INDONESIAUPDATE.ID – Disaat banyak keraguan pada sejumlah kalangan tentang upaya mengentaskan kemisinan di Indonesia, mungkin akan sedikit dapat terjawab dari penelitian yang dilakukan oleh Politeknik Kesejahteraan Sosial Bandung, Perguruan Tinggi miliknya kemensos ini berhasil memperlihatkan Potret kemandirian warga miskin buah dari keikutsertaan warga miskin dalam Program Keluarga Harapan (PKH). Potret ini didapat dari 3 sample penelitian di Kabupaten Ciamis, Temanggung, Tulung Agung.
Menjadi menarik untuk dikaji, apa kiat sukses dari keberhasilan dalam pengentasan kemiskinan di 3 wilayah itu, cara apa sehingga bisa seperti itu? Benarkah mereka sudah keluar dari jarring kemiskinan? Instrumen penelitian yang dibuat telah mampu menjawab hal ini sebagai sebuah refleksi untuk pengetahuan maupun strategi ataupun cara baru mengentaskan kemiskinan.
Tidak mudah memang mengatasi kemiskinan, banyak kolaborasi yang harus dibangun baik dari sisi political will, sosio demografis wilayah, socio cultural sampai pada diri dari para warga miskin itu sendiri. Hal terpenting dari mengatasi kemiskinan adalah jangan biarkan orang miskin sendiri, jangan putus mendampingi warga miskin, jangan lupa berikan rasa aman unyuk mereka bisa merubah diri.
Satu bagian yang teramati dari penelitian ini adalah kekuatan dari penyuluhan, khususnya penyuluhan sosial tentang motivasi, edukasi, pemberdayaan. Menyampaikan pada orang miskin bahwa “kita bukanlah budak dari nasib”. Pada bagian lainnya bagaimana penyuluhan menrahkan pada penguatan motivasi, passion (gairah) dan tidak mudah menyerah.
Penyuluhan sosial pada dasarnya sebagai wahana komunikasi, memberikan informasi, dan Pendidikan yang berpegang pada prinsip pelayanan kemanusiaan, saling menghormati, serta menumbuhkan motivasi hidup sejahtera dengan mengedepankan keseimbangan pemenuhan kebutuhan fisik, psikis, sosial dan ekonomi sesuai kondisi budaya dan ajaran agama.
Penyuluhan sosial adalah suatu proses pengubahan perilaku yang dllakukan secara sistematis dan terencana. Proses pengubahan perilaku ini terjadi dari pasif menjadi aktif, dari menolak menjadi menerima, dari tidak tahu menjadi tahu, kemudian menjadi mau dan perlu, yang akhirnya dapat menjadi pelaku perubahan.
Dalam mewujudkan tugas penyuluhan tersebut, didalamnya terjadi (1) proses penyebaran informasi kemiskinan dengan fakta yang ada, sehingga tidak terjadi miss information; (2) proses komunikasi secara konseptual kepada seluruh lapisan masyarakat, sehingga masyarakat dapat memahami apa yang disampaikan; (3) proses pendidikan yang sistematis kepada kelompok PPKS, pelaku, dan stake holder, sehingga kelompok sasaran mau dan mampu melaksanakan tugas secara professional; (4) proses pengembangan pelayanan sehingga terjadi peningkatan kuantitas dan kualitas penyelenggaraan kesejahteraan sosial (Kemensos, 2010). Dalam upaya mewujudkan proses seperti tersebut, dibutuhkan penyuluh sosial yang mempunyai kompetensi, integritas, dan profesionalitas.
Berdasarkan fenomena PPKS ataupun PSKS sebagai tonggak penyelenggaraan kesejahteraan sosial, perlu dilakukan pengkajian sebagai pijakan perumusan kebijakan. Sejalan pernyataan tersebut, maka kebijakan (model) pemberdayaan dikaji di kelompok pendamping. Pendamping menjadi instrument penting dalam keberdayaan KPM PKH, dengan model kegiatan yang sifatnya in door mapun out door.
In door, para pendamping melakukan kajian pustaka, analisis fakta, pengolahan data sampai membuat alternatif kemasan pesan, media, dan teknik penyuluhannya. Out door melakukan uji coca perlakuan kearah menumbuhkan, mengembangkan, memberikan pelayanan rancang bangun kebijakan dan jasa teknis Usaha Kesejahteraan Sosial di lapangan.
Hasil temuan penelitian memperlihatkan bahwa peran dan fungsi pendamping sebagai penyuluh sosial adalah menumbuhkan dan meningkatkan kemampuan serta kemandirian KPM PKH dalam mengakses peluang secara kolaboratif. Model penyuluhan sosial dilaksanakan dengan memberikan perlakuan berupa bimbingan motivasi, bimbingan ketrampilan, dan bimbingan sosial. Kegiatan penyuluhan ini dilakukan secara berulang ulang sampai proses dan hasil dinilai cukup.
Penelitian ini juga menemukan kemanfaatan dari penyuluhan sosial, terkait alasan dikuatkannya penyuluhan pemberdayaan ekonomi KPM PKH: (1) KPM merupakan potensi yang bernilai sosial, (2) lebih efektif dalam dalam membangun kemitraan/jejaring kearifan local, (3) sebagai wadah diskusi pemecahan masalah berbasis masyarakat. Ke tiga hal ini setiap saat dilakukan monitoring dan evaluasi sebagi upaya mengetahui optimalisasi proses perkembangan keberhasilan
Penyuluhan sosial terkait diseminasi model pemberdayaan KPM di 3 lokasi penelitian, dilakukan di lokasi, dengan penekanan pada rancang bangun kebijakan pengembangan KPM memalui kelompok yang bisa menciptakan prasarana dan sarana serta metode wira usaha. Diseminasi merupakan penyemaian prototype (model dasar) pemberdayaan KPM, yaitu melalui bimbingan motivasi, bimbingan sosial, dan bimbingan ketrampilan usaha ekonomi produktif, melakukan jejaring.
Implementasi penyuluhan sosial kemandirian KPM PKH di Ciamis, Temanggung, dan Tulung Agung sebagi benchmark dari penelitian ini pada hakikatnya adalah penguatan sarana wira usaha (ekonomis produktif) berbentuk pemberdayaan KPM PKH yang dirancangbangun untuk menumbuhkan kemandirian KPM, menumbuhkan kreatifitas kewirausahaan, usaha inovasi dan merupakan kolaborasi kearifan lokal, pendampingan, serta pemangku kepentingan dalam pembinaan wira usaha KPM PKH, tanpa mengurangi aspek kehidupan sosial.
Menarik untuk dikaji dari best practice di ketiga kota ini, bagaimana para pendamping punya kemampuan dalam melakukan penyuluhan sosial pemberdayaan KPM PKH menuju kemandirian, yang terbuktikan dengan pernyataan keluar dari keanggotaan PKH (graduasi), karena sudah mampu mengembangkan kemampuan pemenuhan ekonomi keluarganya.
Berdasarkan pengamatan lapangan atas kiprah para pendamping yang menerapkan keilmuan penyuluhan sosial, dapat dirumpunkan dari sisi tujuan, strategi, langkah, materi (pesan). Setidaknya ada 3 tujuan dari penyuluhan sosial terkait dengan pemberdayaan KPM PKH:
- Memberikan kesempatan, keleluasaan, kewenangan, dan kemampuan kepada KPM agar bersedia mengaktualisasikan segenap kemampuan dalam upaya pendayagunaan dan pengelolaan berbagai sumber serta potensi kesejahteraan sosial.
- Menciptakan sarana untuk mencapai tujuan Bersama sebagai bekal untuk memahami, mengakses, dan memanfaatkan setiap bentuk peluang bagi pemenuhan kebutuhan pokok keluarga.
- Meningkatkan peran serta KPM PKH untuk berpartisipasi dalam pelaksanaan penyelenggaraan kesejahteraan sosial, khususnya dalam mengatasi kerawanan sosial ekonomi KPM PKH di lingkungannya.
Kemudian dari sisi strategi penyuluhan sosial baik dari sisi komunikasi intra manusia maupun sisi komunitas:
- Menyiapkan mental KPM PKH menjalankan keakraban diantara sesama KPM, antara KPM dan pendamping dan mitra lainnya.
- Mengenalkan permasalahan, potensi, dan sumber kesejahteraan sosial yang tersedia di lokasi tempat tinggal KPM.
- Mengajak KPM PKH untuk mengenali kebutuhan beserta alternatif pemenuhan kebutuhan tersebut dengan berbasis kearifan lokal.
- Mengajak KPM PKH memahami potensi diri untuk berusaha melepaskan permasalahan kemiskinan yang dihadapi.
- Menumbuhkan jiwa kewirausahaan dan memberikan bekal pengetahuan usaha ekonomis produktif sesuai pilihannya, sesuai minat, serta memperkuat pemahaman hakekat manajemen keuangan rumah tangga.
- Memberikan bekal ketrampilan usaha bersama kepada KPM PKH (bila mau bekerja Bersama) sesuai dengan potensi yang dimiliki, melalui pemberdayaan, pendekatan kelompok dan pengembangan aspek yang berkaitan dengan pengelolaan usaha.
- Mengajak KPM PKH menjalin relasi untuk mengembangkan usaha secara berkelanjutan.
Menarik untuk ditelaah lebih jauh dari penelitian ini adalah tentang langkah penyuluhan yang dilakukan para pendamping, sebagai berikut:
1. Persiapan Penyuluhan Sosial
- Penyusunan materi pesan penyuluhan sosial KPM PKH
- Diskusi materi pesan penyuluhan sosial
- Pembentukan tim penyuluhan sosial
- Perkenalan dan legitimasi tim penyuluhan sosial
2. Indentiffikasi sasaran penyuluhan sosial (KPM PKH)
- Kebiasaan
- Tabiat
- Kesukaan
- Sikap
- Perilaku
3. Pelaksanaan Penyuluhan Sosial
a. Ice breaking
b. Team building
c. Pengenalan diri
- Memberikan pencerahan pada sasaran (kita bisa hidup lebih baik)
- Memberikan peluang memperbaiki pengembangan diri.
- Mengubah pola piker tentang hidup (hidup ada ditangan KPM, KPM tidak sendiri)
d. Penyampaian pesan
- Kemandirian
- Wira Usaha
- Prinsip-prinsip Wira Usaha
- Cara Wira Usaha
- Faktor penting Wira Usaha (niat, kemauan, pengetahuan, kemampuan, ketrampilan)
4. Umpan balik
- Isi pesan
- Makna pesan
- Arti pesan
- Pengaruh pesan pada sasaran
- Kualitas penyuluh
- Kredibilitas penyuluh
Tentunya dalam penyuluhan sosial ini para pendamping yang memfungsikan diri sebagai penyuluh sosial tidak sifatnya tunggal, karena ada batas kemampuan dan pengetahuan. Kredibilitas penyuluh terukur satu diantaranya saat membangun asosiasi dengan keahlian lainnya yang difungsikan sebagai penyuluh.
Misalnya dalam hal membangun kapasitas diri KPM PKH bisa kita minta bantuan pada tenaga yang ahli dalam keilmuan motivasi, wira usaha bisa diambil dari praktisi atau ahli bidang perdagangan.
Misalkan seperti potret yang terekam di KPM PKH Kabupaten Ciamis dalam hal makanan traduisional ceriping dari ketela, gula aren dan kue, mulai dari cara produksi, ketrampilan mengolah, pengemasan produk, dan pemasarannya.
Penyuluhan sosial yang telah dilakukan di 3 kabupaten ini telah membuka ruang kemandirian pada KPM PKH, menyatakan diri sudah keluar dari ketergantungan, keluar dari kemiskinan, ada motivasi diri untuk berubah, motivasi untuk tidak miskin lagi. Kemiskinan hanya bisa diatasi oleh dua hal (1) kemauan dari orang miskin itu sendiri, (2) pendampingan, penyuluhan yang terukur, terjadwal.
Graduasi adalah hanya sebuah nama, hakekat utamanya terletak pada pengubahan perilaku untuk hidup lebih sejahtera, tercukupi sandang, pangan dan rasa aman. Inilah potret sejati dari pengentasan kemiskinan.
Kalau pendamping diibaratkan matahari, dan KPM PKH diibaratkan hujan. Kita membutuhkan keduanya untuk melihat pelangi. Pelangi Indonesia Sejahtera. Semoga kemiskinan terentaskan secara tuntas di bumi Indonesia.
Peneliti:
Didit Widiowati
Edi Suhanda
Benny Setia Nugraha











