HEADLINESNASIONAL

Menyalakan Arah Perubahan dari Desa: Inklusi, Energi Terbarukan, dan Langkah Nyata PPI Dunia X Jejak Sewagati Dwipantara #10

×

Menyalakan Arah Perubahan dari Desa: Inklusi, Energi Terbarukan, dan Langkah Nyata PPI Dunia X Jejak Sewagati Dwipantara #10

Sebarkan artikel ini

INDONESIAUPDATE.ID — Bagaimana jika mereka yang selama ini dianggap hanya sebagai penerima manfaat justru menjadi bagian dari orang-orang yang menentukan arah perubahan di desanya?

Pertanyaan tersebut menjadi salah satu napas dalam Focus Group Discussion (FGD) “Aksara Tanpa Suara #2” yang diusung oleh PPI Dunia X Jejak Sewagati Dwipantara #10 melalui program kerja Bidang Pelayanan Sosial dan Masyarakat Inklusif, Direktorat Pergerakan dan Pengabdian Masyarakat PPI Dunia Kabinet Suara Pelajar.

Acara yang diselenggarakan pada 27 Juli 2026 di Kantor Desa Taman Ayu, Kabupaten Lombok Barat, ini dihadiri oleh anggota Kader Asuh Disabilitas, Forum Disabilitas Desa Taman Ayu, KKP UIN Mataram, Pemerintah Desa Taman Ayu, volunteer Jejak Santara #10, serta anggota PPI Dunia.

Diskusi menghadirkan Mohidin selaku Koordinator Forum Disabilitas Desa Taman Ayu, Suhaeni selaku Ketua Sekolah Setara, dan Andika Ibrahim Nasution selaku Koordinator PPI Dunia. Berbagai pengalaman dibagikan, mulai dari pemberdayaan perempuan dan penyandang disabilitas hingga isu lingkungan dan transisi energi.

Pemberdayaan perempuan di Taman Ayu sendiri bukan proses yang instan. Pada awalnya, mengajak perempuan desa untuk terlibat aktif dalam kegiatan pemberdayaan bukanlah perkara mudah.

Namun, melalui ruang belajar dan diskusi yang terus dibangun, perempuan perlahan mulai berani hadir, menyampaikan pendapat, dan mengambil peran. Sekolah Setara kemudian menjadi salah satu ruang yang mendorong perempuan, termasuk perempuan penyandang disabilitas, untuk memahami persoalan di sekitarnya dan ikut terlibat dalam pembangunan desa.

Dalam diskusi tersebut, Ibu Suhaeni menekankan bahwa sebuah gerakan tidak harus selalu dimulai dari bantuan pihak luar. Menurutnya, swadaya menjadi langkah awal yang penting untuk membangun gerakan, karena perubahan akan lebih kuat ketika masyarakat sendiri memiliki kemauan untuk memulainya.

Hal senada terlihat dalam pemberdayaan kelompok disabilitas. Bapak Mohidin menyampaikan bahwa ketika ingin membantu teman-teman disabilitas, bantuan tidak seharusnya langsung diberikan begitu saja.

Terlebih dahulu perlu ditanyakan apakah mereka memang bersedia dibantu dan apa yang sebenarnya mereka butuhkan. Bagi beliau, pemberdayaan bukan tentang melakukan semuanya untuk seseorang, melainkan memberikan ruang agar mereka tetap memiliki pilihan dan menentukan kebutuhannya sendiri.

Pembahasan kemudian menyentuh praktik pemanfaatan potensi lokal untuk mendukung zero emission, salah satunya pengolahan limbah ternak menjadi biogas. Di Taman Ayu, potensi peternakan tidak hanya dilihat sebagai sumber ekonomi, tetapi juga sebagai peluang menghasilkan energi terbarukan dan pupuk organik.

Hal ini menunjukkan bahwa transisi energi dapat dimulai dari sesuatu yang dekat dengan kehidupan masyarakat desa.

Sementara itu, ketika ditanya mengenai peningkatan peran anggota forum dan kader yang bercermin pada mahasiswa diaspora PPI Dunia, Andika Ibrahim Nasution menyampaikan bahwa mahasiswa ataupun kader seharusnya membangun habit terlebih dahulu daripada sekadar mengejar target.

“Target yang besar tidak akan berarti tanpa kebiasaan kecil yang terus dilakukan. Kebiasaan untuk bergerak, berkontribusi, dan melakukan sesuatu secara konsisten akan membuat target yang ditetapkan lebih mungkin untuk dicapai.” — Andika Ibrahim Nasution, Koordinator PPI Dunia

Forum Disabilitas Desa Taman Ayu sendiri menunjukkan bahwa inklusi tidak berhenti pada pemberian bantuan. Penyandang disabilitas mulai dilibatkan dalam berbagai aktivitas sosial dan kehidupan masyarakat. Mereka tidak lagi hanya ditempatkan sebagai penerima manfaat, tetapi sebagai subjek pembangunan yang memiliki kemampuan, pilihan, dan ruang untuk berkontribusi.

Sebagai wujud nyata komitmen pengabdian Bidang Pelayanan Sosial dan Masyarakat Inklusif, Direktorat Pergerakan dan Pengabdian Masyarakat PPI Dunia, kegiatan PPI Dunia X Jejak Sewagati Dwipantara #10 pada 27 Juli 2026 turut memberikan Al-Qur’an Braille kepada Forum Disabilitas Desa Taman Ayu.

Pemberian ini menjadi bentuk dukungan terhadap akses yang setara bagi penyandang disabilitas, sekaligus pengingat bahwa inklusi mencakup pendidikan, pengetahuan, kehidupan sosial, dan hak untuk berpartisipasi.

“Aksara Tanpa Suara #2” akhirnya bukan hanya menjadi ruang diskusi, tetapi juga ruang untuk melihat kembali bagaimana perubahan tumbuh dari masyarakat sendiri: perempuan yang perlahan berani bersuara, penyandang disabilitas yang mulai mengambil peran, masyarakat yang mengubah potensi lokal menjadi bagian dari solusi lingkungan, serta mahasiswa yang didorong untuk membangun kebiasaan bergerak dan berkontribusi.

Jika mereka yang selama ini berada di pinggir pembangunan sudah mulai mengambil peran, siapa lagi yang akan kita beri ruang untuk bersuara dan menentukan perubahan setelah ini?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *