Indonesia Terserah

  • Bagikan
Suryansyah, Sekjen Siwo PWI Pusat

Oleh: Suryansyah*

“Covid-19 sudah berakhir,” tulis seorang teman dalam pesan WhatsApp.

“Kok bisa, PSBB jilid 3 baru kemarin berlaku?” kata saya.

“Coba keluar rumah, lihat di jalan, orang banyak berkerumun. Kendaraan roda dua dan empat kembali penuhi jalan. Beberapa titik jadi krodit. Maka Covid-19 dinyatakan selesai,” tulis dia lagi lebih panjang.

Saya baru menyadari maksudnya. Ibarat main biliar, pesan itu seperti “bank shot”. Pukulan yang sengaja dipantulkan. Tujuannya untuk mencapai sasaran yang dikehendaki. Ironis!

Mungkin pernyataan itu kategori Majas Innuendo. Yakni majas yang bermaksud untuk mengecilkan keadaan yang sebenarnya. Di satu sisi, para medis berjuang menyelamatkan nyawa pasien Covid-19. Tapi, di sisi lain, masyarakat berkumpul di pusat keramaian tanpa pedulikan penyebaran virus corona.

Saya prihatin. Saya mencoba menggoda teman yang lima tahun kuliah di Technical University of Darmstadt, Jerman itu.

“Memahami perasaan teman tak semudah yang kita lihat. “Tetap semangat bro,” tulis saya di akun Twitter pribadi yang saya mention kepada Erick Mosberg, yang bersama saya liputan Piala Dunia 2006 di Jerman selama 40 hari.

Erick saat ini tinggal di Jakarta. Dia bekerja di sebuah perusahaan asing di Singapura. Tapi belum bisa terbang ke ‘Negeri Singa’ karena larangan penerbangan. Dia bekerja dari rumah.

Erick bingung melihat Jakarta. Masih banyak perusahaan yang nekat mewajibkan karyawannya masuk kantor. Hampir seluruh kelurahannya masuk zona merah. Di pemukiman yang padat, masyarakatnya banyak yang tak peduli.

Menurutnya berbeda dengan Singapura. Perusahaan meminta karyawannya bekerja dari rumah setelah langkah lockdown parsial berakhir pada 1 Juni 2020.

Sekitar 85 persen dari tenaga kerja Singapura saat ini bekerja dari rumah setelah kebijakan “circuit breaker” yang dilakukan pemerintah di tempat-tempat usaha dan sekolah pada April lalu untuk menekan laju kasus positif Covid-19.

Berita Terkait  BLM, Antara Politik dan Olahraga

Jakarta setali tiga uang dengan Depok, tempat saya tinggal. Banyak warga Depok yang bekerja di Jakarta. Suasananya tak jauh berbeda. Bahkan beberapa titik lebih parah.

Saya merasakan tak ada perbedaan siginifikan antara PSBB 1, 2, dan 3 di Depok. Kerumunan orang tak bisa dihindari. Malah lebih berani sekarang. Kendaraan roda dua maupun empat banyak wara-wiri. Tidak sedikit yang tanpa masker.

Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah kota Depok. Termasuk denda. Kerja sosial menyapu jalan sebagai sanksi moral bagi pelanggar PSBB. Tapi tetap saja tidak ‘nendang’. Anak milenial sekarang bilang: “nggak ngefek”.

Ketika penggunaan kereta commuterline diperketat, mereka keluar rumah dengan kendaraan pribadi. Check-point, tidak maksimal. Mungkin petugas sudah mulai lelah. Mereka sudah membaca kapan petugas berjaga, kapan istirahat.

Izin surat keterangan bebas Covid-19- syarat keluar rumah- bisa dibeli di lapak online. Dalam fotonya juga terdapat sebuah web yakni www.suratdokterindonesiaaa.blogspot.com.

Harganya cuma Rp 70 ribu. Murah! Tapi bisa mengelabui petugas di lapangan saat check point.

Anggota Komisi III DPR RI Nasir Djamil meminta pihak kepolisian turun tangan mengusut kasus jual beli suket tersebut. Jika dibiarkan bisnis gelap ini bisa berbahaya. Upaya keras pemerintah yang mengeluarkan triliunan rupiah bisa sia-sia. PSBB bakal ambyar.

Jangan heran jika Depok mampu menembus angka 400 lebih yang terkonfirmasi Covid 19. Yang meninggal di atas 20. Sedangkan pasien sembuh sekitar 100 lebih. Artinya penambahan kasus baru tak seimbang dengan tingkat pasien sembuh.

Lantas apa lagi?

Para medis tampaknya mulai lelah. Frustrasi dengan keadaan. Tagar “Indonesia Terserah” di media sosial jadi trending, Senin (18/5).

Video tenaga medis berseragam alat pelindung diri (APD) lengkap di dalam rumah sakit menjadi perbincangan. Mereka menuliskan kalimat “Indonesia Terserah” dalam video itu.

Berita Terkait  Emansipasi Melawan Pandemi Global

Tagar “Indonesia Terserah” populer dilontarkan sejumlah pihak. Mereka lelah melihat keadaan. Warga kini seolah tak lagi peduli dengan upaya pembatasan untuk menekan penyebaran virus corona.

Kekecewaan tim medis bisa dipahami. Mereka garda terdepan dalam penanganan Covid-19. Tenaga, waktu, dan pikiran mereka curahkan 24 jam di rumah sakit. Mereka menyadari risiko yang dihadapi. Nyawa taruhannya!

Saya sangat memahami kalau para dokter, tenaga medis dan relawan kesehatan mulai risau. Betapa sakit perasaan dan psikologis mereka.

Tidakkah masyarakat memahami risiko nyawa yang dihadapi? Sepatutnya masyarakat menyadari pentingnya physical distancing, rajin mencuci tangan, dan pemakaian masker.

Suka atau tidak kita patut berkaca dari Vietnam. Terlepas dari idiologi mereka: komunis. Satu nyawa sangat berharga. Vietnam berpenduduk 97 juta jiwa. Tercatat sekitar 300 kasus Covid-19. Tapi, nol (0) pasien meninggal. Padahal berbatasan dengan Cina, sumber virus corona.

Para ahli mengatakan, Vietnam bertindak sejak awal. Tidak seperti negara lain–termasuk Indonesia- yang jumlah infeksi dan pasien meninggal tercatat dalam jumlah besar.

“Ketika Anda berhadapan dengan pathogen baru. Tidak dikenal, dan berpotensi berbahaya, lebih baik Anda bereaksi secara berlebihan,” kata Dr. Todd Pollack dari Kerjasama untuk Kemajuan Kesehatan Vietnam dari Universitas Harvard di Hanoi.

Apa yang dilakukan Vietnam? Ini: membatasi perjalanan, memonitor situasi dari dekat. Pada akhirnya menutup perbatasan dengan Cina. Meningkatkan pemeriksaan kesehatan di perbatasan dan tempat-tempat rentan lainnya.

Intinya: Vietnam all out untuk menyelamatkan nyawa satu orang pun. Masyarakatnya pun menyadari bahayanya covid-19. Mereka tak ingin tertular atau menularkan. Patuh pada aturan yang ditetapkan.

Tapi, sulit bagi warga +62. Ketua DPP Partai Demokrat, Didik Mukrianto, menyoroti kebijakan pemerintah. Kadang mempermainkan kata-kata atau diksi yang membingungkan. Perilaku dan ucapan pemimpin kata Anggota Komisi III DPR RI akan menentukan perilaku masyarakatnya.

Berita Terkait  Pandemik Covid19 dan Narasi Mukjizat

Terakhir saya ingin bilang: “Orang bijak akan merasa malu jika kata-katanya lebih baik daripada tindakannya.” – Confucius.

Kebijaksanaan seseorang tak diukur dari seberapa banyak kata-kata bijak yang pernah diutarakannya. Semakin banyak yang diucapkannya, justru semakin besar pula tanggung jawabnya untuk menjalaninya sendiri.

Kalau hanya bisa mengucapkan tapi dirinya sendiri tak menjalani, jangan kaget kalau dicap hanya omongan belaka. Jangan kaget kalau PSBB berjilid-jilid pun hasinya akan sisa-sia.

Jangan sampai terulang tim medis berteriak: “Indonesia Terserah”!

*Analis Indonesian Politic and Policy Institute

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *