Oleh: M. Asyief Khasan Budiman *
IndonesiaUpdate.id – Catatan kecil ini seketika muncul di pemikiran saya yang sedang berbincang-bincang santai di salah satu whatsapp group (grup nganu birding). Catatan yang boleh jadi tidak penting ini hanya hasil pemikiran dan pendapat pribadi, tanpa membawa embel-embel apapun.
Baik sebagai akademisi, sebagai sorang pegiat organisasi, ataupun seorang yang memiliki keyakinan agama tertentu.
Murni catatan ini saya buat ketika seorang mengajarkan kepada saya untuk coba menjaga jarak dengan diri sendiri agar bisa melihat diri sendiri dan sekitarnya secara apa adanya. Tidak melibatkan diri sendiri dalam hal-hal yang sifatnya praktis.
Dari kejadian covid19 ada pelajaran yg sangat besar untuk dipetik. sebagai seorang beriman, maka akan mempertebal keimanannya akan kuasa Tuhan.
pandemik covid19 bisa dibilang adalah sebuah kejadian force major, extraordinary condition. dalam tempo waktu yang singkat kegagahan dan kedigdayaan manusia tumbang. kecongkakan dan kesombongan ilmu pengetahuan dipecundangi begitu saja.
Akal sehat manusia masih belum bisa menerimanya. pandemik global covid19 ini seolah sudah mengangkangi pertumbuhan ekonomi seluruh negara2 terdampak, tanpa terkecuali Indonesia.
Bisa dilihat dalam tempo sekitar beberapa minggu semenjak ditetapkannya pandemik global, pemerintah sudah kalang kabut, rakyat sudah menderita ketakutan, bahkan kebijakan lock down pun didendangkan guna menanggulangi semakin merebaknya penyebaran virus ini.
Gila boi, dalam waktu yang singkat semua sektor luluh lantak. industri yang tadinya digenjot habis buat melipat gandakan kapital, sekarang melempem kaya kerupuk masuk angin. sektor jasa juga kecipratan, mesti menanggung ketidak pastian pemasukan.
Bahkan umkm pun terancam pailit akibat “dipaksa” untuk tidak produksi. bisnis hiburan dan kuliner mangkrak. bahkan perbankan juga terancam macet cicilan.
Segala kedigdayaan manusia dalam menghisap sumberdaya alam pun terancam tumpul. bayangkan saja, ini baru secuil makhluk superduper kecil berukuran sekian ratus nanometer.
Bagiku, ini salah satu bukti kuasa Tuhan yang sedang benar-benar mengintervensi secara aktif sistem kerja dunia yang sudah semakin membusuk. wajar bila kita bisa mengatakan mukjizat atau karomah itu benar adanya, bukan hanya sekedar dongeng yang diceritakan mubaligh atau pendeta.
Pada masa dulu diceritakan banyak sekali mukjizat dari tiap-tiap nabi.
Mulai dari Ibrahim/Abraham yang tidak tadas dilalap api ketika dieksekusi dibakar hidup-hidup oleh Namrudz, Musa yang bisa membelah laut merah saat dikejar oleh Fir’aun Ramses II, Isa putra Maryam yang mampu menyembuhkan kolera, menghidupkan orang mati, dan menyembuhkan orang buta dari lahir, juga keajaiban saat tahun lahirnya Muhammad SAW di sekitaran Makkah.
Coba kita ingat kembali cerita saat Abrahah yg sakti mandra guna dengan segala kekuatan pasukan dan kekuasaannya.
100 gajah siap gempur Ka’bah yang ada di kota Makkah. Gajah yang paling besar bernama Mahmud (tunggangan Abrahah). Sebelum memasuki kota Makkah, sesuai adab berperang kala itu Abrahah mengundang perwakilan pimpinan Makkah untuk berunding.
Tanpa disangka-sangka, saat perundingan berlangsung, Abdul muthalib sebagai perwakilan warga Makkah cuma bilang apa? “Aku hanya meminta kalian mengembalikan 200 unta milikku yang kalian rampas saat perjalanan ke mari.
Unta itu adalah milikku maka aku wajib mengurusnya. Ka’bah adalah rumah Tuhan, maka biar Ia yang mengurusnya sendiri.”
Abrahah tertawa terbahak dan kemudian mengembalikan unta milik Abdul muthalib. Kemudian besok paginya saat pasukan sudah siap untuk kembali melanjutkan niatnya merobohkan Ka’bah muncul kejadian yang tak diperkirakan.
Perkemahan Abrahah dan pasukannya yang berada di sekitar 4 km di selatan kota Makkah menjadi saksi kuasa Tuhan, Mahmud sang gajah paling besar enggan untuk bergerak dan hanya duduk saja menekur, walaupun dicambuk dan dipukul hingga berdarah.
Mahmud tetap bergeming. Ketika Mahmud dihadapkan ke arah selatan (arah Yaman) barulah ia bangkit dan berjalan. Hingga muncul ide untuk memutar, diakali jalur jalannya Mahmud. Tetapi saat belalai Mahmud kembali menghadap ke makkah, ia kembali duduk.
Sampai Abrahah sewot dan memerintahkan pasukan untuk diberangkatkan, walaupun tanpa Mahmud. Pasukan diberangkatkan.
Ketika pasukan baru berjalan sekian meter, muncul kengerian yang tidak terkira. Sontak pasukan buyar dan berantakan.
Abrahah menginstruksikan pasukan untuk tetap di barisan. Tetapi apa daya, dari arah laut (arah barat) muncul gumpalan-gumpalan hitam menutupi langit, seperti mucul wabah misterius yang dateng.
Ternyata yang datang ialah gerombolan burung misterius yang membawa kerikil-kerikil panas dan berjatuhan satu-persatu membuyarkan pasukan abrahah. Pun abrahah terkena sambaran burung ini juga terkena lemparan kerikil panas dari tanah yang terbakar.
Yak, Ababil. Burung misterius pembawa pesan Tuhan guna menggulingkan kecongkakan Abrahah. Percaya tak percaya bentuk-bentuk keajaiban yang tidak masuk akal itu memang bentuk-bentuk dari intervensi Tuhan guna menjaga tatanan di dunia ini.
Begitu pula dengan pandemik covid19 yang sekarang terjadi. Tuhan sedang mengintervensi kerakusan dan keserakahan manusia yang semakin hari semakin menggila.
Newton pernah mengatakan bahwa “Gravitasi menerangkan gerakan planet-planet, namun tidak dapat menerangkan siapa yang menggerakkannya pertama kali. Tuhan mengatur semua hal dan mengetahui apa saja yang ada atau dapat dilakukan.”
Pandangan ini menyangkal pendapat deisme, yakni tuhan seperti pembuat arloji yang selesai merancang dan membangun arloji ia membiarkan arloji berjalan sendiri.
Newton percaya Tuhan tidak seperti yang pandangan deisme yang menurutnya mengumpamakan Tuhan seperti tukang bikin jam, menyetel pada suatu sistem lalu membiarkannya berjalan sendiri.
Pada dasarnya, deisme menyatakan bahwa Tuhan ada sebagai suatu penyebab paling awal segala sesuatu, yang bertanggung jawab atas penciptaan alam semesta, tetapi kemudian tidak ikut campur tangan lagi ketika dunia yang diciptakan-Nya berjalan. Menurut Newton, Tuhan selalu intervensi pada alam semesta kapan pun.
Wallahu a’lam bi shawab
*Penulis adalah Peneliti di PKSPL IPB University











