersama,” pungkas Taufiq.
Menatap kontestasi periode 2026–2027, Taufiq tampak ingin menegaskan bahwa kepemimpinan mahasiswa bukan hanya tentang jabatan, melainkan tentang keberanian turun ke masyarakat, membangun kolaborasi, serta merawat masa depan umat dan bangsa.(*)











