INDONESIAUPDATE.ID – Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2020, yang diselenggarakan pada tanggal 2 Mei menjadi momentum untuk mengenang kembali pemikiran Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara yaitu menyiapkan manusia merdeka yang berbudaya.
Direktur Jenderal Perguruan Tinggi (Dirjen Dikti), Prof Nizam mengatakan, hampir seabad tokoh penting pendidikan itu menebarkan pentingnya arti dari kemerdekaan, dalam arti mandiri.
“Disini beliau menegaskan merdeka adalah tidak bergantung pada orang lain dan dapat menentukan masa depannya sendiri,” ucap Nizam, saat dihubungi Rabu 6 Mei 2020.
Menurut dia, konsep tersebut menjadi landasan dari perwujudan kebijakan merdeka belajar (kampus merdeka). Terutama ketika menghadapi masa Pandemi Korona, yaitu dengan mengembangkan metode pembelajaran secara daring.
Pemerintah pusat, khususnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah mendorong pembelajaran daring sejak awal tahun 2000 an dengan GDLN Indonesia, Inherent, SPADA, dan sebagainya. Namun sedikit sekali perguruan tinggi yang memanfaatkan teknologi untuk pembelajaran seperti blended learning, dan pembelajaran daring.
“Dengan pandemi ini terjadi revolusi yang luar biasa sekali, tiba-tiba seluruh perguruan tinggi melakukan pembelajaran daring,” bebernya.
Pembelajaran kampus merdeka yang diterapkan pada setiap kampus, terpantau mulai menampakkan hasil. Terbukti dari munculnya berbagai penelitian dan pengabdian masyarakat yang dapat membantu mengatasi pandemi.
“Ini adalah response dari perguruan tinggi yang luar biasa mulai dari membuat APD, masker, face shields, hand sanitizer, disinfectant, hingga pengembangan obat-obatan dan alat-alat kesehatan seperti sterilization chamber, robot ners, hingga ventilator ICU,” terangnya.
Nizam menegaskan, apresiasi tertinggi juga diberikan kepada Institut Pertanian Bogor (IPB) yang terus memberikan kontribusi terbesar dalam menghadapi Pandemi Covid-19. Utamanya memastikan pasokan pangan bagi masyarakat.
“Upaya yang dilakukan IPB sangat luar biasa terutama, dalam mengentaskan ketahanan pangan. Semoga ke depan kita tetap bisa mempertahankan momentum kreativitas dan produktivitas kita selama masa pandemi ini,” paparnya.
Selanjutnya, pengembangan disiplin ilmu yang diaplikasikan melalui riset dan temuan untuk kepentingan penanganan Covid – 19 yang dilakukan oleh IPB juga patut diacungi jempol. Nizam menegaskan apabila secara normal, sebuah penelitian dibutuhkan waktu satu hingga tiga tahun namun kali ini bisa diselesaikan dalam jangka waktu satu bulan.
Kemudian, untuk pengabdian kepada masyarakat banyak relawan mahasiswa maupun dosen IPB yang dilibatkan untuk mengatasi pandemi korona. Kurang lebih 15 ribu relawan mahasiswa mendaftar dan diterjunkan ke tengah masyarakat di berbagai pelosok negeri.
“Semangat gotong royong, saling peduli dan membantu ternyata tidak luntur dan justru makin kuat dengan adanya pandemi ini. Semoga semangat kemandirian dan gotong royong ini tetap dapat kita pertahankan hingga pasca pandemi,” pungkasnya.(oct/mam/id)











