JABODETABEK

Yusuf Asyari Gagas Komunitas Bantaran, Telusuri Jejak Tanah Lewat Literasi Sejarah

11
×

Yusuf Asyari Gagas Komunitas Bantaran, Telusuri Jejak Tanah Lewat Literasi Sejarah

Sebarkan artikel ini

INDONESIAUPDATE.ID – Menggali identitas budaya di wilayah yang berada di antara dua kebudayaan besar Jawa dan Sunda menjadi semangat tersendiri. Bagi Yusuf Asyari dan Komunitas Bantaran yang didirikannya, ada semangat untuk menghidupkan kembali literasi sejarah di kawasan Cirebon, Indramayu, hingga Majalengka.

Komunitas Bantaran hadir sebagai ruang dialektika bagi mereka yang ingin mengenal lebih dalam jati diri daerahnya.

Yusuf, seorang lulusan Aqidah Filsafat UIN Syekh Nurjati Cirebon, membangun wadah ini dengan keyakinan bahwa literasi adalah kunci untuk melestarikan warisan leluhur agar tidak tergerus zaman.

Bagi Yusuf, wilayah Ciayumajakuning memiliki karakteristik unik yang tidak bisa sepenuhnya dikategorikan sebagai Jawa maupun Sunda. Misalnya dari segi bahasa sendiri unik dengan Cirebonan.

Melalui Komunitas Bantaran, ia menekankan pentingnya penggalian potensi daerah melalui pendekatan literasi sejarah dan karya seni seperti puisi.

“Setiap daerah pasti memiliki sejarah. Harapan saya, kehadiran kami di sini bisa mengangkat kembali budaya-budaya lokal yang selama ini mungkin belum tersentuh atau mulai terlupakan,” ujar Yusuf.

Literasi di mata Komunitas Bantaran bukan sekadar aktivitas membaca, melainkan proses menggali filosofi hidup yang tertanam di tanah kelahiran.

Dengan memahami sejarah, masyarakat diharapkan mampu melihat potensi daerah mereka dengan kacamata yang lebih bangga dan kritis.

Langkah yang diambil Yusuf melalui Komunitas Bantaran saat ini fokus pada penguatan internal. Ia menyadari bahwa gerakan budaya membutuhkan napas panjang. Oleh karena itu, diskusi-diskusi rutin—baik secara daring maupun pertemuan fisik—menjadi agenda utama untuk menyamakan visi para penggeraknya.

Dalam ruang-ruang diskusi tersebut, isu-isu sejarah lokal dibedah, puisi-puisi tentang kegelisahan daerah dibacakan, dan strategi pelestarian budaya dirumuskan. Pertemuan-pertemuan ini menjadi fondasi kuat sebelum komunitas ini melangkah lebih jauh ke ranah publik yang lebih luas.

Berita Terkait  Ceceran Tanah di Jalan Sawangan, Wakil Wali Kota Depok Minta Pertanggungjawaban Kopelindo

Sebagai pendiri, Yusuf Asyari menempatkan dirinya sebagai fasilitator bagi anak muda daerah untuk mencintai akarnya. Baginya, Komunitas Bantaran adalah manifestasi dari rasa hormat terhadap sejarah.

Melalui pergerakan ini, Yusuf mengirimkan pesan kuat kepada pembaca: bahwa sejarah bukan hanya milik mereka, tapi milik setiap jengkal tanah yang kita pijak. Dengan mengangkat budaya lokal melalui literasi, Komunitas Bantaran sedang menuliskan kembali catatan sejarah yang sempat terserak di bantaran waktu.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *