Dinamika Penanganan COVID-19 dan Polemik Vaksin di INDONESIA

  • Bagikan
Ilustrasi/Pixabay

Oleh: Indri Megawati

Seperti yang kita semua ketahui bahwa virus covid-19 pertama kali teridentifikasi di negara china, tepatnya di daerah kota Wuhan. Hasil penelitian WHO menghasilkan sebuah kesimpulan bahwa covid-19 pertama kali muncul di salah satu pasar hewan yang terletak di kota Wuhan, di sinilah virus covid-19 itu ditularkan oleh hewan ke manusia. Namun baru baru ini para pakar kini cukup yakin bahwa virus itu diduga berkembang di sana. Hasil penelitian memberi tahu bahwa virus covid-19 yang dapat menginfeksi manusia ini mungkin telah beredar tanpa terdeteksi melalui kelelawar. Memang sampai sekarang asal muasal virus covid-19 ini bisa dibilang simpang siur tanpa konfirmasi yang valid dan tegas baik dari WHO bahkan pemerintah China sendiri.

Lalu bagaimana dinamika virus covid-19 di Indonesia, beberapa minggu setelah China mengkonfirmasi kasus Covid-19 tepatnya pada tanggal 2 Maret 2020, Presiden Joko Widodo dan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto mengkonfirmasi kasus covid-19 pertama di Indonesia, pada hari itu terkonfirmasi 2 orang WNI terpapar covid-19. Dan sekarang pada saat artikel ini ditulis, jumlah kasus covid-19 di indonesia mencapai 989.262 ribu. Angka yang tinggi jika dilihat dalam skala angka, tapi jika kita gunakan persentase dengan skala jumlah penduduk indonesia yang terdata pada BPS (Badan Pusat Statistik) berjumlah 270,20 juta, dapat kita simpulkan bahwa kasus covid di indonesia bahkan tidak menyentuh 0,4% dari jumlah penduduk. Sebagai perbandingan jumlah penduduk Amerika Serikat yang terdata pada 23 Januari 2021 berjumlah 334.982.000 juta ini memiliki kasus covid-19 sebanyak 25,686,768 yang berarti persentasenya sebesar 7,8% dari total jumlah penduduk. Terdengar kasar, namun penulis disini hanya berusaha memaparkan fakta yang ada. Layak kah pemerintah dianggap berhasil dalam menangani krisis kesehatan ini

Pemerintah dengan sigap langsung mengeluarkan ultimatum berupa. Keputusan Presiden Republik Indonesia no 12 tahun 2020 yang menetapkan virus COVID-19 sebagai bencana non alami Lalu bagaimana dengan pelayanan kesehatan yang jelas jadi fokus utama dalam pencegahan dan pengendalian virus covid-19? Merujuk pada pada Pasal 82 Undang-Undang nomor 36 tahun 2009 mengenai kesehatan yang isinya mengatur mengenai berbagai pelayanan kesehatan pada saat bencana, disana tertulis bahwa berbagai instansi seperti Pemerintah,pemerintah daerah,dan masyarakat semua turut andil untuk bertanggung jawab mengenai ketersediaan sumber daya, fasilitas, dan pelaksanaan pelayanan kesehatan secara menyeluruh pada saat bencana

Berita Terkait  Kurangnya Kesadaran Masyarakat Dalam Tindak Pemalsuan Obat

Kebijakan pemerintah yang akan menjadi sorotan utama artikel ini adalah mengenai protokol kesehatan. Melihat sejauh ini jumlah kasus terpapar covid-19 belum juga menunjukan penurunan bukan berarti program pemerintah yang tidak berhasil dalam menangani pandemi, program program seperti karantina mandiri, lockdown, jaga jarak, pemakaian APD jelas berdampak terhadap penekanan angka terpapar covid-19 di Indonesia, sayangnya masyarakat tidak semuanya kooperatif terhadap kebijakan yang ada Saat ini dimana pandemi sedang ada di puncaknya, masyarakat semakin acuh dengan protokol kesehatan. saat seperti ini adalah waktu yang tepat bagi pemerintah bertindak koersif untuk masyarakatnya. Pemerintah harus tegas dalam menindak pelanggar protokol kesehatan

Pelanggar protokol kesehatan harus ditindak sesuai hukum, seperti yang tercantum pada Pasal 218 KUHP menyatakan, “Barangsiapa pada waktu rakyat datang berkerumun dengan sengaja tidak segera pergi setelah diberi perintah 3 kali oleh/atas nama yang berwenang, diancam karena ikut serta perkelompokan dengan pidana penjara paling lama 4 bulan 2 minggu atau dipidana denda Rp 9.000.000” Tercantum juga pada Pasal 93 yang berbunyi bahwa, “setiap orang yang tidak mematuhi/ dan/atau berusaha menghalangi pelaksanaan karantina kesehatan sehingga menyebabkan kedaruratan kesehatan masyarakat dapat dipidana paling lama 1 tahun dan/atau denda maksimal Rp 100 juta.” Karena ini bukan waktunya kita untuk bersikap acuh terhadap wabah COVID-19 yang belum menunjukan tanda akan berakhir

Berfokus pada penanganan pandemi, kali ini kita beralih terhadap polemik pengadaan vaksin di indonesia. pada awal kemunculan pandemi covid-19, semua pihak mengembangkan vaksin yang diharapkan dapat menangkal serta memutus rantai penyebaran virus. Kini diketahui terdapat beberapa jenis vaksin covid-19 telah hadir dianggap ‘mumpuni’ dan telah dipakai oleh berbagai negara untuk memulai program vaksinasi.

Berita Terkait  Mengefektifkan Komunikasi di Sektor Pariwisata: Menyelamatkan Tenaga Kerja dan Kekayaan Kehidupan Bangsa

Indonesia pun sudah memulai program vaksinasi covid-19 gratis sejak 13 Januari.seperti yang tertera pada Pasal 3 ayat ke-3 Peraturan Menteri Kesehatan No.84 tahun 2020 yang berupa “Pelaksanaan Vaksinasi COVID-19 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat

(2) tidak dipungut bayaran/gratis.” dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai orang pertama di indonesia yang mendapat suntikan pertama vaksin covid-19 yang dikembangkan oleh Sinovac.

Membahas soal efektifitas, bagaimana kalau dimulai dengan kelebihan dan kekurangan vaksin. Ketua Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI), Sri Rezeki S Hadinegoro memaparkan beberapa kelebihan dan kekurangan yang ada pada vaksin Sinovac yang digunakan dalam program vaksinasi COVID-19 di Indonesia. Ibu Sri berkata bahwa semua vaksin yang disuntikkan ke dalam tubuh manusia akan membuat kualitasnya akan menurun dalam konteks yang wajar dalam rapat kerja dengan DPR RI Komisi IX secara virtual.

Ibu Sri melanjutkan bahwa sebenarnya vaksin dengan menggunakan virus hidup jauh lebih baik untuk meningkatkan antibodi. “Sebetulnya vaksin yang bagus itu yang akan menetap, namanya vaksin hidup”,Tetapi setelah kita lihat COVID-19 ternyata begitu ganas dan sepertinya tidak mungkin kita membuat vaksin hidup. Nanti dampaknya semua bukannya sehat tapi tambah sakit. Sehingga kita beralih ke rekayasa lain” perihal Sinovac, Ibu Sri menjelaskan bahwa vaksin Sinovac menggunakan inactivated virus atau virus COVID-19 yang mati sehingga memiliki kelebihan tidak akan menimbulkan penyakit. Sementara ujar Bu Sri mengenai kekurangan a dari vaksin Sinovac ini karena dia menggunakan virus mati maka akan ditambahkan zat kimia yang berguna untuk merangsang antibodi. “Tapi kekurangan pada umumnya tidak akan tinggi, karena dia mati. Maka dia harus ditambah suatu zat kimia agar dapat merangsang antibodinya naik.”

Berita Terkait  Pengedaran Obat Tanpa Izin Edar Yang Dijual Secara Online di Indonesia

Berkaca kepada negara lain seperti contohnya Pemerintah Turki, selaku negara yang sedang melaksanakan vaksinasi COVID-19 menggunakan vaksin buatan china yaitu sinovac mengklaim bahwa efektifitas vaksin sinovac memiliki persentase yang cukup tinggi yaitu 91%. Dan lebih lagi laporan yang didapat bahwa vaksin tersebut tidak memiliki efek samping yang berarti, kabar yang cukup menggembirakan untuk kita karena seperti yang kita semua ketahui bahwa indonesia telah menjalin kerja sama untuk pemesanan vaksin sinovac yang jumlahnya tidak main main, 142 juta dosis berbentuk bahan baku yang akan dikirim secara bertahap dan ada juga beberapa vaksin lain yang jika ditotal jumlahnya melebih 600 juta

Secara Konstitusional PMK no 84 tahun 2020 mengatur segala hal dan aspek mengenai vaksin sampai pelaksanaan vaksinasi, salah satu bukti betapa cermatnya pemerintah bekerja, dalam kasus ini khususnya Kementerian kesehatan. Sebagai masyarakat madani, mari kita sambut dengan baik kerja keras pemerintah dengan bertindak kooperatif dalam upaya memutus mata rantai pandemi COVID

Melihat rekam jejak 10 bulan lalu, dari awal kemunculan kasus pertama COVID-19 di Indonesia pada tanggal 2 Maret 2020 sampai sekarang. Kita sudah melalui banyak hal, banyak yang telah dikorbankan demi kepentingan bersama. Pandemi ini menyadarkan kita terhadap pentingnya persatuan dalam menghadapi krisis. Tentu saja kita semua berharap agar pandemi segera berakhir, agar kita dapat segera menjalankan kehidupan sehari-hari seperti sedia kala

Sekali lagi, maksud penulis disini hanya sebagai pemaparan fakta serta opini yang tidak bermaksud menyerang berbagai pihak yang merasa dirugikan, mari bersatu menghadapi pandemi COVID-19. Saya selaku penulis percaya bahwa kita sudah sampai pada babak akhir krisis pandemi yang melukai semua jajaran kehidupan di Indonesia serta Dunia

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *