INDONESIA UPDATE – Di panggung megah Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Presiden Prabowo Subianto tak hanya berpidato. Ia membawa serta roh Pancasila, menjadikannya kompas diplomasi yang tegas di tengah hiruk pikuk politik global. Pidato itu, bagi sebagian kalangan, adalah cermin jati diri bangsa yang selama ini tak hanya menjadi slogan.
Analis Indeks Data Nasional (IDN), Ayip Tayana, menilai pidato tersebut sebagai momentum penting. “Ini bukan sekadar pernyataan resmi, melainkan artikulasi jati diri bangsa yang relevan di tengah dinamika dunia,” ujarnya.
Menurut Ayip, setiap poin pidato Prabowo tak lepas dari nafas lima sila. Ketika Prabowo menekankan kesetaraan dan martabat manusia, ia tengah membawa Sila Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, ke forum dunia. Sila yang tak hanya bicara soal pengakuan Tuhan, tapi juga kesadaran bahwa setiap manusia punya harkat yang sama.
Keberpihakan pada Palestina dan penolakan pada penindasan, lanjut Ayip, adalah perwujudan nyata dari Sila Kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Sikap yang menurutnya bukan hanya solidaritas politis, tapi juga keberpihakan pada nilai universal.
Solidaritas antarbangsa untuk menyelesaikan masalah global menjadi perluasan dari Sila Ketiga, Persatuan Indonesia. “Indonesia tidak datang ke PBB sebagai suara satu kelompok, tetapi sebagai suara negara yang kokoh dalam keberagaman,” kata Ayip.
Sementara itu, kecaman terhadap logika ‘yang kuat menindas yang lemah’ dan seruan untuk musyawarah adalah pengamalan Sila Keempat. Dalam pandangan Indonesia, Ayip menjelaskan, dunia tak boleh dikendalikan segelintir kekuatan besar, melainkan oleh kebijaksanaan kolektif.
Terakhir, seruan untuk tatanan global yang adil adalah perluasan dari Sila Kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. “Keadilan tidak boleh berhenti di dalam negeri, tetapi harus menjadi prinsip dunia,” tutup Ayip, menegaskan bahwa pidato itu adalah implementasi mandat konstitusional yang diwariskan sejak Republik ini berdiri.











