LIFESTYLE

Selamatkan Generasi Masa Depan dari Racun Timbal, RSUI-Yayasan PEI Gandeng 7 Organisasi

×

Selamatkan Generasi Masa Depan dari Racun Timbal, RSUI-Yayasan PEI Gandeng 7 Organisasi

Sebarkan artikel ini

INDONESIAUPDATE.ID – Pajanan timbal di tengah masyarakat Indonesia masih menjadi ancaman kesehatan tersembunyi yang kerap luput dari kesadaran publik. Logam berat beracun ini diketahui tidak memiliki batas aman bagi tubuh manusia, serta dapat memicu berbagai gangguan kesehatan serius lintas usia—mulai dari hambatan tumbuh kembang anak, gangguan kehamilan, penurunan fungsi kognitif, hipertensi, hingga kerusakan fungsi ginjal.

Menyadari urgensi tersebut, Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) bersama Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dan Yayasan Pure Earth Indonesia (PEI) mengambil langkah strategis dengan menggandeng tujuh organisasi profesi kesehatan nasional. Komitmen bersama ini dideklarasikan dalam forum bertema “From Detection to Prevention: Bersama Melindungi Indonesia dari Pajanan Timbal” yang dihelat di Auditorium RSUI, Depok, pada Selasa (20/10/2026), bertepatan dengan momentum International Lead Poisoning Prevention Week (ILPPW) 2026.

Direktur Utama RS UI, dr. Kusuma Januarto, Sp.OG, Subs.Obginsos, dalam sambutannya menekankan pentingnya peran institusi kesehatan dalam memimpin gerakan pencegahan lintas sektor. Ia menyatakan bahwa perlindungan masyarakat dari racun lingkungan memerlukan sinergi yang konsisten dan terukur berbasis ilmu pengetahuan.

“Sebagai institusi pelayanan kesehatan, RSUI berkomitmen mendukung upaya perlindungan kesehatan masyarakat melalui pelayanan medis, edukasi, dan kolaborasi lintas sektor. Kami berharap kerja sama antara RSUI, FKUI, Pure Earth, serta seluruh pemangku kepentingan dapat memperkuat upaya pencegahan dan penanganan keracunan timbal secara terintegrasi, berkelanjutan, dan berbasis bukti ilmiah,” ujar dr. Kusuma.

Forum lintas sektor ini dihadiri oleh berbagai kalangan pemangku kepentingan, mulai dari perwakilan pemerintah, akademisi, peneliti, pelaku industri, hingga para tenaga medis profesional. Acara ini sekaligus menandai peluncuran program strategis bertajuk Technical Support to the Government and Formal Industries on ULAB Recycling Sector, sebuah inisiatif untuk memperkuat tata kelola pencegahan pajanan timbal, khususnya pada sektor daur ulang aki bekas (used lead-acid battery / ULAB).

Berita Terkait  Wahai Orang Tua, Ini Tips Jadi Guru di Rumah Selama Covid-19

Bahaya dari Tempat Kerja hingga Ruang Keluarga

Salah satu sumber utama pajanan timbal di Indonesia berasal dari aktivitas pengolahan dan daur ulang aki bekas yang belum dikelola secara optimal. Jika prosedur pengelolaan limbah diabaikan, partikel timbal dapat mencemari lingkungan sekitar dan mengancam kesehatan para pekerja.

Ancaman ini ternyata tidak hanya berhenti di area industri. Debu dan kontaminan timbal yang menempel pada pakaian kerja, alas kaki, serta barang pribadi berisiko terbawa pulang ke lingkungan rumah. Akibatnya, anggota keluarga, termasuk anak-anak balita dan ibu hamil yang rentan, turut terpapar polutan berbahaya tersebut tanpa disadari.

Ketua Program Studi Spesialis Kedokteran Okupasi FKUI, Prof. dr. Muchtaruddin Mansyur, M.S., Sp.OK., Ph.D., menjelaskan bahwa penanggulangan masalah ini menuntut intervensi yang komprehensif dari hulu ke hilir. Menurutnya, pendekatan proteksi tidak boleh hanya bertumpu pada pengobatan pasien di rumah sakit.

