INDONESIAUPDATE.ID – Olahraga kerap melahirkan sebuah drama. Ibarat telenovela, penikmatnya bisa dibuat menangis berlinang air mata. Dapat pula tertawa riang gembira.
Tapi, hari ini, olahraga tidaklah penting. Dunia tengah keriting. Pandemi virus corona bikin penghuni planet ini pusing tujuh keliling. Korban jiwa tiap hari terus berjatuhan. Jumlahnya bukan lagi puluhan, tapi ribuan. Status terkonfirmasi hampir 3 jutaan. Corona dunia pemberitaan. Selalu jadi halaman terdepan.
Olahraga harus mengalah. Event-event besar ditunda. Tujuannya: keselamatan jiwa. Bukan hanya yang sedang berlangsung. Tapi juga kegiatan yang diproyeksan mendatang. Semua bergeser tahun depan.
Pesta Olahraga Nasional (PON) XX di Papua juga terdampak. Seharusnya digelar 20 Oktober – 2 November 2020 digeser menjadi Oktober 2021. Keputusan diambil Presiden Jokowi dalam rapat terbatas pada Kamis (23/4) pagi.
Salah satu alasan, lelang pengadaan peralatan pertandingan belum bisa dilakukan. Karena negara-negara produsen peralatan olahraga juga sedang dihadapkan dengan persoalan pembatasan berbagai aktivitas akibat pandemi Covid-19.
“Blessing..! satu kata itu muncul dari seorang wartawan senior. Dia hanya bicara sepenggal. Saya mencoba menggodanya lebih dalam. “Sudah diduga sebelumnya,” lanjutnya singkat.
Jauh sebelum virus corona datang, banyak pihak meragukan kesiapan Papua. Terutama soal pembangunan infrastruktur, transportasi, dan akomodasi. Pun Sumber Daya Manusia (SDM) yang mumpuni. Maklum, ini kali pertama Papua menggelar multi event berskala nasional.
Pun pertama pesta akbar itu di Indonesia Timur. Belum lagi soal keamanan. Dalam setahun terakhir, Papua dilanda berbagai kerusuhan. Mulai dari isu rasisme hingga Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).
Konflik dan kerusuhan menyebabkan ribuan orang mengungsi. Puluhan jiwa meregang nyawa. Gubernur Lukas Enembe pernah bicara lantang.
Papua berencana menunda PON karena belum siap dalam peralatan pertandingan. Wacana itu bukannya tanpa alasan. Papua telah menghabiskan dana cukup banyak untuk pembangunan infrastruktur PON.
“Untuk PON saja kita masih butuh anggaran Rp 4 triliun, tapi kalau negara mau turun tangan tidak ada masalah,” ujar Enembe Agustus lalu.Tapi, di awal tahun, Enembe jauh lebih lembut. Dia bilang PON Papua tak perlu diragukan. Apalagi pemerintah pusat telah mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres).
Dalam sejarah PON tidak ada Inpres. Luar biasa Papua!PON 2020 adalah satu kesuksesan dan kebanggaan masyarakat Papua. Harga diri dan martabat dipertaruhkan.
Disini kita buktikan kekuatan olahraga dan seni budaya kita. Begitu kata Lukas Enembe berapi-api di hadapan media. Tapi, lima bulan jelang hari H, Presiden putuskan PON XX digelar tahun depan. Tak ada yang bisa menolak.
Sebaliknya, malah bersyukur. Itu yang diharapkan semua pihak. Pandemi virus corona yang makin menggila tidak memungkinkan segala aktivitas berjalan.
Bila PON tetap dilaksanakan maka nuansa ketergesa-gesaan bakal dominan. Pekerjaan yang dilakukan dengan keterpaksaan niscaya melunturkan tingkat kualitas. Selain itu, esensi PON adalah mengukur performa pembinaan prestasi di tingkat daerah dalam periode waktu tertentu.
Dalam konteks inilah para atlet dipersiapkan dengan jadwal ketat dan target yang terarah.Persoalannya, tahun 2021, banyak peristiwa olahraga. Indonesia tuan rumah Piala Dunia U-20 dan MotoGP di Sirkuit Mandalika, NTB. Jangan lupa Olimpiade Tokyo pada 23 Juli hingga 8 Agustus 2021.
Belum lagi event lain di Tanah Air, seperti World Beach Games dan peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas) pada September.Konsenkuensinya tentu alokasi anggaran. Implikasi anggaran bukan hanya di daerah tapi juga pusat.
Yakni mencakup penuntasan pembangunan infrastruktur penunjang, persiapan, dan pelaksanaan penyelenggaraan. Pun berbagai dinamika yang terkait dengan pembinaan prestasi atlet. Saat ini berbagai daerah tentu memberi porsi anggaran memadai untuk persiapan PON.
Mereka juga harus menghitung ulang anggaran persiapan atletnya. Performa atlet harus dijaga setelah Pelatda dibubarkan.
Ongkos Pelatda di rumah pun harus dihitung.Persoalan paling komplek penyelenggaraan PON Papua 2021 tak kurang dari satu bulan dengan SEA Games di Hanoi Vietnam. Pesta olahraga Asia Tenggara itu digelar 21 November-2 Desember 2021.
Mungkinkah atlet yang turun di PON Papua langsung terjun ke SEA Games? Tentu tidak. Pick performa akan turun. Prestasi atlet bisa hancur. Sulit diharapkan. Bulan November akan masuk periode transisi Pelatnas SEA Games. Ini bisa menjadi dilematis bagi atlet.
Kecuali ada ketentuan bahwa atlet nasional tidak boleh beraksi di PON. Jadi PON murni pembinaan usia muda. Seperti tujuan awal lahirnya PON.
Yakni mencari bibit atlet berbakat di setiap cabang olahraga untuk persiapan dalam Asian Games 1951 dan Olimpiade musim panas Helsinki 1952.
Jangan lupa semangat awal yang digelorakan melalui PON adalah memupuk persaudaraan, persatuan untuk membangun karakter bangsa melalui olahraga. Tapi, muatan itu tampaknya sudah ternoda. Bonus ratusan juta rupiah telah membutakan insan olahraga.
Tradisi jual beli atlet antar daerah disadari atau tidak telah merusak peradaban olahraga. Tak heran jika sebagian besar atlet SEA Games tampil di PON juga. Bahkan PON dijadikan gengsi daerah. Sejatinya daerah harus legowo.
Harus bisa memilah mana atletnya untuk PON dan SEA Games. Sejatinya PON dan SEA Games bukan puncak prestasi. Keduanya hanya jenjang sasaran antara menuju Asian Games dan Olimpiade.
Jadi disini Kementrian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) harus tegas. Kembalikan PON pada marwahnya. Atlet Pelatnas SEA Games 2021 dilarang tampil di PON. Jangan meminta SEA Games Hanoi, Vietnam dimundurkan ke tahun genap.
Itu jutsru akan menjadi mata rantai masalah baru. Karena tahun 2022 ada Asian Games yang menunggu di Cina.Olahraga sejatinya mengandung nilai-nilai tertentu yang bisa menyumbangkan konstruksi nilai-nilai dan budaya dalam masyarakat. Manusia pada dasarnya adalah “Homo Ludens” menurut J. Huizinga.
Manusia memiliki sifat dasar untuk bermain dan olahraga sebagai permainan memiliki karakteristik terbebas.
Secara fungsional olahraga memiliki peran untuk menyehatkan tubuh. Pada sisi sosial berperan dalam menanamkan nilai-nilai dan norma kehidupan yang patut untuk direnungkan dan diterapkan.
Lebih jauh lagi olahraga bahkan dapat menunjukkan karakter dan identitas sebuah bangsa.Jadi pengunduran PON Papua sebenarnya blessing.
Tapi, bisa bikin pusing jika tidak disikapi dengan bijak dan tegas. Jadikanlah PON Papua 2021 sebagai drama yang mempesona. Yang membuat bangga olahraga Indonesia dan penikmatnya menangis bahagia. (Suryansyah/Topskor)











