INDONESIAUPDATE.ID – Federasi Bulutangkis Dunia atau Badminton World Federation (BWF) tengah membangun Museum Bulutangkis Dunia di Qingdao, China.
Museum megah ini dirancang memiliki luas sekitar 4.200 meter persegi dengan empat lantai yang akan menyajikan perjalanan panjang bulutangkis sebagai olahraga global.
Bangunan museum tersebut akan menampilkan sejarah perkembangan bulutangkis dunia, pertumbuhan dan pencapaian BWF, turnamen-turnamen prestisius, hingga kisah para legenda yang membentuk kejayaan olahraga ini.
BWF Museum merupakan hasil kolaborasi antara BWF, Chinese Badminton Association, Qingdao Sports Bureau, Qingdao West Coast New Area Management Committee, serta Shiyu Sports Co. Ltd. Museum ini menjadi bagian dari kawasan terpadu bernama BWF Qingdao International Exchange Center.
“BWF bekerja bersama lima organisasi untuk membangun museum yang akan menjadi tempat edukasi tentang olahraga bulutangkis,” ucap Stuart Borrie, Project Director BWF, dikutip dari rilis yang diterima Indonesia Update, Kamis (22/1/2026).
“Museum ini akan menunjukkan sejarah bulutangkis, tentang Badminton World Federation dan tentang turnamen-turnamen terkenal seperti Thomas Cup, Uber Cup, Sudirman Cup dan lainnya,” lanjutnya.
Dalam pengembangan museum ini, sejumlah legenda dan juara dunia asal Indonesia turut ambil bagian dalam mengukir sejarah.
Mereka memberikan sumbangsih berupa tanda tangan di foto-foto bersejarah serta handprint yang akan dipajang sebagai bagian dari koleksi museum.
Deretan nama besar tersebut antara lain Rudy Hartono, Imelda Wigoena, Ricky Soebagdja, Icuk Sugiarto, Hariyanto Arbi, Hendrawan, Susy Susanti, Alan Budikusuma, Sigit Budiarto, hingga generasi modern seperti Hendra Setiawan, Mohammad Ahsan, dan Tontowi Ahmad.
“Kami membuat arena ruang terbuka yang bernama Starlight Plaza. Starlight Plaza menunjukkan para peraih medali emas Olimpiade dan Juara Dunia,” kata Stuart.
Lebih lanjut, Stuart menegaskan bahwa museum ini akan menjadi magnet baru bagi Qingdao, tidak hanya sebagai destinasi wisata tetapi juga pusat pembelajaran bulutangkis dunia.
“Kota ini adalah kota olahraga yang juga memiliki populasi pemain bulutangkis yang sangat banyak, tuturnya.
Proyek ini diharapkan menjadi pusat pelestarian budaya bulutangkis sekaligus ruang edukasi yang menampilkan artefak, riset, serta kontribusi penting olahraga tepok bulu di tingkat dunia.
“Museum ini harus menjadi sebuah pusat yang menarik orang untuk pertukaran sejarah dan budaya,” pungkas Stuart.











