INDONESIAUPDATE.ID — Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Dunia diterima secara resmi oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Mendiktisaintek), Prof. Brian Yuliarto, S.T., M.Eng., Ph.D., dalam sebuah audiensi yang membahas peran strategis pelajar Indonesia di luar negeri serta berbagai isu pendidikan dan administrasi yang dihadapi.
Audiensi tersebut dibuka langsung oleh Mendiktisaintekdengan menyampaikan apresiasi atas kehadiran seluruh peserta. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa pelajar Indonesia di luar negeri merupakan duta bangsa yang membawa nama baik Indonesia di kancah internasional. Prof. Brian menyampaikan bahwa kesempatan menempuh pendidikan di luar negeri adalah anugerah yang tidak dimiliki semua orang. Mengingat terbatasnya peluang mengenyam pendidikan di negara maju maupun negara sahabat, beliau berharap para pelajar memanfaatkannya secara optimal, termasuk membangun jejaring internasional sebagai bekal di dunia profesional.
Lebih lanjut, beliau menekankan bahwa prestasi adalah bukti konkret yang melampaui sekadar retorika. Mahasiswa diharapkan senantiasa berupaya menjadi yang terbaik di bidang masing-masing. Terkait karier global, Mendiktisaintekmenegaskan bahwa bekerja di luar negeri bukanlah persoalan selama lulusan Indonesia mampu menunjukkan kontribusi nyata.
Dalam kesempatan tersebut, beliau juga mengangkat konsep nasionalisme substantif (beyond nationalism), yakni nasionalisme yang diwujudkan melalui prestasi dan terobosan internasional, bukan sekadar simbolisme. Pelajar diharapkan mampu mengharumkan nama bangsa melalui kualitas sumber daya manusia yang unggul.
Sementara itu, Koordinator PPI Dunia, Andika Ibrahim Nasution, menyampaikan aspirasi terkait permasalahan administratif seperti legalisasi dokumen, penyetaraan ijazah, dan konversi nilai. PPI Dunia mengusulkan agar proses tersebut dipermudah guna mendukung mobilitas akademik pelajar.
Selain itu, PPI Dunia menyerahkan Naskah Akademik dan Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) terkait usulan Rancangan Undang-Undang Perlindungan Pelajar Indonesia di Luar Negeri. Mereka juga mengundang Mendiktisaintek untuk menghadiri Simposium Internasional PPI Dunia ke-18 di Kairo, Mesir. Usulan lain mencakup penguatan komunikasi antarnegara untuk fasilitasi riset strategis serta permohonan agar Mendiktisaintek berkunjung ke kampus-kampus luar negeri untuk menyerap masukan langsung.
Menanggapi hal tersebut, Prof. Brian menyatakan komitmennya untuk senantiasa menemui pelajar Indonesia di sela kunjungan kenegaraan Presiden RI. Audiensi ditutup dengan harapan agar diskusi ini memotivasi pelajar Indonesia untuk terus berkontribusi bagi bangsa dan negara.