“Pengendalian paparan timbal perlu dilakukan melalui pendekatan yang menyeluruh, mulai dari penguatan standar pengelolaan limbah, pemantauan risiko kesehatan di lingkungan kerja, hingga deteksi dini dampak paparan terhadap pekerja. Upaya ini membutuhkan dukungan kebijakan, standar teknis, dan kapasitas tenaga profesional yang memadai agar risiko kesehatan dapat diidentifikasi dan dikendalikan sejak dini. Dengan demikian, pencegahan dapat berjalan seiring dengan upaya penanganan dampak kesehatan akibat paparan timbal,” papar Prof. Muchtaruddin.

Konsolidasi Tujuh Organisasi Profesi Kesehatan

Dalam sesi diskusi panel bertajuk “Hidden in Plain Sight”, tujuh organisasi profesi kesehatan utama di Indonesia membedah berbagai manifestasi klinis pajanan timbal yang selama ini sering mengecoh tenaga medis karena menyerupai gejala penyakit umum.

Ketujuh organisasi tersebut meliputi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI), Perhimpunan Dokter Spesialis Neurologi Indonesia (PERDOSSI), Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Perhimpunan Spesialis Kedokteran Okupasi Indonesia (PERDOKI), serta Perhimpunan Dokter Spesialis Farmakologi Klinik Indonesia (PERDAFKI).

Berita Terkait  XLSMART Kembali Raih Tiga Penghargaan, Bidang ESG, Layanan Pelanggan, dan Teknologi

Melalui kacamata multidisiplin, para dokter spesialis menyoroti pentingnya kepekaan klinis dalam mengenali riwayat pajanan lingkungan dan pekerjaan pada pasien anak dengan gangguan tumbuh kembang, pasien hipertensi kronis, gangguan ginjal, hingga gangguan neurologis.

Sebagai bentuk nyata dari komitmen tersebut, rangkaian acara diakhiri dengan penandatanganan Seruan Bersama Organisasi Profesi Kesehatan untuk Pencegahan Keracunan Timbal. Dokumen kesepakatan ini memuat poin-poin krusial, seperti peningkatan kewaspadaan tenaga kesehatan, penelusuran riwayat pajanan secara komprehensif, penguatan sistem rujukan deteksi dini, serta edukasi publik untuk mengendalikan sumber pajanan di masyarakat.

Mendorong Tata Kelola Industri yang Aman

Di sisi lain, upaya perlindungan masyarakat dari keracunan timbal juga sangat bergantung pada kepatuhan sektor industri terhadap standar lingkungan yang ketat. Kemitraan bersama Yayasan Pure Earth Indonesia menjadi katalis penting dalam membenahi tata kelola sektor industri formal.

Perwakilan Yayasan Pure Earth Indonesia, Budi Susilorini, menegaskan bahwa perbaikan sistem daur ulang aki bekas harus berjalan seiring dengan penguatan regulasi pemerintah dan peningkatan kapasitas pelaku industri.

“Pengurangan paparan timbal perlu didukung oleh sistem pengelolaan aki bekas yang aman dan ramah lingkungan. Penguatan kapasitas pemerintah dan industri formal, disertai penerapan regulasi yang tepat, menjadi langkah yang penting,” ungkap Budi.

Peringatan International Lead Poisoning Prevention Week (ILPPW) 2026 di RSUI Depok ini memberikan pesan kuat bahwa pencegahan pajanan timbal di Indonesia memerlukan transformasi paradigma. Penanganan tidak boleh berhenti pada aspek kuratif atau pengobatan semata, melainkan harus berakar pada mitigasi sumber lingkungan, peningkatan standar keselamatan kerja, penguatan kompetensi tenaga medis, serta kolaborasi erat lintas sektor demi menjamin masa depan generasi bangsa yang lebih sehat dan bebas dari racun timbal.(*)

Berita Terkait  Bener Gak Sih Minum Air Jeruk Nipis Bikin Kurus?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *