Pengawasan dan Tindak Penyalahgunaan Psikotropika

  • Bagikan

Oleh: Rahma Adiyaksa

Penelitian ini dilakukan dengan untuk mengetahui bagaimana ketentuan yang mengatur tekait dengan Psikotropika dan bagaimana sanksi pidana bagi pengedar, pemakai dan pemilik, pengguna menurut undang – undang yang berlaku di Indonesia. Banyak terjadi kasus penyalagunaan obat golongan Psikotropika yang didominankan oleh remaja hingga lanjut usia, dari umur 10 tahun sampai umur 59 tahun. Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Dengan tujuan agar kita tahu dan memahami isi di dalam undang – undang kesehatan No 5 Tahun 1997.

Masyarakat Indonesia bahkan masyarakat internasional pada umumnya, saat ini sedang dihadapkan pada keadaan yang sangat mengkhawatirkan akibat semakin maraknya pemakaian psikotropika secara tidak sah. Kekhawatiran ini semakin dipertajam akibat meluasnya peredaran gelap psikotropika yang telah merebak di segala lapisan masyarakat, dari kalangan elit hingga kalangan masyarakat bawah(1). Psikotropika adalah obat baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku(2). Psikotropika pada dasarnya sangat bermanfaat dan sangat diperlukan untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan ilmu pengetahuan, oleh karena itu ketersediaannya perlu dijamin(3). Akan tetapi fakta menunjukkan banyak terjadi penyalahgunaan psikotropika dalam masyarakat.

Hal ini ditegaskan dalam konsideran dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Menurut Pasal 59 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika ditegaskan bahwa : ” Barang siapa yang menggunakan, memproduksi, mengedarkan, mengimpor, memiliki, menyimpan, dan atau membawa psikotropika golongan I dipidana dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat ) tahun, paling lama 15 tahun dan pidana denda paling sedikit Rp.150.000.000,00 dan paling banyak Rp.750.000.000,00.”(3)

Berita Terkait  Peraturan Wajib Kawasan Tanpa Rokok Ditinjau Dari UU Kesehatan

Di Indonesia penyalahgunaan obat jenis psikotropika ini terjadi secara merata di semua lapisan masyarakat dari kalangan atas hingga anak jalanan terutama di kalangan remaja, pelajar dan mahasiswa. Penyalahgunaan dan peredaran gelap psikotropika dan narkotika saat ini jangkauan permasalahannya semakin rumit dengan ditemukannya beberapa fakta di masyarakat antara lain kecendrungan penyalahgunaan psikotropika pada usia tingkat pemula atau remaja(4).

Obat jenis ini mereka gunakan hanya semata mencari kesenangan atau ketenangan dari efek obat jenis Psikotropika ini. Lama-kelamaan pemakaian mulai ditingkatkan sehingga menyebabkan ketergantungan. Penyalahgunaan obat-obatan terlarang itu merupakan sumber dari kejahatan, artinya dengan mengkonsumsi secara berlebihan bahkan sampai kecanduan (sindroma ketergantungan) akan membuat pemakainya tidak sadarkan diri dan memungkinkan nekat melakukan kejahatan lain(4). Sehingga pemakaian psikotropika yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan dan dikenakan sanksi yang cukup berat di Indonesia.

Contoh kasus

Provinsi Jambi masuk peringkat 16 penggunaan narkoba di Indonesia. Peredaran narkobanya cukup menghawatirkan. Banyak anak usia produktif hingga usia lanjut sebagai pengguna narkoba. Dan Jambi terbidik sebagai target pasar yang potensial bagi para pengedar, hal ini dapat dilihat dengan perkiraan transaksi narkoba mencapai hingga lebih dari 8 miliar perbulan. Saat ini Provinsi Jambi sangat membutuhkan Rumah Sakit Ketergantungan Obat atau RSKO untuk penderita dan pemakai Narkotika dan psikotropika. Yang dapat diperkirakan mencapai sekitar 44.306 pemakai narkoba berusia antara 10 hingga 59 tahun. Dalam lima tahun terakhir dari tahun 2006 hingga 2010 penyalahgunaan obat golongan Psikotropika ini mengalami kenaikan yang cukup tajam.

Berdasarkan data yang ada BNN Kota Tanjung pinang terlihat jelas menunjukan bahwa korban/ pecandu yang mengkonsumsi amphetamine di Kota TanjungPinang berdasarkan umur didominasikan oleh usia yang tergolong masih sangat muda yakni dari usia 18 – 30 tahun. Berdasarkan data pekerjaan korban/ pecandu didominasikan oleh Pegawai swasta/ wirausahawan dengan usia yang meningkat dari tahun ke tahun. Hal iini menunjukan bahwa kaum muda lebih mudah terjerumus kedalam penyalahgunaan obat – obatan terlarang dan seorang pekerja swasta juga rentan terhadap penyalahgunaan obat – obatan terlarang jenis amphetamine tersebut(5)

Berita Terkait  Pengedaran Obat Tanpa Izin Edar Yang Dijual Secara Online di Indonesia

Saran

Diharapkan peran orang tua untuk lebih mengawasi dan membimbing anggota keluarganya, serta lebih meluangkan waktunya untuk selalu berada disisi anak-anaknya dalam kondisi apapun agar remaja tersebut tidak terjerumus mmelakukan hal – hal meniyimpang terutama melakukan menyalahgunaan narkoba.

Diharapkan pihak BNN lebih meningkatkan pengawasan dan menindak tegas para pelaku kejahatan narkoba yang dapat merusak generasi bangsa

Ketentuan pidana dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika sudah tidak ampuh lagi untuk mengatasi peredaran gelap dan penyalahgunaann psikotropika di Indonesia. Sanksi pidana dalam undang- undang tersebut tidak lagi memberikan efek jera terhadap para pelaku tindak pidana psikotropika di Indonesia.

Ketentuan pidana dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika sudah tidak ampuh lagi untuk mengatasi peredaran gelap dan penyalahgunaann psikotropika di Indonesia. Sanksi pidana dalam undang- undang tersebut tidak lagi memberikan efek jera terhadap para pelaku tindak pidana psikotropika di Indonesia

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *