INDONESIAUPDATE.ID — Enam anak muda lintas profesi yang tergabung dalam gerakan Sahabat Papua melaksanakan program pendidikan kreatif dan pemberdayaan guru di Kampung Audam, Misool, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya, pada 17–25 November 2025. Program ini menjadi langkah awal gerakan sosial tersebut untuk menghadirkan akses pendidikan yang menyenangkan dan berkelanjutan bagi anak-anak di wilayah terpencil.
Sahabat Papua digerakkan oleh Mega Zulaila Dinni, Mohamad Desgia, Ghaida Rashuna, Sabrina Alifia Maulani, Ayman Musyaffa, dan Rais Aqmaril Abdurrasyid—para relawan muda dengan latar belakang pendidik, pegiat komunitas, fasilitator STEAM, kreator visual, hingga penerima beasiswa LPDP dan penggerak keberlanjutan.
Perjalanan Panjang ke Kampung yang Haus Pendidikan
Kegiatan berlangsung di Kampung Audam, sebuah kampung kecil yang baru berdiri pada 2009 dengan sekitar 80 penduduk dari suku Matbat dan Tobelo, dua suku yang menjunjung tinggi nilai tidak menyakiti sesama, karena mereka percaya hidup punya cara sendiri untuk membalas. Mata pencaharian mereka erat dengan alam: bercocok tanam di kebun, melaut dan menangkap ikan, membangun rumah dan perahu bergotong royong. Untuk mencapai lokasi ini, tim relawan harus menempuh perjalanan panjang menggunakan pesawat, kapal barang, hingga perahu kecil, perjalanan yang hanya bisa ditempuh seminggu sekali.
Audam dipilih karena menjadi salah satu kampung dengan kebutuhan pendidikan yang mendesak. TK di kampung ini belum terdaftar resmi di dinas pendidikan, jumlah guru terbatas, fasilitas belajar sangat minim, buku pelajaran dan alat peraga bergantung pada donasi, hingga anak-anak jarang merasakan pembelajaran yang menyenangkan dan aplikatif. Meski demikian, anak-anak Audam menunjukkan rasa ingin tahu yang kuat, sehingga menjadi alasan utama Sahabat Papua ingin hadir untuk menjaga agar semangat itu tidak padam.
Tantangan Infrastruktur Tidak Mengurangi Semangat Belajar
Kondisi infrastruktur di Audam masih berkembang. Listrik bergantung pada tenaga surya, yang sering padam ketika hujan deras. Akses komunikasi terbatas, bergantung pada sinyal Starlink dan Telkomsel dengan jeda suara beberapa detik setiap kali melakukan panggilan. Transportasi antar-kampung hanya bisa dilakukan dengan perahu.
Di tengah keterbatasan tersebut, dana desa menjadi penopang penting bagi keberlangsungan sekolah dan kesejahteraan guru. Dukungan ini berpadu dengan program yang dihadirkan relawan untuk memperkuat motivasi belajar anak dan kapasitas guru.
Program 9 Hari untuk Pendidikan Kreatif dan Pemberdayaan Guru
Selama sembilan hari, tim Sahabat Papua mengadakan pembelajaran kreatif untuk anak-anak, pemberdayaan guru, serta kolaborasi yang menghormati kepemimpinan masyarakat lokal. Para relawan mengajarkan literasi, numerasi, eksperimen STEAM, permainan edukatif, dan project-based learning yang dekat dengan kehidupan sehari-hari anak-anak Audam seperti menanam kacang hijau hingga merayakan budaya melalui cerita dan lagu yang mereka banggakan. Para relawan juga memberikan pendampingan untuk guru, berbagi metode mengajar yang lebih interaktif, dan membangun ruang belajar yang menyenangkan.
Kegiatan ini dapat terlaksana bukan hanya karena tim Sahabat Papua hadir di lapangan, tetapi juga berkat dukungan publik melalui kampanye #Gerakan75Ribu di media sosial @sahabatpapua.id, ajakan donasi inklusif yang memungkinkan siapa pun berkontribusi. Bantuan yang dibawa ke Audam berupa tas, alat tulis, buku cerita, botol minum, permainan edukatif, media pembelajaran untuk guru, serta paket sembako untuk masyarakat—sebagai bentuk terima kasih atas sambutan hangat dan dukungan warga.
Bantuan dibawa menggunakan kapal dan perahu kecil melalui koordinasi dengan masyarakat setempat. Bantuan kemudian disalurkan langsung kepada anak-anak TK dan SD (paket pendidikan dibagikan merata), diserahkan ke sekolah untuk digunakan sebagai media pembelajaran, dan digunakan dalam aktivitas belajar bersama selama relawan berada di Audam. Distribusi dilakukan dengan hati-hati, para relawan memastikan setiap anak mendapatkan hak yang sama dan setiap guru menerima dukungan yang mereka butuhkan.
“Yang paling ingin kami tinggalkan bukan sekadar barang dan logistik, tapi pengetahuan yang bisa diteruskan, harapan, keberanian untuk mencoba hal baru, dan keyakinan bahwa belajar itu menyenangkan. Karena setiap tas dan buku suatu hari mungkin akan usang, tetapi semangat dan harapan yang tumbuh di hati anak-anak akan terus hidup,” ujar Mohamad Desgia Adinadya Putra, salah satu anggota tim Sahabat Papua.
Sambutan Hangat dari Warga Audam
Sejak hari pertama, tim Sahabat Papua mendapat dukungan hangat dari berbagai pihak di Kampung Audam. Pemerintah dan masyarakat kampung melalui koordinasi kegiatan dan pemenuhan logistik dasar agar seluruh kegiatan berjalan selaras dengan nilai dan norma lokal, pihak sekolah meliputi para guru TK dan SD yang menjadi mitra utama pembelajaran, PHMJ dan guru jemaat gereja yang menjadi penghubung spiritual dan kultural bagi masyarakat, dan orang tua murid, yang terus memberi semangat dan mempercayakan anak-anak mereka kepada kami.
Bahkan anak-anak sudah menunggu di sekolah jauh sebelum kegiatan dimulai. Eksperimen sains dan permainan edukatif menjadi pengalaman baru yang membuat mereka antusias. Pemerintah kampung, guru TK–SD, gereja, hingga orang tua turut terlibat memastikan kegiatan berjalan selaras dengan budaya dan kebutuhan lokal.
Bagi warga Audam, keberadaan Sahabat Papua bukan semata kegiatan belajar, tetapi bentuk persaudaraan dan gotong royong dalam memperjuangkan masa depan pendidikan anak-anak.
Kolaborasi Sahabat Papua dan PPI Turki
Program ini diperkuat oleh kolaborasi Sahabat Papua dan PPI Turki. Sahabat Papua berfokus pada desain program pendidikan dan pemberdayaan guru, implementasi langsung di lapangan, dan membangun hubungan dengan masyarakat setempat. Sementara PPI Turki menggerakkan jaringan dan kekuatan kampanye komunitas pelajar Indonesia di luar negeri, publikasi dan penggalangan dukungan melalui jaringan diaspora, dan memperkuat misi agar lebih banyak pihak bisa terlibat.
Keduanya saling melengkapi: satu berada di lapangan, satu memperluas jangkauan gerakan.
Harapan untuk Masa Depan Pendidikan Papua
Ini adalah langkah pertama dalam perjalanan panjang jangka panjang Sahabat Papua. Meskipun inisiatif ini baru dimulai di pertengahan 2025, tetapi gerakan ini bukan proyek sekali datang lalu pergi. Sahabat Papua sedang membangun model program berkelanjutan yang dapat diteruskan oleh guru lokal, diikuti dengan kegiatan follow-up, dan direplikasi di kampung-kampung terpencil lainnya di Papua.
Harapan jangka panjang mereka antara lain:
- anak-anak tetap semangat bersekolah dan percaya bahwa mimpi mereka bisa dicapai,
- guru memperoleh pelatihan dan metode belajar yang bisa diteruskan setiap hari,
- sekolah di Audam semakin kuat secara administratif, sehingga akses bantuan pemerintah terbuka, dan
- program dapat berkembang di wilayah terpencil lainnya di Papua.
Ucapan Terima Kasih
Mega Zulaila Dinni selaku Ketua Pelaksana, perwakilan Sahabat Papua menyampaikan apresiasi mendalam atas dukungan semua pihak yang terlibat.
“Saya bangga melihat bagaimana langkah kecil yang kita jalani bersama mampu membawa harapan baru bagi adik-adik di Papua. Semoga kebaikan ini terus tumbuh dan menjadi cahaya bagi masa depan mereka.”
Penulis : Lolandra











