INDONESIAUPDATE.ID — Indonesian Students’ International Conference atau KIPI 2026 resmi dibuka hari ini di University of Sydney. Konferensi ini mempertemukan mahasiswa, peneliti, profesional, dan pembuat kebijakan Indonesia untuk membahas gagasan dan hasil penelitian yang relevan bagi Indonesia dan kawasan yang lebih luas.
Diselenggarakan pada 13–14 Juli 2026 di Susan Wakil Health Building, KIPI 2026 menjadi ruang pertukaran akademik, diskusi kebijakan, dan kolaborasi lintas disiplin. Rangkaian kegiatan mencakup diskusi pleno, presentasi penelitian dan policy brief, serta sesi paralel dalam bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, hubungan internasional, keberlanjutan, pertanian, energi, teknik, dan inovasi digital.
Muhammad Hadiyan Ridho, Presiden PPI Australia periode 2025–2026, menyambut para peserta dan
memperkenalkan KIPI sebagai ruang bagi mahasiswa Indonesia untuk membawa gagasan mereka melampaui lingkungan akademik. Ia menyampaikan bahwa konferensi ini menghubungkan penelitian,
pengalaman profesional, dan diskusi publik, sekaligus mendorong kolaborasi di antara warga Indonesia yang belajar dan bekerja dalam berbagai bidang.
Rangkaian pembukaan dilanjutkan dengan pidato utama oleh Dr Siswo Pramono, Duta Besar Republik Indonesia untuk Australia, berjudul “Towards an Indonesia–Australia Economic Powerhouse: Strategic Linkage Between Australia’s Great Northland and Eastern Part of Indonesia.”
Duta Besar Siswo Pramono menyampaikan bahwa kerja sama yang lebih erat antara Indonesia dan
Australia akan berperan penting dalam pembangunan ekonomi jangka panjang kedua negara. Ia menyoroti sejumlah bidang yang dapat dikembangkan berdasarkan kekuatan yang saling melengkapi, termasuk pendidikan, penelitian, industri, investasi, dan konektivitas strategis.
Ia juga menekankan peran universitas, kemitraan riset, dan penguatan kapasitas STEM dalam mendukung prioritas pembangunan Indonesia. Melalui kemitraan tersebut, pengetahuan akademik dan hasil penelitian dapat dihubungkan secara lebih erat dengan kebutuhan nasional dan regional.
Duta Besar Siswo Pramono turut membahas peluang kerja sama dalam pengembangan industri dan rantai pasok regional. Ia memandang kerja sama ekonomi tidak hanya dalam bentuk perdagangan, tetapi juga melalui penelitian bersama, pengembangan keterampilan, investasi, dan kemitraan kelembagaan jangka panjang.
Tema-tema tersebut juga berlanjut dalam rangkaian KIPI 2026, yang membahas bagaimana penelitian dan gagasan kebijakan dapat merespons tantangan sosial, ekonomi, teknologi, dan lingkungan.
Setelah pidato utama, peserta mengikuti sesi tanya jawab sebelum konferensi memasuki diskusi pleno
pertama mengenai transformasi ekonomi, kewirausahaan, dan teknologi finansial. Selama dua hari, KIPI 2026 menghadirkan enam sesi pleno dan sejumlah sesi presentasi paralel. Para
peserta akan mempresentasikan proyek penelitian dan policy brief, berdiskusi dengan para ahli, serta bertukar pandangan lintas bidang akademik dan profesional.
Melalui rangkaian tersebut, KIPI 2026 bertujuan memperkuat kontribusi mahasiswa dan peneliti Indonesia dalam diskusi publik, sekaligus membangun hubungan yang lebih erat antara kegiatan akademik, praktik profesional, dan kebijakan.











