DAERAH

Sekolah Lapang Vokasi IPB: Meretas Keberlanjutan di Sudajaya Girang, Kala Kotoran Ternak Bertemu Ilmu Kampus

×

Sekolah Lapang Vokasi IPB: Meretas Keberlanjutan di Sudajaya Girang, Kala Kotoran Ternak Bertemu Ilmu Kampus

Sebarkan artikel ini

Di pinggiran Sukabumi, peternakan lokal tak lagi sekadar soal memberi makan dan membersihkan kandang. Lewat pendampingan Sekolah Vokasi IPB, limbah yang dulu menjadi beban kini diubah menjadi pakan, pupuk, dan energi ekonomi berkelanjutan.

INDONESIAUPDATE.ID — Bau khas area peternakan menyambut siapa saja yang melangkah ke kawasan Desa Sudajaya Girang, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Bagi sebagian orang, kotoran ternak yang menumpuk di area kandang kerap dianggap sebagai masalah lingkungan dan sumber aroma tak sedap. Namun, di tangan para akademisi dan peternak lokal yang berkolaborasi, limbah tersebut justru dipandang sebagai “emas hitam” yang belum terolah.

Perspektif itulah yang menjadi fondasi utama gerakan “Sekolah Lapang: Dari Limbah Menjadi Kemanfaatan”. Sebuah inisiatif pendampingan berkelanjutan yang digagas oleh Sekolah Vokasi IPB University melalui Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Program Studi Teknologi dan Manajemen Ternak.

Bagi H. Ato, peternak senior yang area peternakannya dijadikan pusat kegiatan, kolaborasi ini membawa angin segar. Keseharian peternak rakyat yang selama ini bertumpu pada kebiasaan turun-temurun, kini mulai disentuh oleh pendekatan saintifik yang lebih terstruktur dan efisien.

“Kami mengucapkan selamat datang dan terima kasih kepada tim dosen dan mahasiswa. Kehadiran kampus di sini memberikan ilmu yang sangat kami butuhkan, terutama agar usaha peternakan kami berjalan lebih bersih, teratur, dan memberi dampak positif bagi warga sekitar,” tutur Haji Ato medio Juni lalu.

Pendidikan Lapangan dan Ketertiban Data

Dosen pendamping kegiatan, Annisa Hakim, S.Pt., M.Si., bersama Tera Fitrayani, S.Pt., M.Si., menyadari betul bahwa perubahan di tingkat peternak tak bisa dicapai hanya dengan teori di dalam kelas. Sekolah Lapang ini dirancang sebagai proses belajar bersama di lapangan tempat akademisi dan peternak berdialog secara setara.

Fokus awal gerakan ini dimulai dari hal yang kerap terabaikan dalam usaha peternakan skala rakyat: biosekuriti (biosecurity) dan pencatatan (recording). Peternak diajak membiasakan sanitasi kandang secara berkala serta mencatat secara rinci pertumbuhan bobot ternak dan produksi limbah harian.

Untuk mendukung disiplin baru ini, beragam sarana operasional pun disiagakan—mulai dari timbangan ternak, alat sanitasi, obat cacing, desinfektan, hingga papan tulis pencatatan harian. Bahkan, pengambilan sampel dan penampungan feses ternak dilakukan secara rutin untuk memantau status kesehatan serta performa kecernaan ternak secara berkala.

“Fokus utama kami adalah membangun keterampilannya. Ketika peternak paham cara menjaga sanitasi dan disiplin melakukan pencatatan, mereka sebenarnya sedang mengamankan efisiensi usaha mereka sendiri,” terang Annisa Hakim.

Ekosistem Terpadu: Kompos, Gama Umami, hingga Lele

Daya tarik utama dari gerakan Sekolah Lapang ini terletak pada konsep integrated farming atau ekosistem peternakan terintegrasi. Limbah feses yang dikumpulkan tidak dibiarkan menumpuk, melainkan diolah secara sistematis menjadi pupuk kompos berkualitas melalui fasilitas penampungan dan biovlog yang dibangun di lokasi.

Kompos tersebut kemudian dimanfaatkan untuk menyuburkan lahan pakan mandiri, khususnya penanaman Hijauan Makanan Ternak (HMT) unggul varietas Gama Umami. Rumput berkualitas tinggi ini menjadi sumber nutrisi utama bagi ternak, menciptakan siklus mandiri pakan yang hemat biaya.

Tak berhenti di situ, ekosistem ini disempurnakan dengan integrasi budidaya ikan lele, yang memanfaatkan ruang dan manajemen air terpadu di sekitar lokasi peternakan.Kunci dari penulisan cerita perubahan ini adalah konsistensi pendampingan. Berbeda dengan program sekali datang yang sering kali tak berlanjut, intervensi Sekolah Vokasi IPB di Desa Sudajaya Girang disusun dalam tiga fase pendampingan berkala: tahapan awal, pertengahan, dan evaluasi akhir.

Lewat kesepakatan bersama antara dosen, mahasiswa, asisten dosen, dan para peternak, agenda pendampingan di lapangan dipelihara secara rutin. Di tanah Sudajaya Girang, sebuah ikhtiar kecil tengah dirawat: membuktikan bahwa dengan sentuhan ilmu dan ketekunan, limbah peternakan bukan lagi masalah, melainkan sumber kemanfaatan dan keberlanjutan hidup.

Adapun pendampingan lapangan oleh tim Sekolah Vokasi IPB dijadwalkan berlangsung dalam tiga tahapan kunjungan utama, yakni tahap awal, pertengahan, dan evaluasi akhir. Berdasarkan kesepakatan bersama pada pertemuan perdana ini, jadwal pertemuan pendampingan lanjutan telah ditetapkan pada tanggal 27 Juli 2026, 11 Agustus 2026, dan puncak evaluasi pada 22 Agustus 2026.
(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *